Senin, 25 April 2011

Breath (Korea.2008)


Director :
Kim Ki Duk
Cast :
Chen Chang – Jang Jin
Park Ji Ah – Yeon
Ha Jeong Woo – Yeon’s Husband     

Kim Ki Duk dikenal sebagai salah satu sutradara asal Korea Selatan yang memiliki sejumlah karya mengagumkan. Sebut saja The Isle (2000), Bad Guy (2001), Spring Summer Fall Winter and Spring (2003, 3 Iron (2004) dan Time (2007). Film-film ini telah melanglang buana pada banyak festival-festival film internasional dan mendapatkan apresiasi baik. Kim Ki Duk selalu menuangkan ciri khas unik yang membuat filmnya menjadi terasa begitu istimewa. Keberhasilannya ini membawa nama Kim Ki Duk selalu disandingkan dengan sutradara kawakan asia lainnya seperti Wong Kar Wai, Hou Hsio Hsien dan Zhang Yi Mou. Dalam Breath yang merupakan feature film ke 14nya ini Kim memberikan kembali sebuah kisah instalasi pertemuan dua karakter manusia yang berkutat dengan kesedihan dan kesendirian yang mendalam.

Yeon (Park Ji Ah) adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Fokusnya untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk suaminya (Ha Jeong Woo) dan anak semata wayangnya. Saat suaminya muncul dengan pengakuan perselingkuhan yang dilakukannya dan berjanji akan berubah menjadi lebih baik, Yeon justru menemukan keputusasaan dalam hidupnya. Hubungan dengan suaminya menjadi hambar dan semakin mengarah pada kebosanan dan keterpurukan. Sampai suatu hari Yeon menonton sebuah siaran televisi mengenai seorang narapidana yang bernama Jang Jin (Chen Chang). Jang melakukan percobaan bunuh diri untuk yang kesekian kalinya. Yeon justru berempati pada Jang karena dia juga pernah berencana melakukan bunuh diri. Yeon seperti merasakan kegalauan Jang. Yeon akhirnya memutuskan untuk menemui Jang di penjara.
Jang sedang menanti hari eksekusinya. Pria terlihat tidak lagi memiliki semangat hidup. Hidupnya seperti terseok-seok pada emosi yang tidak pernah dia ungkapkan. Kondisi itupun harus diperparah dengan tekanan secara seksual dari teman satu selnya. Kedatangan Yeon mengunjunginya memberikan hiburan bagi Jang. Yeon semakin sering berkunjung. Pada pertemuan demi pertemuan tersebut Yeon berkeluh kesah tentang segala yang dirisaukan. Jang lebih banyak diam menjadi pendengar yang baik. Pada setiap kunjungannya Yeon juga mendesain interior ruang kunjung penjara mengunakan macam-macam atribut dengan menyesuaikan musim saat itu. Merasa semakin mendapatkan penghibur yang selama ini tidak pernah diterimanya, Jang mulai selalu menantikan kedatangan Yeon.

Melalui pertemuan demi pertemuan juga kisah hidup Jang mulai terbuka, bagaimana dia bisa menjadi narapridana dengan hukuman mati, apa yang menyebabkan dia berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri. Yeon sendiri seperti merasakan sesuatu yang lebih berarti mengisi lembar baru hidupnya.

Ada beberapa hal dalam film ini yang dibiarkan tanpa ada penjelasan dan eksplorasi lebih. Bahkan terasa sekali Kim Ki Duk membiarkan nalar tidak bekerja seutuhnya untuk film ini. Dialog yang sangat minim justru menjadi kekuatan utama film ini karena berhasil menerjemahkan interaksi, ekpspresi dan gerakan pada bahasa yang lebih universal. Inilah kemasan terbaik film ini yang disajikan tanpa perlu dipahami, terserah penonton bagaimana mereka memberikan arti dan pemahaman untuk film ini.

Kim Ki Duk memikilih aktor asal China, Chen Chang yang terkenal dengan Crouching Tiger Hidden Dragon, The Go Master dan Eros untuk memerankan Jang. Keterbatasan bahasa justru menjadi keunikan film ini, karena tidak ada satupun dialog yang diucapkan Jang, hanya mengandalkan kekuatan ekspresi dan bahasa tubuhnya. Hal ini telah pernah dilakukan oleh Kim Ki Duk pada film sebelumnya yaitu 3 Iron. Pemilihan pemain berbeda bahasa kembali dilakukan pada filmnya karyanya setelah film ini yang berjudul Sad Dream, Kim Ki Duk memilih Joe Odagiri, aktor asal Jepang.

Film yang menjadi official selection Cannes Film Festival 2008 mengemas Cinta menjadi lambang kekuatan dalam kisahnya. Cinta diperlihatkan bisa datang kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja. Bahwa cinta adalah rasa paling utama untuk bisa memberikan komunikasi terbaik bahkan bagi dua orang yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Cinta dan kegalauan mecoba mencari nafas-nafas yang tepat. Nafas untuk menentukan jalan terbaik untuk hidup ini.




Film Indonesia pada berbagai Festival Film Internasional

Film-film bergenre Horor dengan sentuhan adegan-adegan vulgar masih menghiasi gedung-gedung bioskop kita sampai menjelang pertengahan 2011 ini. Sangat menyedihkan memang melihat deretan film dipajang di bioskop grup 21 dengan judul-judul yang semakin hari seperti melecehkan intelektualitas bangsa ini. Apa yang anda pikirkan saat mendengar judul Kuntilanak Kesurupan atau Pocong Ngesot? Sudah terlalu mengada-ada dan tidak masuk akal lagi bukan? Apakah mereka kehabisan ide atau memang sengaja melakukan itu, entahlah. Tetapi untungnya kita masih memiliki banyak pembuat film yang peduli dengan kemajuan industri ini secara positif. Kita punya Mira Lesmana, Riri Riza, Nia Dinata, Joko Anwar, dan masih banyak lagi, yang terus berusaha mencari, membuat dan memberikan film-film karya terbaik mereka. 

FFI yang mestinya menjadi barometer kualitas (berharap mengkatrol kuantitas film) justru selalu berakhir dengan kontroversi yang tak kunjung henti. Bahkan keakuratan penilaianpun diragukan karena banyak campur tangan pihak-pihak yang memilik kepentingan tertentu. Hanya tiga kali sejak diselenggarakan kembali, FFI mendapatkan apresiasi pembuat film lokal yaitu antara 2004 hingga 2006. Penghujung 2006 penetapan Ekskul sebagai film terbaik justru menimbulkan masalah pelik. Bagaimana tidak? Ekskul terbukti melakukan pelanggaran hak cipta untuk penata musiknya. Kelompok sineas muda Indonesia merasa dikhianati ini akhirnya mengembalikan piala Citra yang telah mereka raih. Para pembuat film yang tergabung dalam MFI (Masyarakat Film Indonesia) ini juga bersepatat untuk tidak lagi mendaftarkan film-film mereka ke FFI. Uniknya film-film tersebut justru sukses mendapatkan berbagai penghargaan dari festival-festival film internasional. Sebut saja dwilogi Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi karya Riri Riza. 

Kemenangan Uncle Boonme Who Can Recall His Past Lives (2010) karya pada Cannes 2010 sebagai film terbaik mestinya menjadi penyemangat buat film-maker kita untuk terus berkarya. Bagaimana tidak? Thailand yang secara budaya tidak terlalu jauh berbeda dengan kita berhasil mengukuhkan salah satu film dan sutradaranya pada sejarah film-film terbaik dunia. Tidak hanya Thailand, Philiphina yang industri filmnya tidak begitu menonjol justru telah terlebih dahulu mendapatkan perhatian Cannes dengan film Kinatay (2007) dan Serbis (2008) karya Briliante Mendoza. Cannes menjadi sorotan dan kebanggaan karena telah menjadi salah satu festival film paling tua dan solid di dunia. Tentu menjadi bagian Cannes merupakan kebanggaan tersendiri. Film Indonesia Daun di Atas Bantal (1998) dan Kara Anak Sebatang Pohon (2005) pernah menjadi bagian dari festival besar ini, meskipun belum untuk film yang berkompetisi atau official selection.

Belum menjadi bagian Cannes secara resmi tentu tidak mengurangi kebangggaan kita pada para pembuat film nasional. Masih banyak festival film internasional lain yang telah dengan nyata memberikan respon positif dan penghargaan pada banyak film nasional, yang memang secara resmi dikirimkan untuk berpartisipasi. 

Berikut ini saya merangkum prestasi-prestasi para pembuat film kita dari beberapa festival dan penghargaan film internasional kurang lebih10 tahun terakhir ini:

Madame X (2010) adalah debut penyutradaraan Lucky Kuswandi yang menjadi official selection pada Hongkong International Film Festival 2010 serta mendapatkan nominasi best production design untuk Eros Eflin dan best supporting actress untuk Shanty pada Asian Film Awards 2011.







Rumah Dara (2010) merupakan debut penyutradaraan Mo Brothers, film ini adalah versi panjang dari film pendek mereka sebelumnya Dara, yang menjadi bagian antologi Takut (2007). Shareefa Daanish yang memerankan Dara berhasil mendapatkan Best Actrees pada Puchon International Fantastic Film Festival (PiFan) 2009 di Korea Selatan.







Garuda di Dadaku (2009) hasil karya duet Salman Aristo dan Ifa Isfansyah yang diproduseri oleh Shanty Harmain diberikan penghargaan Best Film pada penyelenggaraan ke 6 Children and Youth Armenia International Film Festival 2010.








Sang Pemimpi (2008) yang merupakan sekuel Laskar Pelangi (2007) berhasil memboyong Audience Award dari Udine Far East Film Festival 2010 di Italia dan NETPAC Critics Jury Award dari Singapore International Film Festival 2010. Dan yang paling terbaru adalah berhasil meraih Premio Juvenile Award Fici Children Intenational Film Festival Madrid 2010.







Merantau (2009) menjadi Best Film ActionFest International Film Festival 2010? Sebuah penghargaan film aksi tahunan yang digelar di Asheville, North Carolina Amerika Serikat pada 15-18 April 2010. Merantau berhasil mengungguli kandidat lainnya seperti film silat Hong Kong yang dibintangi Donnie Yen, 14 Blades.







Jamila dan Sang Presiden (2009) karya Ratna Sarumpaet yang pernah dikirim untuk Academy Award Best Foreign Film 2009 menyabet dua penghargaan dalam Asian Film Festival Vesoul 2010 di Perancis. Dua penghargan itu yakni Prix de Public dan Prix Jury Lycen. Penghargaan lain adalah Best Original Score Asia Pacific Film Festival 2010 untuk Thoersi Argeswara.  






Perempuan Berkalung Surban (2009) karya Hanung Bramantyo menerima penghargaan Best Supporting Actress Asia Pacific Film Festival 2010 untuk aktris senior Widyawati








Pintu Terlarang (2009) karya terakhir Joko Anwar menjadi Best Film dalam Puchon International Fantastic Film Festival 2009 dan official selection Golden Kinnaree Award untuk Bangkok International Film Festival 2009. Bahkan pada tahun 2009 film ini menjadi salah satu dari 100 film terbaik dunia versi majalah “Sight and Soung” Inggris.





Tiga Doa Tiga Cinta (2008) karya perdana Nurman Hakim dinominasikan sebagai Best Children’s Feature Film pada Asia Pacific Screen Awards 2009. Meraih Grand Prize of International Jury pada Vesoul Festival of Asian Cinema 2009.







Laskar Pelangi (2007) adalah adaptasi dari novel berjudul sama oleh Riri Riza dan Mira Lesmana yang mendapatkan nominasi untuk 2 Kategori utama pada penyelenggaraan ke 3 Asian Film Awards yang digelar di Hongkong, yaitu Best Editing untuk Dono Waluyo dan Best Film. Untuk nominasi film terbaik Laskar Pelangi bersanding dengan Ponyo (Jepang), The Good the Bad the Weird (Korea Selatan), Tokyo Sonata (Jepang), Red Cliff (Hongkong) dan Forever Entralled (China). Laskar Pelangi juga mendapatkan Signis Award dalam Hongkong International Film Awards 2009. Penghargaan The Golden Butterfly Award untuk kategori film terbaik di International Festival of Films for Children and Young Adults, di Hamedan, Iran. Awal tahun 2010 lalu film ini kembali mendapatkan penghargaan, kali ini untuk Cut Mini sebagai Best Actress pada Brussels International Independent Film Festival. Dan yang paling terbaru adalah menjadi Best Film pada Asia Pacific Film Festival 2010.

The Blind Pig Who Wants to Fly (2008) adalah feature film perdana karya Edwin. Film yang di bintangi oleh Ladya Cheryl ini juga menjadi Official Selection dalam Pusan International Film Festival 2008, menjadi official selection Tiger Award Competition pada 2009 Rotterdam Film Festival dan mendapat penghargaan untuk Fipresci Prize, pada festival yang sama. Penghargaan Firepsci Prize kembali diraih film ini dari Singapore International Film Festival 2009, selain itu. Serta meraih Silver Montgolfiere dan Young Audience Award dari Nantes Three Continent Festival 2009.



Fiksi (2008) yang merupakan film feature perdananya Mouly Surya, memenangkan penghargaan Best Director dari Jakarta International Film Festival 2008 untuk Indonesia Feature Film Competition. Selain itu Fiksi juga diputar dibeberapa festival film international lainnya seperti di Pusan International Film Festival, NewYork Asian Film Festival.







The Photograph (2007) dibesut oleh sutradara wanita, Nan T. Achnas yang dibintangi oleh aktor senior Singapore Lim Khay Thong dan Shanty ini menyabet dua penghargaan pada penyelenggaraan ke 43 Karlovy Vary International Film Festival yang diselenggarakan tanggal 4-12 July 2008 di Karlovy Vary, Republik Ceko. The Photograph menyabet Special Jury Prize yang merupakan pemenang kedua dan penghargaan Ecumenical Jury Award di festival film paling bergengsi di Republik Ceko. Film The Photograph tersebut merupakan satu-satunya film dari Asia yang mendapat dua penghargaan sekaligus. 



Tiga Hari untuk Selamanya (2007) dari sutradara Riri Riza menerima Best Director dari Brussels International Independent Film Festival 2008.









Opera Jawa (2006) dari Sutradara Garin Nugroho memenangkan Best Original Score untuk Rahayu Supanggah pada penyelengaraan perdana Asian Film Awards 2007. Opera Jawa juga dinominasikan untuk Best Film yang bersaing dengan The Host (Korea), Love and Honor (Jepang), Exiled (Hongkong), Still Life (China) dan Curse of the Golden Flower (China). Nominasi Best Film dari Asia Pacific Screen Awards 2007. Menang Silver Screen Award Singapore International film Festival 2007. Serta juga menerima penghargaan Best Actress untuk Artika Sari Devi pada Brussels International Independent Film Festival 2008.



Denias Senandung di Atas Awan (2006) karya Jhon de Rantau berhasil menjadi yang terbaik untuk kategori Best Children’s Feature Film Asia Pacific Screen Awards 2007 serta meraih Best Film pada Indonesia Feature Film Competition Jakarta International Film Festival 2006.







Berbagi Suami (2006) yang didaftarkan untuk Academy Awards Best Foreign Film 2007, mendapat penghargaan Golden Orchid Award sebagai film terbaik pada  Hawaii International Film Festival 2006, mengalahkan film-film dari 47 negara yang berkompetisi. Sementara di Belgia pada Brussel International Independent Film Festival 2007, Nia Dinata dipredikatkan sebagai Best Director (Prix de la meilleure Réalisation).







Gie (2005) yang diangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran karya sutradara Riri Riza, mendapatkan Best Asian Feature Film pada Singapore International Film Festival 2006 dan Special Jury Award dari Asia Pacific Film Festival 2006

Janji Joni (2005) karya perdana Joko Anwar mendapatkan penghargaan Best Editing pada Asia Pacific Film Festival 2005









Banyu Biru (2005) dari sutradara Teddy Soeriaatmadja menerima Most Promosing New Actress untuk Dian Sastrowardoyo Asia Pacific Film Festival 2005.








Ungu Violet (2005) debut penyutradaraan Rako Prijanto menerima Best Supporting Actress untuk aktris senior, Rima Melati dan nominasi Best Actress untuk Dian Sastrowardoyo








Kara Anak Sebatang Pohon (2005) karya Edwin menjadi film pendek Indonesia pertama yang secara resmi diputar pada Cannes Film Festival 2005 untuk Director’s Fortnight








Rindu Kami Padamu (2004) karya Garin Nugroho meraih penghargaan Best Film Cinefan – Festival of Asian and Arab Cinema 2005.









Impian Kemarau (2004) karya sutradara Ravi Bharwani meraih penghargaan Asian New Talent Award pada Shanghai International Film Festival 2004. Film ini juga mendapatkan nominasi Best Film pada Pusan International Film Festival, Bangkok International Film Festival dan Vladuvostok International Film Festival. Selain itu juga menjadi Official Selection pada Rotterdam International Film Festival, Barcellona Asian Film Festival, Split International Festival of New Film, Zanzibar International Film Festival dan Cork International Film Festival.

Biola tak Berdawai (2003) yang merupakan debut Sekar Ayu Asmara menerima penghargaan Best Actress pada Asia Pacific Film Festival 2003. Tahun 2004 film ini dipilih untuk mewakili Indonesia untuk Academy Awards Best Foreign Film.







Ca Bau Kan (2002) adalah adaptasi dari novel berjudul sama karya Remy Silado yang juga merupakan debut penyutradaraan Nia Dinata. Nia meraih penghargaan Best New Director pada Asia Pacific Film Festival 2002. Film ini juga menerima penghargaan Best Art Direction untuk ? pada festival yang sama. 




Eliana-Eliana (2002) karya Riri Riza mendapatkan penghargaan Best New Director pada Singapore International Film Festival 2002, serta penghargaan Dragon & Tiger Awards pada Vancouver International Film Festival 2002. Jajang C. Noer yang berperan sebagai ibu dari Eliana menerima penghargaan Best Actress pada Cinemaya Festival of Asian Cinema 2002 di New Delhi, India. Sedangkan untuk duet akting cemerlang Rachel Maryam dan Jajang C. Noer juga menerima penghargaan Best Actress pada Daeuville International Film Festival 2003.



 

Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002) karya sutradara Garin Nugroho yang dibintangi aktris Lulu Tobing menerima penghargaan Netpac Award Berlin International Film Festival 2003


Pasir Berbisik (2001) yang merupakan karya kedua Nan T. Achnas setelah Kuldesak (199) menerima Most Promosing Director, Best Cinematography untuk Yadi Sugandi dan Best Sound untuk Phil Judd dan Hartanto dari Asia Pacific Film Festival 2001. Film ini juga menerima Netpac Award Special Mention pada Brisbane International Film Festival 2002, Fipresci Award pada Oslo Films from the South Festival 2002 dan Asian Trade Winds Special Jury pada Seattle International Film Festival 2002. Aktris Dian Sastrowardoyo yang berperan sebagai menerima penghargaan Best Actress pada Deauville Asian Film Festival 2002, di Perancis dan Singapore International Film Festival 2002, selain juga nominasi untuk Best Asian Feature pada festival yang sama. Film ini menjadi Official Selection pada Rotterdam Film Festival 2002.  

Puisi Tak Terkuburkan (2000) karya sutradara Garin Nugroho mendapatkan penghargaan Silver Leopard Locarno International Film Award 2000 dan Nominasi Silver Screen Award pada Singapore International Film Festival

Le Grand Voyage (France.2004)

Director:
Ismael Farreoukhi
Cast:
Nicolas Cazale – Reda
Mohamed Majd – Reda’s Father
Jacky Nercessian – Mustapha
Ghina Ognianova – La Ville Femme
Kamel Belghazi – Khalid
Atik Mohamed – Ahmad
Malika Mesrar El Hadaoui – La Mere
Francois Baroni – Le Douanier Italien

Le Grand Voyage atau dalam bahasa Inggris The Grand Journey adalah film pembuka penyelenggaraan Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2005. Film ini menjadi salah satu yang paling sukses meraih banyak penonton selama penyelenggaraan Jiffest. Bagaimana tidak? Cerita mengenai seorang ayah yang ingin naik haji tentu begitu dekat dengan budaya bangsa ini yang mayoritas muslim dan puluhan ribu warganya melakukan ibadah rukun islam ke 5 itu setiap tahunnya menuju Mekah, Saudi Arabia.

Reda (Nicolas Cazale) adalah seorang pemuda perancis pada umumnya. Terjebak pada kehidupan dan pola pikir liberal semakin menjauhkan Reda dari cikal bakal dan kultur aslinya. Reda terlahir dari ayah (Mohamed Majd) keturunan Maroko yang adalah seorang penganut islam taat. Ayahnya merasakan kegagalannya dalam mendidik Reda menjadi pribadi muslim yang taat. Hubungan Reda dan ayahnyapun terlihat hambar dan tanpa rasa yang baik. Tidak ada kedekatan bagaimana mestinya seorang anak laki-laki menjadi kebanggaan ayahnya. Hal ini terlihat ketika suatu hari ayahnya memutuskan naik haji dengan mengendarai mobil dan meminta Reda untuk mengantarkannya. Ayahnya bermaksud untuk memperbaiki hubungan dengan Reda, tetapi justru Reda berpikir bahwa apa yang direncanakan ayahnya tidak mungkin dan berlebihan. Penolakan yang dilakukannya tidak berbuah kegagalan rencana sang ayah. Reda bahkan hanya diberikan waktu 4 hari untuk bersiap-siap dan bahkan ayahnya telah mempersiapkan visa bagi Reda untuk keberangkatan mereka. Reda akhirnya tetap harus mengantarkan ayahnya naik Haji ke Mekah dengan mengendarai mobil.


Perjalanan mereka tidak berjalan mulus. Selain pertentangan diantara mereka, kejadian-kejadian unik dan menarik kerap kali mereka temukan, seperti misalnya bertemu dengan seorang wanita penumpang misterius, masalah dokumen perjalanan karena mereka melintasi banyak negara, bertemu dengan seorang penolong yang justru belakang mencuri uang mereka bahkan tersesat dan harus menghabiskan malam pada daerah bersalju minus 0 derjat. Jarak sekitar 5000 km yang mereka tempuh memberi banyak pengalaman berarti bagi mereka berdua. Perjalanan inilah kemudian yang membangun kembali hubungan Reda dengan Ayahnya. Perjalanan yang memberikan Reda arti hidup tak terlupakan sepanjang sisa hidupnya ke depan. Sebuah pengalaman yang akan merubah Reda untuk selamanya. Pertentangan demi pertengangan dengan pola pikir yang berbeda antara Reda yang berkultur barat dan Ayahnya yang religius menjadi kekuatan utama film ini. Pertemuan dua individu dalam dua budaya berbeda.

Dialog-dialog Reda dan Ayahnya berhasil dibangun dengan demikian kontrasnya sehingga membuat penonton tertawa sekaligus takjub. Sebuah dialog yang cukup berkesan mendalam adalah saat Reda mempertanyakan kenapa ayahnya lebih memilih naik mobil dari pada naik pesawat. Ayahnya berkata “When the waters of the ocean rise to the heavens, they lose their bitterness to become pure again...the ocean waters evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate become freah. That’s why its better to go on your pilgrimage on foot thab on horseback, better on horse back than by car, better by car than by boat, better by boat than by plane”. Dialog ini kira-kira bermakna bahwa melakukan ibadah akan mendapatkan pahala lebih bermakna dengan caranya yang paling sederhana.

Film ini syuting dengan melakukan perjalanan yang sama dengan cerita filmnya sendiri. Melintasi Perancis selatan, melalui Italia, Slovenia, Bosnia, Yugoslavia, Bulgaria, Turki, Syria, Yordania, dan berakhir di Mekah, Saudi Arabia. Syuting juga harus mengalami situasi yang sulit karena mengingat keadaan Bosnia yang tidak kondusif. Melintasi banyak negara membuat film ini memiliki sinematografi yang sangat indah dan megah. Gambar-gambar terekam dengan menakjubkan dan terlihat begitu nyata. Musik pengiring film yang menyegarkan berhasil menambah poin terbaik film ini. Mekah sebagai situs paling utama bagi umat muslim diperlihatkan dengan begitu agung.


Salah satu adegan yang sangat menyentuh dan takjub adalah ketika sang Ayah menyusul Reda pada sebuah bukit batu yang tinggi dan meminta Reda bantuan untuk yang terakhir kalinya. Sebuah film tentang perjalanan hati dan pikiran dua manusia dan mencoba untuk melihat pada lubuk hati paling dalam untuk menemukan apa yang mestinya dan sebenarnya dicari dalam hidup. Film yang jujur mengangkat latar belakang agama tanpa terbebani isu agama itu sendiri. Sangat inspiratif dan luar biasa.

Aktor muda pendatang baru Nicolas Cazale yang berperan sebagai Reda berhasil bermain baik, memperlihatkan seorang pemuda yang kehilangan identitasnya. Cazale berhasil mengimbangi akting cemerlang aktor senior Perancis keturunan Maroko Mohamed Majd yang bermain sebagai ayahnya. Kedua aktor ini berhasi menyajikan kekakuan hubungan ayah anak. Cazale menerima penghargaan sebagai aktor terbaik dari NewPort International Film Festival 2005 sedang Majd menerima gelar yang sama dari Mar del Plata Film Festival 2005 selain juga untuk film terbaik pada ajang penghargaan yang sama. Le Grand Voyave juga menerima penghargaan Luigi de Laurentis Awards pada Venice Film Festival 2004 serta mendapatkan nominasi film berbahasa asing terbaik pada BAFTA 2005.

Rabu, 20 April 2011

The Elite Squad II (Brasil.2010)

Director :
Jose Padilha
Screenplay:
Braulio Mantovani
Jose Padilha
Cast :
Wagner Moura – Beto
Maria Ribeiro – Rosane
Andre Ramiro – Andre
Milhem Cortaz – Fabio
Irandhir Santos – Fraga
Andre Mattos - Fortunato
Seu Jorge – Beurada
Taina Muller – Clara
Pedro Van-Held – Rafael

Empat tahun bagi Jose Padilha untuk menyiapkan sekuel film blockbuster Brasil 2007, The Elite Squad. Tidak hanya sukses di negaranya sendiri. Film ini juga sukses pada peredaran Internasional, mendapatkan banyak penghargaan dari festival dan penghargaan film bergengsi tingkat dunia. Dengan alasan-alasan ini mungkin Padilha tergoda untuk mengulang sukses dengan merilis film lanjutannya pada akhir 2010 lalu. Saat rilis 8 Oktober 2010 lalu film ini berhasil mendulang pendapatan sebesar BRL 13,900,000 dari 661 layar bioskop, menjadikannya sebagai salah satu film terlaris di Brasil sepanjang 2010.

Film mengambil jalan cerita 15 tahun setelah film pertama. Beto (Wagner Moura) telah menjadi pejabat BOPE dan masih berjuang melawan peredaran obat-obatan terlarang. Tetapi perjuangan Beto tidak lagi sama, tidak lagi hanya menghadapi dealer-dealer biasa. Kali ini perang Beto dan BOPE adalah menghadapi sindikat besar kepolisian, militer dan penjabat-pejabat negara, para politikus busuk yang justru memanfaatkan bisnis-bisnis tersebut dengan melegalkan segala macam cara untuk membuka peluang semakin kuat menduduki lembaga politik tertinggi Brazil.

Seperti dalam film pertama, kali ini kembali penonton dipandu dengan narasi dari Beto. Beto memperkenalkan Diogo Fraga (Irandhir Santos) yang sedang mepresentasikan bagaimana kondisi masyarakat Brasil tahun 2010 dan hubungan garis lurusnya dengan tindak kriminal dan penjara. Jika populasi Brasil tahun 2010 adalah 50 juta jiwa, maka pada tahun 2081 menjadi 570 juta jiwa. Jika populasi penghuni penjara Brasil pada tahun 2010 8 juta jiwa, makan pada tahun 2081 menjadi 510 juta jiwa. Jadi 90% penduduk Brasil pada tahun 2081 akan menjadi penghuni penjara. Hasil perkiraan statistik yang dipresentasikan Fraga ini bukan tanpa alasan. Kriminalitas yang setiap tahun meningkat dan tindakan penanggulangan dari Pemerintah yang tidak memperlihatkan keseriusan. Pemerintah begitu sibuk dengan urusan pribadinya, mereka sibuk memikirkan bagaimana bisa mempertahankan jabatan, bagaimana bisa mendapatkan posisi yang semakin aman di Pemerintahan. Sementara itu pihak yang berkewajiban menjadi pemberantas kejahatan  yaitu polisi justru malah menjadi pelakunya sendiri. 

Hubungan Beto dengan istrinya, Rosane (Maria Ribeiro) semakin tidak harmonis, mereka bercerai. Rosane ternyata memiliki hubungan khusus dengan Diogo Fraga. Anak Beto, Rafael (Pedro Van-Held) yang dalam film pertama dikisahkan baru lahir telah tumbuh menjadi seorang anak muda 15 tahun yang pendiam, terlihat begitu merindukan sosok ayah yang sebenarnya dari Beto. Keterlibatan Beto dan Fraga pada permasalahan pejabat dan politikus kotor dalam melegalkan bisnis senjata dan obat-obatan terlarang akhirnya justru menarik secara tidak langsung keterlibatan Rafael. Inilah kemudian yang berkembang menjadi sangat personal bagi Beto.


Ironi inilah yang kembali coba digali oleh Padilha. Pejabat pemerintah yang semestinya memberikan dukungan justru menduduki menara-menara tertinggi sistem kebobrokan  itu sendiri. Saat para pejabat petinggi terlibat tentu benturan-benturan birokrasi yang bertele-tele pada sistem pemerintahan menjadi rintangan besar. Premis film ini tidak jauh berbeda dari film pertama. Hanya kali ini masalah lebih difokuskan pada keterlibatan pada pejabat pemerintahan demi melancarkan bisnis kotor itu. Selain itu film ini melibatkan jurnalis. Polisi bersih, polisi kotor, pejabat licik dan jurnalis idealis menjadi polemik yang semakin kompleks untuk permasalahan serius ini. Inilah benturan-benturan kepentingan banyak pihak dalam mengendalikan sebuah situasi yang tentunya menjadi akan semakin buruk jika semakin banyak pihak yang terlibat di dalamnya.

Namun sayangnya Padilha tampaknya tidak terlalu ingin berlama-lama memperlihatkan kebrobrokan Pemerintahnya sendiri karena kemudian permasalahan yang muncul menjadi semakin personal untuk setiap karakternya. Semakin menuju akhirnya film ini menjadi tidak lagi memiliki esensi utamanya mengenai pemberantasan obat-obat terlarang dan pemerintahan busuk tetapi menjadi sederhana dengan dendam pribadi antar karakternya. Tidak ada lagi masalah politik, peredaran narkoba, hanya tersisa aksi balas dendam menyelamatkan anggota keluarga.

Meskipun mengambil premis cerita yang lebih berat dengan melibatkan pejabat Pemerintah, tetapi justru terasa hanya menjadikan hal itu sebagai latar belakang semata. Jalinan kisah terlalu dibuat rumit sehingga pada beberapa bagian terasa sekali kesenjangan plot. Masalah-masalah yang semakin bertumpuk kemudian mengambang begitu saja karena kemudian pada bagian penyelesaian fokus agak membaur dengan masalah pribadi dan tanpa adanya penyelesaian jelas untuk premis yang justru dari awal menjadi telah dihembuskan dengan baik.


Wagner Moura, Maria Ribeiro, Andre Ramiro dan Milhem Cortaz kembali memerankan karakter mereka pada film pertama, tidak ada sesuatu yang menonjol dari penampilannya. Mereka seperti terjebak tidak mampu mengembangkan karakter-karakter tersebut karena tidak mendapatkan porsi yang cukup, atau karena memang naskah film ini yang memberikan porsi tidak maksimal untuk karakternya. Bahkan Wagner Moura gagal memberikan penampilan terbaiknya seperti pada film pertama, meskipun ada beberapa adegan yang memberikannya porsi emosional yang tinggi tetapi tidak semaksimal dalam film pertama. Justru yang memberikan penampilan prima adalah Irandhir Santos sebagai Diogo Fraga.

Terlepas dari segala kekurangan film ini (dibandingkan dengan film pertama) film ini masih menyisakan ketegangan adegan-adegan baku hantam senjata pasukan elite BOPE dengan para penggedar dan bandar narkoba. Teknis film yang dikerjakan lebih sempurna dari film pertama karena secara sinematografi, editing, efek, sound dan make-up film ini semakin detail, rapi dan tereksekusi maksimal.

Pada Cinema Brasil Grand Prize 2011, The Elite Squad II mendapatkan kehormatan dengan 16 nominasi. Menjadi film pertama dalam 10 tahun perhelatan Oscarnya Brasil ini yang memperoleh nominasi terbanyak. Uniknya naskah film ini tetap dinominasikan untuk naskah asli terbaik, padahal semua karakter dan jalan ceritanya adalah adaptasi dari film pertama. Kita tunggu saja Mei 2011 ini, apakah film ini akan kembali mencatatkan kesuksesan kualitas seperti film pertamanya tahun 2008 lalu.

The Elite Squad (Brasil.2007)

Director:
Jose Padilha
Screenplay:
Andre Batista
Rodrigo Pimentel
John Kaylin
Braulio Mantovani
Jose Padilha
Cast :
Wagner Moura – Roberto Nascimento
Andre Ramiro – Andre Matias
Caio Junqueira – Neto
Fernanda Machado – Maria
Fabio Lago - Baiano
Milhem Cortaz – Fabio
Paulo Vilela - Edu
Maria Ribeiro – Rosane
Fernanda de Freitas – Roberta

Film ini meraih Golden Berlin Bear pada Berlin International Film Festival 2007. Menyingkirkan Happy Go Lucky, Lake Tahoe dan There Will be Blood yang cukup populer. The Elite Squad membayar kekalahan The Year My Parents Went on Vacation yang tahun sebelumnya juga menjadi Official Selection untuk festival yang sama. Realita yang terasa sangat nyata mungkin menjadi kesepakatan para juri Berlin Golden Lion memilihnya menjadi yang terbaik. Sutradaranya, Jose Padilha telah dikenal oleh publik Brasil dengan dokumenter Bus 174 (2001) yang sangat fenomenal karena diangkat dari kejadian nyata penyanderaan di dalam bis 174 pada 12 Juni 2000. The Elite Squad adalah feature film perdananya. Bekerja sama dengan banyak film-maker yang pernah menghasilkan City of God (2002) menjadikan The Elite Squad pada beberapa bagian memiliki nafas hampir sama dengan salah satu film terbaik yang pernah dibuat itu (versi IMDB peringkat 18 dari 250 film terbaik sepanjang masa).

BOPE adalah satuan pasukan khusus elite polisi Brasil yang didirikan untuk menangani kasus-kasus tertentu dan berat. Masalah perdagangan narkotika dan zat adiktif lainnya yang semakin merajalela di Rio de Janeiro serta masalah perdagangan senjata ilegal yang ternyata melibatkan pihak kepolisian Brasil menjadi fokus utama tugas pasukan ini. Selain juga menjadi pasukan keamanan khusus untuk para petinggi luar yang berkunjung ke Brasil, termasuk Paus. Tahun 1997, Paus di rencanakan melakukan kunjungan untuk yang ke 3 kalinya ke Brazil. 3 bulan sebelum kunjungan itu, Kapten Beto (Wagner Maura) harus menyiagakan pasukannya untuk mengamankan daerah-daerah tertentu yang akan menjadi lokasi kunjungan Paus.

Melalui narasi dari Beto, penonton digiring mengikuti dua plot tumpang tindih saling berhubungan. Plot pertama adalah mengikuti kisah hidup Beto menyusuri bagian-bagian gelap Rio de Janeiro bersama pasukan elitenya membasmi dan mengamankan kota dari ‘sampah-sampah’ masyarakat para dealer-dealer narkoba. Pahitnya adalah beberapa kali Beto harus menemukan banyak pelajar dan mahasiswa yang terlibat dengan bisnis kotor ini. Plot kedua adalah tentang Neto (Caio Junqueria) dan Andre (Andre Ramiro) pejabat polisi yang baru saja diangkat menjadi staf pimpinan tetapi merasakan adanya ketidaktulusan dan kebobrobkan mental dari banyak petugas polisi di sekitar mereka yang justru menjadikan jabatan mereka untuk mementingkan diri sendiri dengan menjadi ‘polisi kotor’. Tidak hanya menjadi dekingan untuk kelancaran peredaran narkoba, para polisi kotor ini juga menjadi pemasok senjata-senjata ilegal bagi para dealer-dealer pengedar narkoba.

Film ini secara personal mengikuti suara hati Beto. Dilema demi dilema mulai mengetuk nuraninya. Komitmennya pada pekerjaan membuat hubungan dengan Rosane (Maria Ribeiro), istrinya yang sedang hamil tidak berjalan baik. Ketika seorang ibu muda menemuinya dan meminta bertanggung jawaban Beto atas kematian anak laki-laki satunya yang masih di bawah umur karena Beto memanfaatkan sang anak untuk menjadi saksi, rasa bersalah semakin menguasainya. Beto memutuskan untuk mencari penggantinya. Disinilah kedua plot ini kemudian menjadi satu kesatuan. Ketertarikan Andre dan Neto pada pasukan khusus ini membuka kesempatan bagi Beto untuk segera menemukan pengantinya.

Seperti dalam City of God, film ini berusaha jujur mengangkat realita menjadikannya terlihat begitu nyata dan memang sedang terjadi hingga saat ini. Jika dalam City of God penonton disuguhkan bagaimana siklus peredaran narkoba dari sudut pandang pelaku bisnisnya, dalam film ini justru dari sudut pandang sebaliknya. Bagaimana keseriusan pemerintah Brasil mencoba untuk mencegah semakin merajalelanya bisnis yang semakin menghancurkan generasi di masa depan. Membentuk pasukan khusus elite yang sangat berkomitmen untuk menghentikan siklus narkoba tentu adalah langkah serius, justru menjadi ironi saat keseriusan itu dipecundangi dengan ulah para petugas polisi itu sendiri menjadi pihak yang membiarkan bisnis itu berjalan aman, menjadi pihak yang bertanggung jawab memberikan ‘keamanan’ untuk keberlangsungan bisnis itu dan bahkan membekali para pelaku bisnis dengan memperjualbelikan senjata yang dipasok justru untuk keamanan. Betapa menyedihkannya?

Film ini menjadi kelanjutan City of God. Sebagaimana kita ketahui pada akhir film itu, Polisi adalah pihak yang mempecundangi dealer itu sendiri. Pihak yang justru memanfaatkan situasi dengan mental yang sangat bobrok mendapatkan keuntungan secara finansial, memperkaya diri sendiri. Melalui The Elite Squad, Jose Padilha seperti menjadi kelanjutan tangan pemerintah Brasil, memperlihatkan bahwa masih banyak petugas kepolisian dan keamanan negara yang memiliki komitmen kuat dan bertanggung jawab besar untuk menyelamatkan generasi muda dari pengaruh tidak baik dan tidak berguna dari peredaran obat-obat terlarang.


Beto, Andre dan Neto menjadi sosok yang begitu berkomitmen dalam menjalankan tugasnya. Bahkan pada beberapa bagian terasa begitu berlebihan, tanpa ampun dan penuh dendam. Hal ini bukan tanpa alasan. Pembekalan pada saat pembentukan mental pasukan elite ini melatih mereka semua tanpa belas kasihan, tanpa ampun dan ditempa sedemikian rupa untuk menutupi rasa kasihan mereka. Seperti pada adegan salah satu dari mereka dibiarkan memegang bom yang siap meledak sementara harus mendengarkan petuah-petuah yang sangat membosankan. Pribadi yang dianggap lemah, tidak berkomitmen dan tidak mampu menunjukan mental baja diberikan pilihan, apakah akan terus mengikuti pembekalan atau kembali bertugas pada kesatuan menjadi polisi biasa.

Bagaimana buruknya sebuah lembaga kepolisian? Detail terlihat dalam film ini. bagaimana buruknya mental banyak petugas yang mestinya menjadi pelindung rakyatnya. Begitu gamblang dan bobrok terkisah gambaran dari kenyataan yang sebenarnya terjadi saat ini. Kenyataan yang memang menjadi momok bagi Brasil, bagi banyak negara di dunia dan tentu bagi Indonesia sendiri. Sering kali bukan kita mendengar kisah keterlibatan oknum polisi dengan berbagai tindak kriminal. Dan seperti sudah mendarah daging dari generasi ke generasi, tidak akan hilang dan tidak akan pernah bisa hilang.
 
Naskah film ini berhasil memberikan kisah-kisah transisi berbagai keribadian manusia. Menelanjangi detail kebobrokan lembaga kepolisian yang bahkan terasa tanpa ampun. Melugaskan kepada penonton bagaimana detail peredaran obat-obatan terlarang dengan begitu mudahnya sampai ditangan pengguna. Semuanya ditampilkan oleh naskah film ini dengan sempurna, tanpa terasa berlebihan dan dipaksakan. Naskah film ini mendapatkan nominasi naskah asli terbaik Cinema Brasil Grand Prize 2008, penghargaan film Brasil yang disetarakan dengan Acacemy Award.

Akting maksimal Wagner Moura sebagai Beto begitu menyakinkan. Salah satu adegan yang cukup memorable adalah ketika dia berkali-kali menampar wajah salah satu pengguna narkoba. Atas perannya dalam film ini, Moura diberikan penghargaan aktor teerbaik dari Cinema Brasil Grand Prize 2008. Berbicara mengenai tekhis film ini memberikan semua yang terbaik, sinematografi handheld yang bermaksud memberikan suguhan realita untuk penonton, editing dan sound yang digarap baik serta tentu musik penggiring yang berhasil menambah ketegangan film ini. Cinema Brasil Grand Prize 2008 juga memberika penghargaan untuk Sutradara terbaik bagi Jose Padilha, aktor pendukung terbaik untuk Milhem Cortaz, serta untuk sinematografi, editing, sound dan penata rias terbaik.

Yang cukup unik adalah The Elite Squad mendapatkan penghargaan Best Foreign Film Spanish Language dari Argentinean Film Critics Association Awards 2009, padahal tidak ada satupun dialog dalam film ini yang menggunakan bahasa Spanish, melainkan Portuguese.