Minggu, 19 Juni 2011

Bagaimana Sineas Amerika Latin menggambarkan hubungan Anak dan Orang Tua pada film-film Karya Mereka?


Benarkah orang tua berhak menentukan apa yang terbaik untuk anaknya? Apakah sebenarnya orang tua hanya menjadi panutan bagi anaknya untuk belajar menghadapi hidup? Apakah orang tua benar-benar “memiliki” hak terhadap anaknya? Bagi saya pribadi pertanyaan-pertanyaan semacam di atas menghasilkan beragam jawaban yang cukup menarik ketika menjadi wacana dengan orang tua sendiri dan beberapa teman diskusi. Tetapi mari kita melihat lebih dalam bagaimana penggambaran para orang tua pada kehidupan yang sebenarnya melalui refleksi karya-karya film Amerika Latin.  

Ketika akhirnya memutuskan untuk memiliki anak (menikah ataupun tidak) tentu mestinya orang tua sudah harus menentukan sikap. Tetapi tidak semua orang tua berhasil menemukan sikap-sikap “terbaik” untuk menghadapi hadirnya sang anak. Tuntutan untuk penerus keturunan, anak adalah atau selalu disebut titipan Tuhan yang harus dijaga dan dididik dengan baik, dan terasa itu seperti sebuah tugas mulia. Istilah titipan inilah kemudian yang banyak “disalah-artikan” oleh banyak orang tua dan anak. Inilah kemudian yang menjadi sumber keberagaman pendapat tentang hubungan orang tua dan anak. Bagi sebagian orang tua, anak adalah harta yang perlu dijaga, dirawat dengan baik, diberi pendidikan dan kehidupan yang layak dan diharapkan kemudian menjadi penjaga mereka dihari tua nanti. Oleh sebagian lagi yang mungkin cukup ekstrim karena adalah tipe orang tua yang tidak memiliki tanggung jawab sama sekali, bisa begitu saja meninggalkan anaknya dirawat oleh orang lain, tentu dengan berbagai kompromi yang mereka pilih (baik atau buruknya). Dan sebagian lagi dengan tindakan yang hampir sama dengan yang pertama tetapi anak dibebaskan untuk menentukan hidup dan mencari kebahagiannya sendiri saat dianggap sudah dewasa.

Ketiga tipe orang tua inilah yang coba untuk dikisahkan dalam film-film yang telah disebutkan pada judul ini. Brainstorm atau yang berjudul asli Bicho de Sete Cabecas, film Brasil produksi 2001 yang disutradarai oleh Lais Bodansky ini mengisahkan tentang bagaimana Wilson (Othon Bastos) berusaha memberikan yang terbaik untuk anak laki-laki satu-satunya Neto (Rodrigo Santoro). Neto digambarkan sebagai seorang anak muda remaja pada umumnya yang terjebak pada pola pikir bebas dan menganggap orang tua seperti musuh. Hal ini tentu tanpa alasan. Sikap Wilson yang begitu keras terhadapnya mengakibatkan Neto tidak pernah betah di rumah. Neto lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sebayanya yang tidak lebih dari sekedar hura-hura dan menjebak Neto pada dunia prostitusi. Meire (Cassia Kiss) ibu Neto tidak bisa melakukan apa-apa, dia terjebak dengan rasa sayangnya pada kedua laki-laki dalam hidupnya ini. Meire tidak mampu berbuat banyak ketika Wilson memutuskan untuk mengirim Neto pada sebuah rumah sakit ketergantungan obat. Wilson menemukan kebiasaan Neto menggunakan obat-obatan terlarang. Inilah kemudian yang menjadi titik balik dari hubungan Wilson dan Neto. Wilson merasa dia melakukan yang terbaik untuk kebaikan dan masa depan Neto. Neto merasa ayahnya adalah monster yang tidak peduli pada hidup dan penderitaannya. Saat Wilson memutuskan mengirim Neto ke rumah sakit, saat itulah dia membuka pintu untuk kehilangan anak laki-laki satu-satunya tersebut.

Ketika orang tua berpikir memberikan hal-hal yang terbaik untuk anaknya tentu sudah semestintya. Tetapi ada baiknya hal tersebut telah pemikiran panjang terlebih dahulu. Baik untuk anak, atau baik untuk diri sendiri? Disinilah mestinya orang tua mampu berpikir lebih kritis menghadapi anak. Bicara adalah hal paling bijak untuk dipilih. Memaksakan kehendak terhadap anak akan berakibat tidak baik. Banyak sekali fakta-fakta yang bisa dijadikan bukti. Ketika Wilson memaksakan kehendaknya pada Neto untuk menjalani proses kesembuhan pada rumah sakit tersebut tanpa terlebih dahulu mencari tahu kondisi kesehatan Neto yang sebenarnya menjadi langkah yang sangat keliru. Neto yang merasa dirinya tidak sakit melakukan berbagai usaha untuk melarikan diri. Semakin lama berada di tempat tersebut, kondisi mentalnya semakin tidak baik dan justru membentuknya menjadi pribadi yang tidak stabil karena perkembangan mental sangat  tertekan, apalagi kemudian treatment-treatment pengobatan yang dilakukan padanya dengan pemaksaan dan kekerasan atas dasar kesehatan. Disinilah kebencian Neto pada ayahnya semakin memuncak. Berkali-kali dia meminta pada Wilson untuk mengeluarkannya dari tempat itu, tetapi dengan berpatokan pada hasil diagnosa dokter, Neto masih dinyatakan tidak stabil, Wilson menolak keinginan Neto. Dengan begitu jelas film ini mengambarkan kesalahan keputusan yang diambil oleh Wilson terhadap anak laki-lakinya. Tidak akan ada kesembuhan dan perbaikan masa depan untuk Neto, karena mental semakin drop dan membawanya pada tingat kewarasan yang semakin rendah. Wilson yang berpikir memberikan yang terbaik untuk anaknya justru telah kehilangan Neto untuk selamanya.

Berbeda dengan Brainstorm, Quero (Brasil.2007) justru berkisah secara gamblang bagaimana anak-anak yang hidup tanpa orang tua. Film ini disutradarai oleh Carlos Cortez dan diadaptasi oleh Luis Bolognessi, Braulio Mantovani dan Cortez sendiri dari novel berjudul Quero A Damned Report karya Plinio Marcos. Quero (Maxwel Nascimento) adalah seorang remaja tanggung berusia menjelang 13 tahun. Tidak pernah mengenal siapa orang tuanya, dia hanya mendapatkan cerita yang tidak begitu jelas tentang itu. Dari bayi dia dibesarkan oleh Violeta (Angela Leal) seorang mucikari di sebuah rumah bordil. Dididik dengan keras dan tanpa kasih sayang membentuk Quero menjadi pribadi yang keras, pembangkang, cepat dewasa dan berani melakukan tindak-tindak kriminal ringan. Nasib membawanya terdampar pada sebuah lapas untuk anak-anak terlantar. Berharap mendapatkan kasih sayang dan penghidupan yang lebih baik, Quero justru harus menghadapi monster-monster baru yang memperkosanya secara fisik dan mental. Quero berhasil melarikan diri dan hidup dijalanan dengan tetap berusaha "mencari-cari" sosok ibu yang didambakan selama hidupnya. Kisah hidup Quero yang begitu pahit dan menyedihkan adalah akibat dari sikap orang tua yang tanpa pikir panjang memutuskan untuk memiliki anak tetapi kemudian tidak berani menerima tugas selanjutnya yaitu memberikan kasih sayang dan penghidupan yang layak untuk sang anak. Ibu Quero, Piedade (Maria Luisa Mendonca, yang kita kenal melalui Carandiru) adalah seorang perempuan penjaja seks. Melalui Violeta, Piadade mendapatkan banyak langganan dan tumpangan untuk hidup, sampai kemudian tanpa bisa dikontrol dia hamil tanpa tahu siapa ayah anaknya. Violeta berusaha untuk membuat Piadade mengugurkan kandungnya, tetapi dia memutuskan untuk melahirkan anak laki-lakinya yang kemudian dikenal sebagai Quero. Violeta meminta Piadade memberikan Quero pada panti asuhan supaya bisa kembali bekerja. Piadade menolak dan diusir oleh Violeta. Terjebak dengan keputusan yang dianggapnya salah, Piadade terlunta hidup dijalanan dengan Quero di dekapannya. Depresi tidak mengerti harus meneruskan hidup, Piadade mengantarkan Quero ke tangga rumah Violeta dan memutuskan mengakhiri hidupnya dengan menenggak kerosin. Inilah asal muasal nama Quero dari Kerosin.

Film ini menjadi contoh bagaimana beratnya hidup anak tanpa kasih sayang dari orang tuanya. Tidak semua orang yang dititipkan anak dengan ikhlas membesarkan anak yang bukan darah dagingnya sendiri.  Saat sebagian anak mendapatkan limpahan kasih sayang dari orang tuanya, anak-anak seperti ini harus berjuang untuk menemukan kasih sayang itu dan bahkan dijalanan. Apa yang bisa diharapkan dijalanan? Dengan segala keterbatasannya tentu anak-anak ini akan mudah bertemu dengan kekerasan, kejahatan atau mungkin bahkan kematian. Ada baiknya hal ini menjadi pemikiran dalam mengambil keputusan untuk memiliki anak. Tentu kita tidak ingin anak kita nanti berakhir perih dan sedih seperti hidup Quero yang tanpa kasih sayang orang tua.  

Bagaimana dengan tipe orang tua ketiga yang telah dipaparkan diatas? Tipe orang tua yang dengan penuh tanggung jawab membesarkan anaknya, berusaha memberikan yang terbaik dan membiarkan sang anak memilih dan menentukan hidup untuk kebahagiannya. XXY karya sutradara Lucia Puenzo dari Argentina memberikan sekelumit kisah tentang hal itu. Film ini mengambil tema kisah yang cukup sensitif. Alex (Ines Efron) terlihat seperti wanita remaja pada umumnya. Tetapi ternyata Alex sungguh istimewa, dalam usianya yang belum genap 20 tahun Alex harus menghadapi dilema tumbuh dengan dua kelamin/kelamin ganda. Dibesarkan sebagai anak perempuan, Alex justru semakin menunjukan sikap kelaki-lakiannya. Sang ibu Suli (Valeria Bertucelli) seperti sangat ingin memiliki anak perempuan tulen. Sedang ayahnya Kraken (Ricardo Darin) yang bekerja sebagai seorang Biologis lebih terlihat cuek dan santai, meskipun pada perkembangannya Kraken juga tampak dilema menghadapi anak gadis/laki-lakinya ini.

Tanpa diskusi yang panjang dengan Kraken, Suli memutuskan untuk meminta bantuan Ramiro (German Palacios) koleganya untuk datang dan memperkenalkannya pada Alex. Dengan maksud membentuk hubungan sedemikian rupa antara Alex dan Ramiro. Ramiro yang adalah seorang dokter bedah alat kelamin. Kraken tidak terlihat menantang keinginan sang istri. Hingga tanpa sengaja Kraken melihat hubungan badan antara Alex dengan Alvaro (Martin Piroyansky) anak laki-laki Ramiro yang ikut serta dengannya. Dilema buat Kraken kemudian adalah karena dia melihat Alex justru berperan sebagai laki-laki dalam hubungan badan tersebut. Kondisi ini tentu diperparah dengan hadirnya Ramiro yang secara psikologis sedang melakukan pendekatan psikologis sebelum proses operasi alat kelamin laki-laki Alex. Sampai kemudian sebuah tragedi pelecehan yang dilakukan oleh beberapa nelayan yang penasaran dengan rumour mengenai Alex, menjadi titik bagi Kraken menentukan sikap terhadap anaknya. Tidak ingin perkembangan fisik dan mental anaknya terganggu Kraken memutuskan untuk segera mengambil tindakan.
Kraken ditampilkan sebagai sosok orang tua yang bijak. Dilema berat yang dihadapinya tidak menjadi beban untuk kedekatannya dengan Alex. Kraken mencoba mendekati Alex semakin dalam dan dalam untuk lebih bisa memahami apa sebenarnya yang diinginkan anaknya. Tidak ingin mengambil keputusan terburu-buru mengikuti keinginan istrinya menentukan jalan hidup Alex sebagai perempuan, Kraken perlahan mulai memahami dunia anaknya. Kraken memutuskan untuk membiarkan Alex menentukan dan memilih jalan hidupnya sendiri, sampai dia yakin apa yang akan dipilihnya nanti. Keputusan tersebut sangat bijak karena dengan membiarkan Alex pada pilihannya tentu akan membebaskan Kraken dari rasa bersalah dikemudian hari jika dia yang menentukan Alex tumbuh sebagai perempuan atau laki-laki seperti yang diinginkan Suli.

XXY menjadi salah satu film terbaik bagaimana mestinya orang tua bersikap terhadap anak. Film yang rilis 2007 ini memberikan suguhan bijak hubungan orang tua dan anak dengan masalah yang cukup pelik dan sensitif. Masalah tersebut justru kemudian membimbing orang tua dan anak pada tahap saling memahami satu sama lain. Tidak ada paksaan bagi anak untuk menjalankan apa yang semestinya menurut orang tua adalah sesuatu yang harus dilakukan. Yang ada hanyalah fase dari sisi-sisi pemahaman pikiran masing-masing dengan pendekatan demi pendekatan untuk memberikan keputusan yang benar-benar terbaik untuk masa depan sang anak.
Kisah-kisah dari film di atas diharapkan bisa menjadi panutan. Tentu semua orang tua selalu ingin yang terbaik terhadap anaknya. Pastikan hal “terbaik” itu adalah hal yang benar-benar diinginkan oleh anak. Menjaga kasih sayang, menerima kehadiran anak dengan sukacita, memberikan pendidikan dan pemahaman akan kehidupan dan yang paling utama sekali adalah menjaga komunikasi dengan anak untuk membantu memahami satu sama lain. Dari sebuah film Brasil produksi 2003, The Middle of the World, karakter Ramao, sang ayah berkata “A Son must respect his parents, but parents dont own their children. A Mother gives life, but she doesn’t own her children”

Keputusan untuk memiliki anak tentu adalah hal yang mulia. Karena kita berani menerima tugas mulia menerima titipan Tuhan. Dan hadirnya sebuah keluarga yang baik menjadi penting bagi tumbuh kembang anak. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan individu. Sejak kecil anak mestinya tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga. Dalam hal ini peranan orang tua menjadi amat sentral dan sangat besar pengaruhnya bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara langsung dan tidak langsung. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar