Minggu, 05 Juni 2011

Mutum (Brasil.2007)


Director: Sandra Kogut
Screenplay : Sandra Kogut & Ana Luiza Martins
Novel : J. Guimaraes Rosa (Campo Geral)
Cast :
Thiago da Silva Mariz – Thiago
Joao Miguel – Father
Izadora Fernandes – Mother
Wallison Felipe Barroso – Felipe
Romulo Braga – Tio

J. Guimaraes Rosa adalah salah satu dari sekian banyak penulis asal Brasil yang novelnya banyak diadaptasi menjadi karya visual film dan televisi. Novel Campo Geral adalah novel terakhirnya diadaptasi menjadi film oleh Sandra Kogut yang memilih mengunakan judul Mutum. Jika City of God (2002), Quero (2007) dan Pixote (1981) adalah kisah berlatar psikologi anak-anak Brasil yang hidup di kota besar. Maka Mutum memfokuskan cerita pada kisah yang tidak jauh berbeda tetapi mengambil latar belakang pedesaan pedalaman Brasil, tepatnya Minas Gerais. Tema yang diangkat selain sama dengan ketiga film di atas juga berfokus pada hubungan ayah dengan anak laki-lakinya, hampir sama dengan Behind the Sun (2002).

Kisah dibuka dengan kedatangan Thiago (Thiago da Silva Mariz) usia 9 tahun, seorang anak sensitif, terlihat begitu tenang yang tinggal bersama keluarganya di sebuah pedesaan terisolasi di Minas Gerais (Brazil Tenggara). Hidup keseharian Thiago dan saudara-saudaranya hanya dengan kebahagiaan yang sederhana. Menertawakan burung beo nya, memandikan anjingnya yang bernama Rebecca dan bermain dengan saudara-saudaranya. Sebagai anak laki-laki pertama di rumahnya Thiago telah merasa bertanggung jawab untuk melindungi saudara-saudarinya dan bahkan ibunya (Izadora Fernandes). Ayahnya (Joao Miguel) adalah seorang pekerja ladang yang giat tetapi begitu keras terhadap Thiago dan keluarganya. Bahkan dengan usia yang baru 9 tahun ayahnya telah menuntut Thiago untuk bekerja membantunya di ladang, meskipun dia terlihat begitu rapuh dan ringkih, Thiago memaksakan diri untuk membuktikan dia mampu melakukan pekerjaan seorang pria. Serangkaian kejadian hubungan antara ayah dan ibunya yang tidak begitu dipahaminya menjadikan Thiago pribadi yang suka merenung dan selalu merasa terancam oleh sifat temperamental ayahnya. Begitu sulit bagi Thiago untuk bisa paham dan mengerti pemikiran orang dewasa di sekitarnya, bahkan kedekatannya dengan sang paman (Romulo Braga) tidak memberikan jawaban karena disisi lain dia merasakan sang paman adalah perusak hubungan ayah dan ibunya. Sampai kemudian mendadak Felipe (Wallison Felipe Barroso) adik laki-lakinya jatuh sakit dengan kondisi yang semakin parah dan kesedihan semakin mengisi ruang kehidupan keluarga kecil terisolasi ini.

Mutum adalah debut feature film Sandra Kogut yang lebih terkenal sebagai sutradara film-film dokumenter. Tidak salah memang jika film ini terasa begitu ‘dokumenter’ pada hampir semua bagian. Beberapa adegan yang cukup memberikan kesan mendalam adalah dialog-dialog menarik tentang kehidupan dari sudut pandang Thiago dan Felipe yang kerap kali terjadi menjelang malam mereka tidur. Adegan lain yang cukup menyesakkan adalah ketika Thiago harus menerima kenyataan Rebecca, anjing kesayangannya diambil dan dihilangkan begitu saja oleh Ayahnya tanpa bisa meminta penjelasan. 

Meskipun penulis belum pernah membaca novel dari film ini, tetap dapat diperhatikan bahwa pilar-pilar utama Novel J. Guimaraes Rosa yang berjudul Campo Geral diterjemahkan dengan sangat detail oleh Sandra Kogut, karena film ini tereksekusi dengan baik. Kogut melakukan beberapa perubahan mendasar, tanpa merusak keutuhan tema, cerita dan premis novelnya sendiri. Seperti misalnya menganti nama-nama karakternya menyesuaikan dengan pemain yang telah dipilihnya. Karakter utama kisah ini yang bernama Miguilim diganti menjadi Thiago, yang diambil dari nama asli pemainnya. Hal ini bermaksud untuk membantu pembangunan karakter terhadap Thiago sendiri, dengan menggunakan nama aslinya tentu Thiago dengan lebih mudah untuk diarahkan. Hal tersebut juga terjadi untuk beberapa karakter lainnya. Selain itu karena hampir semua pemain yang terlibat dalam film ini bukanlah aktor profesional, sehingga keputusan untuk menggunakan nama asli mereka sebagai nama karakter membantu untuk menciptakan karakter yang memang tidak jauh berbeda dengan kehidupan asli anak-anak yang berasal dari daerah lokasi pembuatan film. Hanya Joao Miguel dan Romulo Braga yang tercatat sebagai aktor profesional.

Skenario adaptasi film ini menggunakan dialog seminimal mungkin. Tidak banyak percakapan yang hadir. Filosofis tentang kehidupan, kesedihan dan kematian dihadirkan dengan terjemahan visual dan kekuatan ekspresi untuk membentuk atmosfer sepi dan sunyi. Gambar dan suara yang begitu jelas menjadi seperti sebuah karya impresionis yang berhasil membuat kita merasakan debu, panas, mencium aroma hujan, dan merasakan langsung semua yang terjadi dalam film. Meskipun pada beberapa bagian terasa begitu lambat. Plot-plot cerita yang dihadirkan memaksa penonton untuk menyimak film ini seperti sebuah dokumenter keseharian kisah kehidupan Thiago. Sebuah dokumenter dengan dramatisasi yang telah disesuaikan. Satu hal lagi yang semakin menciptakan kesan sepi buat film adalah tidak adanya musik penggiring yang biasanya membantu memberikan emosi pada penonton. Sinematografi yang dihadirkan Mauro Pinheiro juga terlihat begitu tenang, sunyi dengan gambar-gambar landscape pedesaan Brasil memotret perasaan, kehidupan dan kesedihan yang terekam apa adanya.

Film ini menghadirkan bentuk lain dari kehidupan anak-anak Brasil yang kurang beruntung tanpa bisa banyak menuntut dan harus kompromi menerima kenyataan dihadapannya. Tanpa bisa banyak meminta hal-hal yang diinginkan, tanpa bisa menerima kasih sayang yang seutuhnya bahkan dengan keluarga disisinya. Sebuah ‘happy ending’ memang dihadirkan untuk hidup Thiago, tetapi apakah hidupnya akan menjadi lebih ‘happy’ setelah melalui masa kanak-kanak yang berat.

Film ini menerima Deutsches Kinderhilfswerk - Special Mention dari Berlin International Film Festival 2008. Menerima Dioraphte Award dari Rotterdam International Film Festival 2008. Film terbaik dari Rio de Janeiro International Film Festival 2008 dan banyak penghargaan dari beberapa awards film di Brasil. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar