Tampilkan postingan dengan label Park Chan Wook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Park Chan Wook. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juni 2011

Sympathy for Lady Vengeance (Korea.2005)


Director : Park Chan Wook
Screenplay : Park Chan Wook, Jeong Seo Gyeong
Cast:
Lee Young Ae – Lee Gum Ja
Choi Min Sik – Mr. Baek
Kim Si Hoo – Geun Shik
Kim Byeong Ok – Preacher
Nam Il Woo – Detectice Choi
Oh Dal Su – Mr. Chang
Lee Seung Sin – Park Yi Jeong
Kwon Yea Young - Jenny

Sympathy for Lady Vengeance melengkapi trilogy revenge yang dipersembahkan oleh Park Chan Wook. Film yang berjudul asli Chinjeolhan geumjassi ini berhasil memberikan semacam orgasme bagi penonton yang menunggu dua tahun sejak Oldboy, film keduanya rilis tahun 2003. Kepuasan yang didapat dari menonton film adalah penyempurnaan aksi sadis dan mencekam Chan Wook yang kali ini memanfaatkan perempuan sebagai tokoh yang membalaskan dendam tanpa ampun. Kepuasan dengan detail cerita, akting, teknis yang saling mendukung dengan hasil sangat maksimal. Meskipun berdiri sendiri, film ini tentu mendapatkan perbandingan dengan kedua film sebelumnya. Sympathy for Lady Vengeance berhasil mendekati “kegilaan” Oldboy meskipun secara penyutradaraan dan naskah, Oldboy terasa lebih sempurna dan maksimal. 

Jika Sympathy for Mr. Vengeance dan Oldboy lebih terfokus pada 3 karakter utamanya. Maka dalam film ini kita diperkenalkan pada belasan karakter yang membantu usaha balas dendam yang akan dilakukan oleh Lee Gum Ja (yang dimainkan dengan sempurna oleh Lee Young Ae). Lee Gum Ja ditampilkan dengan berbagai macam karakter dan pribadi mewakili masa dimana dia harus menghadapi hidupnya yang pahit. Kita akan melihat Lee Gum Ja yang bak seorang malaikat ketika menghabiskan masa-masa hidupnya di penjara. Kita juga akan melihat sosok Lee Gum Ja yang dingin, tanpa hati, penuh kebencian ketika dia mulai merencanakan untuk membalaskan dendam saat keluar dari penjara. Kita juga akan melihat bagaimana Lee Gum Ja yang sangat lugu, hamil luar nikah dan  tidak bisa berbuat apa-apa saat harus menerima hukuman atas tuduhan pembunuhan anak-anak. Terakhir kita juga akan melihat Lee Gum Ja berusaha menjadi ibu dengan limpahan kasih sayang untuk anaknya yang selama ini diadopsi dan tinggal di Australia. Karakter-karakter Lee Gum Ja yang beragam inilah yang menjadi pengait dari kisah kisah bagaimana awal hidupnya hingga harus terjebak 13 tahun dalam penjara dan menyusun rencana dengan sempurna untuk membalaskan dendam pada Mr. Baek (Choi Min Sik).

Lee Gum Ja menghabiskan waktu 13 tahun atas tuduhan kejahatan yang tidak pernah dilakukannya. Sangat berat baginya menghabiskan masa 13 tahun di lapas perempuan yang penuh berbagai karakter kriminal wanita dengan berbagai macam tindak tanduk yang unik dan aneh. Lee Gum Ja menjadikan dirinya sosok yang begitu dicintai semua orang. Bahkan untuk menolong salah satu rekan sel-nya, Gum Ja dengan "tangan dingin" membunuh salah satu narapidana yang memang menjadi momok bagi lainnya. Hari dimana dia dibebaskan menjadi hari yang membuatnya berikrar akan membalaskan masa-masa kelam hidupnya dipenjara. Hari yang menjadi pembuka baginya untuk kembali mengumpulkan puing-puing berserakan dari masa lalunya untuk diperbaiki. Dengan cara seperti apa? Dengan cara yang tidak biasa. Sangat tidak biasa.

Perlahan Lee Gum Ja berhasil memasuki kehidupan Mr. Baek, seorang guru TK yang sebenarnya melakukan tindak pembunuhan belasan anak usia belia yang dituduhkan padanya.
Bagaimana sempurnanya aksi balas dendam ini? Gum Ja mengumpulkan bukti-bukti bahwa dirinya tidak bersalah. Mendatangi semua orang tua dari anak-anak yang telah dibunuh dan menyakinkan semua orang tua tersebut untuk memberikan pembalasan yang setimpal pada Mr. Baek. Tidak mudah memang untuk mengumpulkan para orang tua yang masih terpukul atas terbunuhnya anak mereka, meskipun telah 13 tahun berlalu. Tentu banyak penolakan-penolakan dari mereka, namun didasari atas amarah yang masih mereka miliki, Gum Ja berhasil menyakinkan para orang tua ini. Dengan bantuan teman-temannya selama berada di penjara, Gum Ja mulai menjalankan aksi balas dendam ini. Bukan hanya dendamnya, tetapi dengam belasan orang tua yang telah kehilangan “malaikat” kecil mereka.

Sementara memulai aksi balas dendamnya, Gum Ja mencoba untuk kembali mencari “rasa” untuk menjadi seorang ibu. Gum yang pada masa lalunya pernah melahirkan seorang anak perempuan yang kala itu tidak bisa dirawatnya karena masih sekolah. Jenny (Kwon Yea Young) diadopsi oleh sebuah keluarga di Australia. Gum Ja mendatangi keluarga angkat Jenny dan melakukan pendekatan pada mereka untuk bisa kembali dekat dengan Jenny dan membawanya pulang ke Korea. Bersama Jenny, Gum Ja menjadi pribadi yang lain, seorang ibu yang ternyata belum begitu siap menghadapi segala macam pertanyaan tentang ketidakhadirannya selama 13 tahun lebih usia Jenny. Kedekatannya dengan Jenny seperti memberi sebuah oase bagi hidupnya yang penuh dendam dan amarah.  

Dengan menggunakan alur maju mundur, naskah buatan Park Chan Wook dan Jeong Seo Gyeong perlahan membuka satu persatu jalan hidup pahit Lee Gum Ja. Dengan rapi plot utama film dan sub-plot saling berkaitan menuturkan kisah demi kisah dengan berkali-kali memutar cerita kembali ke masa lalu dan masa sekarang. Kecermatan penyusunan naskah menjadi nilai lebih untuk film ini. Twist demi twist hadir semakin banyak dan semakin pahit menjelang film berakhir. Adegan ke adegan terhubung dengan hubungan sebab akibat yang jelas. Tidak ada satupun adegan yang kosong dan tidak perlu, karena keterkaitan yang nyaris tanpa celah. Editing membantu memberikan koneksi-koneksi menarik antara adegan satu dengan lainnya.

Film ini mencampurkan drama, thriller, slasher dan fantasi dengan sangat baik. Pada beberapa scene terasa akan sangat mencekam karena adegan-adegan yang begitu miris. Seperti ketika film memasuki paruh terakhir saat setiap orang tua memutuskan untuk membabi buta secara bergantian menyiksa Mr. Baek. Pada beberapa adegan kita akan dibuat haru dan tersentuh dengan bagaimana Gum Ja mengorbankan hidupnya demi kejahatan yang tidak pernah dilakukannya, salah satunya adalah adegan dia memotong jari kelingkingnya. Pada bagian lain kita akan masuk pada fantasi-fantasi Gum Ja membunuh Mr. Baek. Rangkaian berbagai macam genre di dalamnya tidak membuat film kedodoran, justru sebaliknya, alur dan cerita film menjadi semakin menarik hingga membawa kita pada ujung kisah yang semakin kelam, sadis dan perih.

Sosok Lee Gum Ja berhasil mendapatkan simpati yang sangat besar dari penonton. Sesuai dengan premis film ini tentunya. Tidak peduli bagaimana cara Gum Ja untuk melakukan segala macam rencana dan tindakannya, penonton dari awal dibuat telah berpihak padanya. Bahkan saat Gum Ja memilih cara menghakimi Mr. Baek dengan sadis, penonton "bersorak girang" menanti siksaan demi siksaan yang akan dihadapi Mr. Baek. Chan Wook berhasil memberikan sebuah pemahaman tentang dunia dendam yang begitu dalam bagi Gum Ja pada penonton. Bahkan ketika bertumpu pada pikiran sehat akan terasa sangat berlebihan jika kita melihat tindakan-tindakan Gum Ja dalam membalaskan dendamnya. Tetapi kemudian semua dipatahkan oleh Chan Wook. Dia menciptakan sebuah pemikiran baru tentang dendam yang pahit dan perih akan sangat lumrah jika dibalaskan dengan cara yang membabi-buta tanpa ampun.

Park Chan Wook mengambil teori hukum rimba. Kejahatan dibayar dengan kejahatan. Kesakitan dibayar dengan kesakitan. Pembunuhan dibayar dengan pembunuhan. Tidak ada baris-baris kalimat undang-undang hukum dan pengadilan. Chan Wook berusaha memperlihatkan dendam dengan menyelami dunia pikiran manusia yang paling dalam dan kelam. Gum Ja dibuat begitu merana dan menderita sehingga memiliki alasan yang kuat membalaskan dendam tanpa ada lagi rasa kasihan dalam dirinya. Dan Gum Ja berhasil mempengaruhi orang lain yang tanpa nurani bisa mempertaruhkan belas kasihan demi amarah yang masih berkecamuk atas dasar kehilangan orang yang disayang.

Tidak jauh berbeda dengan 2 film sebelumnya, Sympathy for Mr.Vengeance dan Oldboy, naskah yang baik dan nyaris tanpa celah, didukung akting mumpuni dari para pemerannya, segi teknis juga menjadi faktor pendukung yang kuat. Dengan alur maju mundur, editing menjadi nilai lebih untuk ditonjolkan dengan sempurna. Sinematografi yang memanfaatkan berbagai macam warna-warna soft untuk membedakan masa hidup Gum Ja. Satu lagi yang juga sangat memberi nilai lebih untuk film ini adalah musik-musik pengiring film gubahan Choi Seung Yeong, rasakan kebencian, ketegangan, ketakutan, kesedihan dan kebahagiaan menyatu dengan adegan-adegan dalam setiap bingkai film ini.

Lee Young Ae yang memerankan Gum Ja bermain sangat luar biasa. Pribadi-pribadi Gum Ja yang unik ditampilkannya dengan akting terbaiknya. Tidak salah kemudian salah satu aktris senior Korea Selatan ini mendapatkan banyak penghargaan Aktris Terbaik atas usahanya menghidupkan peran Gum Ja, yaitu dari Cinemanila International Film Festival, Stiges Catalonian International Film Festival, Baek Sang Film Awards, Blue Dragon Film Awards dan Oscarnya Korea, Grand Bell Film Awards. Aktor Choi Min Sik yang dikenal sebagai Oh Dae Soo dalam Oldboy dipercaya kembali oleh Chan Wook, kali ini sebagai Mr. Baek. Choi Min Sik berhasil memberikan penampilan terbaiknya, sebagai seorang guru yang terlihat begitu baik dan sayang pada murid-muridnya yang pada sisi lain adalah monster yang sakit jiwa membunuh murid-muridnya sendiri. 

Park Chan Wook sendiri memenangkan penghargaan sutradara terbaik dari Bangkok International Film Festival. Selain itu mendapatkan penghargaan film terbaik dari Venice Film Festival, Sarasota Fil  Festival & Fantasporto. Selain itu juga mendapatkan nominasi film berbahasa asia terbaik dari Hong Kong Film Awards dan nominasi Screen International Awards dari European Film Awards. 



Selasa, 19 April 2011

Sympathy for Mr. Vengeance (Korea.2002)



Director :
Park Chan Wook
Cast :
Shin Ha Gyoon - Ryu
Bae Doo Na – Yeong Mi
Song Kang Hoo – Dong Jin
Ryu Seung Beom – Crazy boy at River
Lee Dae Yeon - Choe
Lim Ji Eun – Ryu’s Sister
Han Bo Bae – Yu Sun

Film ini menjadi pembukan trilogy revenge karya Park Chan Wook. Menjadi salah satu film yang cukup kontroversi saat rilis tahun 2002 di Korea. Tema balas dendam yang dianggap berlebihan, benturan nurani manusia dengan paham-paham kapitalis serta isu mafia perdagangan illegal organ tubuh manusia.

Ryu (Shin Ha Gyoon) adalah seorang penderita bisu tuli yang bekerja sebagai buruh pabrik perusahaan Ilshin Electronics. Ryu harus segera membiayai operasi transplantasi ginjal kakaknya (Lim Ji Eun). Tentu uang jutaaan won harus dia kumpulkan untuk itu. Tidak mudah bagi seorang penderita bisu tuli menghadapi ini. Dia berniat mendonornya ginjalnya tetapi golongan darah mereka berbeda. Ryu harus mengumpulkan uang untuk biaya operasi dan mencari donor ginjal dengan golongan darah yang sesuai. 

Ryu juga harus ikhlas menerima kenyataan menjadi bagian dari PHK tempatnya bekerja karena sedang dalam pengurangan karyawan. Depresi karena harus segera mengumpulkan duit, Ryu tergoda dengan sebuah organisasi ilegal penjualan organ tubuh manusia. Dia dijanjikan akan mendapat 10 juta won untuk menjual ginjalnya. Namun ginjal hilang, uang 10 juta tidak diterima karena setelah operasi Ryu ditinggalkan begitu saja dalam keadaan telanjang.  

Kekasih Ryu, Cha Yeong Mi (Bae Doo Na) yang anarkis menyarankan untuk menculik Yu Sun (Han Bo Bae) anak dari Dong Jin (Song Kang Ho) pemilik Ilshin Electronics, orang yang sangat berperan dalam PHK yang menimpa Ryu. Tanpa berpikir panjang Ryu menyetujui ide Yeong Mi. Dengan mudah mereka akhirnya berhasil membawa Yu Sun. Tinggal satu langkah lagi rencana Ryu mendapatkan uang banyak. Dengan bantuan Yeong Mi, Ryu berhasil mendapatkan sejumlah uang dari Dong Jin.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, begitulah selanjutnya kisah hidup Ryu, kebahagiaan yang telah di depan mata tiba-tiba lenyap begitu saja. Dia harus menerima kenyataan sang kakak meninggal dunia bunuh diri karena mengetahui Ryu menjadi korban PHK dan tidak ingin memberatkannya. Tidak sampai disitu saja, saat sedang menguburkan mayat di  kakaknya di tepi sungai, sebuah tragedi menimpa Yu Sun. Yun Sun tenggelam. Tragedi inilah yang menjadi awal bagian ketiga dari kisah film ini.

Dong Jin yang ditampilkan dengan karakter yang keras, memiliki jiwa sosial rendah serta tidak peduli dengan penderitaan bawahannya. Menemukan fakta anaknya tenggelam, Dong Jin membalaskan sakit hatinya. Dia bahkan ‘menipu’ petugas kepolisian yang membantunya mencari tahu tentang keterlibatan Ryu. Dong Jin telah memiliki rencananya sendiri untuk membalaskan dendam pada Ryu.

Film ini memberikan pengambaran mengenai karma. Percaya atau tidak karma selalu menjadi momok bagi banyak hidup orang. Kedua karakter yang saling baku hantam membalaskan dendam dalam film ini menerima karma atas perbuatannya sendiri. Tidak tanggung-tanggung, karma dihadirkan bertubi-tubi dan bertumpuk. Akibat penculikan terhadap Yun Sun, Ryu harus kehilangan kakak dan kekasihnya secara bersamaa. Dong Jin yang dengan semena-mena memberhentikan banyak karyawannya harus kehilangan anak perempuan satu-satunya dan meregang nyawanya sendiri karena bertindak tanpa berpikir panjang. Mungkin untuk beberapa orang yang tidak mempercayai karma hal ini akan dianggap sebagai jalan hidup yang sudah digariskan untuk terjadi. Meskipun terlihat terlalu berkebetulan dan berlebihan.

Hubungan sebab akibat dalam film ini terlihat begitu dibaurkan dengan inti film yang berfokus pada balas dendam. Begitu mudah dan cepat bagi kepolisian untuk segera mengetahui keterlibatan Ryu tanpa adanya detail penyelidikan. Pertemuan antara Dong Jin, Yeong Min dan Ryu juga terasa seperti dipaksa untuk dimudahkan karena fokus balas dendam ingin segera ditampilkan dan dieksploitasi. Bagian-bagian detail ini sedikit menganggu film secara keseluruhan.

Adegan-adegan kekerasan menjelang akhir film terasa begitu menyiksa mata penonton, salah satunya adalah adegan pemotongan ujung belakang kaki yang cukup berhasil membuat menutupkan mata karena terasa begitu ngilu karena diperlihatkan dengan nyata.

Simpati seperti apakah sebenarnya yang ingin diambil oleh film ini dari penonton. Karena rentetan kekerasan yang berlebihan justru menjadi ironi sendiri untuk film ini. Kedua karakter yang berjuang untuk bertahan hidup dengan saling membalaskan dendam berusaha mengambil hati penonton dengan simpatinya yang justru telah terlalu lelah dengan kekerasan demi kekerasan yang menjadi polemik film ini menuju akhir ceritanya. Tidak ada lagi simpati bagi Dong Jin dan Ryu. Atau justru penonton tidak lagi bisa menentukan untuk siapa simpati akan mereka berikan. 

Song Kang Ho, Shin Ha Gyoo dan Bae Do Na bermain sangat maksimal. Akting cemerlang mereka berhasil menjadi salah satu poin terbaik untuk film ini. Terutama Kang Ho yang sukses menampilkan Dong Jin yang tampak tenang tetapi menyimpan amarah dan dendam yang begitu besar.

Salah satu scene stealer dalam film ini adalah orang gila cacat yang kerap kali hadir pada setiap adegan di Sungai. Ryoo Seung Beom berhasil membawakan peran ini dengan sangat baik.
Selain naskah dan akting yang baik, film-film bertemakan balas dendam tentu harus memiliki segi teknis kuat, untuk membantu membuat rasa film semakin thrill. Kamera berhasil memberikan gambar-gambar nyata dengan bantuan set yang saling mendukung. Editing membuat sinkronisasi adegan ke adegan terasa nyata serta musik pengiring dibuat unik, dengan bunyi-bunyian khas yang berhasil mengiris mata dan hati penonton untuk merasakan pahitnya film ini. 

Pusan Film Festival 2002 memberikan penghargaan film dan sutradara terbaik untuk Park Chan Wook. Sedangkan Korean Film Awards (MBC) 2002 memberikan penghargaan untuk cinematography dan editing terbaik. 


Selasa, 12 April 2011

Oldboy (Korea.2003)



Director :
Park Chan Wook
Screenplay :
Cast :
Choi Min Sik – Oh Dae Soo
Yoo Ji Tae – Joo Hwan
Kang Hye Jeong – Mido

Bersama Ghost World (2001), Road to Perdition (2002), American Splendor (2003), A History of Violence (2005) dan Persepolis (2007), film ini menjadi film drama adaptasi komik terbaik yang pernah dibuat. Film ini dianggap memiliki hasil yang lebih optimal dan baik dari komik-komik aslinya. Selain itu mendapatkan kritikan positif, film-film ini juga meraih banyak penghargaan dari festival dan penghargaan film Internasional. Termasuk Oldboy sendiri. Prestasi terbaik untuk film ini adalah  untuk Park Chan Wook yang berhasil meraih penghargaan Grand Jury Prize Festival Film Cannes 2004.

Film ini menjadi bagian kedua dari trilogy revenge film yang dibuat oleh Park Chan Wook. Sympathy for Mr.Vengeance menjadi bagian pertama dan Sympathy for Lady Vengeance (2005) menjadi penutup trilogy ini.

Apa istimewanya Oldboy? Tidak banyak yang mengetahui Komik Oldboy sebelum akhirnya diadaptasi oleh Chan Wook. Oldboy adalah manga Jepang, diterbitkan oleh Futubasha tahun 1996 dengan creator Nobouki Minegishi dan Tsuchiya Garon. Dari sebuah manga tidak populer, Wook mengarahkannya menjadi sebuah film yang tak terlupakan sepanjang masa. Paling tidak itu menurut imdb.com yang memposisikan film ini pada peringkat 100 dari 250 film terbaik sepanjang masa. Jalan cerita film ini berhasil membingungkan penonton sepanjang selama 120 menit. Penonton ditempatkan sama dengan Oh Dae Soo, karakter utama dalam film ini. Mencari tahu, berpikir, menunggu dan ikut terbawa bersama Oh Dae Soomenemukan fakta-fakta yang kemudian akan membuatnya menyesali semua perbuatan dan dosa-dosa masa lalunya. Apakah benar Dae Soo berdosa? Sebuah kisah balas dendam sadis dan pahit akibat dendam yang dipendam begitu dalam.

Plot tumpang tindih, editing yang dikerjakan cemerlang, alur bolak balik yang memikat, ilustrasi musik karya Jo Yeung Wook yang mengiris hati dan tentu twist demi twist yang disiapkan dengan rapi dan tidak terduga menjadi poin-poin istimewa film ini. Semua difilmkan dengan sangat baik. 

Pertanyaan kemudian muncul. Apakah sampai begitu sakitnya menyimpan dendam bertahun-tahun dan berencana dengan begitu rapi untuk membalaskanya. Apakah bisa diterima akal sehat atau bagaimana kita sebagai penonton bisa memahami pikiran kedua karakter utama yang saling dendam ini. Dalam film ini  penonton diminta untuk mengeyahkan akal sehat. Penonton diminta (dipaksa) memahami bahwa saat kemarahan begitu menguasai manusia dan tertahan bertahun-tahun mungkin akan terlihat sah-sah saja.

Oh Dae Soo (Choi Min Sik) harus menerima kenyataan hidup terpenjara selama 15 tahun tanpa sebab yang jelas, terpisah dari istri dan anak semata wayangnya. Melalui siaran televisi yang disediakan di ‘penjara’ itu dia mengetahui dirinya menjadi narapidana pembunuhan istrinya. Selama 15 tahun dia mencoba untuk berpikir siapa yang tega membuat hidupnya “berhenti”. Membuatnya kehilangan rasa. Membuatnya menjadi seorang monster mengerikan berwujud manusia yang bertekad akan membalas semuanya.

Tetapi semua seperti telah terencana untuknya. Saat kebebasan telah di depan mata, Dae Soo tidak dengan mudah menemukan apa yang selama 15 tahun direncanakan. Karena ternyata kebebasan yang dia terima adalah “penjara” kedua baginya. Hidupnya masih seperti dalam pengawasan. Dendam dan amarah seperti mengawasi kemanapun kakinya melangkah. Kebebasan baginya untuk mencari tahu adalah sebuah rencana baru yang akan segera mempertemukannya dengan sang pemilik hidupnya selama 15 tahun. Karena masa 15 tahun tersebut akan digenapkan dengan kisah selanjutnya yang akan menjadi penjara jiwa bagi Dae Soo sepanjang hidupnya.


Bahkah pertemuannya dengan Mido (Kang Hye Jeong) menjadi bagian rencana kedua hidupnya. Mido menjadi kekasihnya. Mido membantunya mencari tahu siapa dalang yang menjadikannya Monster. Sampai kemudian dia dipertemukan dengan Joo Hwan (Yo Ji Tae), yang mengaku bertanggung jawab terhadap kemalangan hidupnya. Joo Hwan meminta Dae Soo mencari tahu siapa dia dan penyebabnya memenjarakan Dae Soo selama 15 tahun. Joo Hwan bahkan bangga dengan dirinya sendiri berhasil membentuk Dae soo menjadi sosok mengerikan, penuh dendam dan amarah.

Misteri yang menyelimuti hidup Dae Soo selama 15 tahun akhirnya mulai terkuak. Satu persatu jawaban hadir tidak tanggung-tanggung dengan twist yang disembunyikan dengan rapi oleh film ini. Untuk Dae Soo dan penonton. Sebuah masa lalu yang pahit bagi Joo Hwan membuatnya menyimpan dendam bertumpuk-tumpuk selama belasan tahun dan merencana sebuah pembalasan yang begitu rapi. Bukan sebuah pembalasan biasa yang disiapkan. Tetapi sebuah rencana balas dendam jangka panjang yang akan disesali oleh Dae Soo sepanjang sisa hidupnya. Sebuah kenyaataan pahit, sangat pahit bahkan telah dan sedang disiapkan Joo Hwan untuk Dae Soo. Sama seperti Dae Soo telah membuat hidupnya hampa selama bertahun-tahun.

Choi Min Sik yang berperan sebagai Dae Soo memperlihatkan dengan begitu menyakinkan seorang pria biasa yang berubah menjadi monster yang mengerikan. Aktingnya berhasil membuat kita sebagai penonton ikut merasakan bagaimana pahit dan perihnya hidup dengan ketidakpastian dan penuh amarah dan dendam. Atas usahanya ini Min Sik menerima banyak penghargaan aktor terbaik, salah satunya dari Asia Pacific Film Festival 2004 

Rahasia hati, kekuatan dendam dan amarah serta misteri jiwa dan pikiran manusia menjadi polemik utama dalam film ini. Tidak dengan mudah bagi tiap manusia menerima kenyataan pahit yang dihadapkan padanya. Akal sehat dan jiwa yang bersih tentu menjadi satu-satunya jalan terbaik menyelami isi-isi hati dan pikiran untuk mencari sebuah iklas untuk dipilih. Tetapi justru bukan hal itulah sebaliknya yang ditampilkan dalam film ini. Sisi gelap pikiran dan hati manusia yang tidak bisa dengan mudah untuk dimengerti dan dipahami oleh siapapun. Membuat orang lain ikut merasakan perihnya kesedihan yang dibiarkan menguasai diri selama bertahun-tahun bukanlah sebuah penyelesaian yang bijak bahkan menyesatkan diri pada pilihan hidup yang salah seperti bunuh diri.

Selain di Cannes, film ini juga meraih penghargaan dari European Film Awards, British Independent Film Awards, Austin Film Critics Association Awards, Chicago Film Critics Association Awards, Hong Kong Film Awards, Stockholm Film Festival, Bangkok International Film Festival dan Asia Pacific Film Awards.