Senin, 20 Juni 2011

Apa Saja Hal Klise Yang Selalu Ada Dalam Film Horor Thrilller dan Slasher?


11 tahun waktunya bagi Wes Craven dan Kevin Williamson tergoda untuk kembali berusaha menjual salah satu jualan mereka yang cukup laris medio 90-an lalu. Tentu harapan akan kualitas dan cerita film yang lebih baik dan fresh oleh banyak fans franchise ini. Begitu akhirnya Scream 4 rilis tidak banyak ternyata yang diberikan untuk penonton. Film ini kembali hadir dengan pakem yang sama dengan karya-karya sebelumnya atau tepatnya memiliki semua yang selalu hadir dalam horor/thriller khas remaja. Hal-hal klise inilah kemudian yang akhirnya memposisikan Scream 4 hanya sebagai usaha duo Craven dan Williamson untuk menghidupkan franchise ini tanpa ada hal baru untuk dijual. Terasa basi dan mungkin bisa terlupakan begitu saja. Terbukti dengan hasil pendapatan film yang tidak melebihi US$ 50 juta, Scream 4 hanya berhasil meraih US$ 38.042.485 untuk peredaran Amerika Utara saja.

Tentu akhirnya bukan detail Scream 4 yang akan terus kita bahas di sini. Scream 4 mengembalikan kenangan kita pada banyak sekali hal-hal typcal yang kerap kali “terjadi” dalam film-film setype. Hal-hal klise ini seperti telah menjadi pakem-pakem yang selalu hadir dalam setiap film horor semacam Scream 4 ini. Hal-hal tersebut dibuat dengan tujuan untuk memacu adrenalin penonton dalam menonton thriller/horor. Kejutan demi kejutan, siap atau tidak siap adalah sebuah hiburan tersendiri menikmati film-film seperti ini. Apa sajakah itu?

Mari kita mengenang kembali film Scream yang pertama. We Craven memberikan 3 "pakem" yang paling penting yaitu Jangan melakukan Seks, jangan Mabuk dan jangan memakai Narkoba. Nah jika dalam sebuah film anda melihat karakter-karakter sedang melakukan 3 hal ini bersiaplah dalam waktu tidak terlalu lama mereka akan segera dibantai.
Seen: Franchise Scream






Pernahkah anda mendengar sebuah mengenai IQ manusia dalam sebuah film Horor? Jika IQ rata-rata manusia adalah 120, maka IQ manusia dalam film horor remaja adalah dibawah 50. Sudah dipastikan mereka selalu mengambil keputusan yang salah dari banyak pilihan “pintar” yang ada. Kedunguan para karakter dalam film semacam ini menjadi sesuatu yang selalu berhasil membuat penonton jengkel dan deg-deg-an. Seperti bersembunyi di dalam rumah yang jelas-jelas ada pembunuh, berteriak-teriak berlebihan karena alasan ketakutan, tidak buru-buru kabur dari tempat yang ada pembunuh meskipun telah bebas atau terlalu peduli pada teman yang sudah jelas-jelas mati dibantai pembunuh.
Seen: Valentine, House of Dead, The Clinic

Berbanding lurus dengan IQ, dialog-dialog yang hadirpun adalah hubungan antara kebodohan dan ketoledoran. Seperti misalnya “Dimana dia?” arti yang sebenarnya adalah “tadi dia ke kamar atas dan dia telah terbunuh disana” atau misalnya “Jangan kemana-mana, tunggu disini, aku akan segera kembali” arti yang sebenarnya adalah “kamu di sini aja, sebentar lagi pembunuh akan memecahkan kepalamu”
Seen: Friday the 13




Perhatikan dengan karakter yang suka iseng, mengesalkan, egois dan jahat, anda tidak perlu khawatir karena tidak berapa lama lagi mereka akan segera mati. Dan bahkan pembunuh sangat suka sekali menyiksa mereka hingga kepala pecah, mata keluar, kaki putus dan sebagainya.
Seen: Franchise Final Destination, I Know What You did Last Summer, I Spit on Your Grave






Setipe dengan poin 2 dan 3, keputusan untuk berpencar yang dilakukan oleh para pemain seperti salah satu kebodohan yang kerap kali mereka lakukan. Sudah tentu akan memudahkan bagi pada pembunuh untuk menghabisi mereka satu-persatu.
Seen: House of Wax, Texas Chainshaw Massacre, Freddy vs Jason







Dari semua kebodohan para karakter-karakter dalam sebuah film horor/thriller, perempuan-perempuan seksi selalu menjadi inceran terlebih dahulu untuk dibunuh. Mereka biasanya lari ke lantai atas, bersembunyi dalam lemari, lari ke basement yang hanya dengan penerangan 5 watt saja, atau lari ke dalam hutan yang justru akan segera membuatnya bertemu sang pembunuh. Biarkan saja perempuan-perempuan ini untuk mati, karena memang begitulah fungsi mereka difilm-film setipe ini.
Seen: Nightmare on Elm Street, Friday the 13, Prom Night, Wrong Turn


Coba anda perhatikan dalam setiap film sejenis ini, hal-hal sama yang selalu mereka lakukan adalah hanya akan membiarkan 2 sampai 3 orang untuk hidup sampai film berakhir. Tentu hal tersebut adalah untuk pemain-pemain utama yang terkenal. Jika anda melihat hanya 2/3 orang saja yang anda kenal di poster sebuat film, anda telah mendapatkan spoiler bahwa hanya 2/3 orang tersebut yang akan selamat dari teror.
Seen: Scream 3, I Still Know What You did Last Summer, Turistas




Efek mempengaruhi penonton secara teknis terutama dari segi sinematografi adalah hal yang selalu dimanfaatkan dalam banyak film-film horor/thriller. Tentu anda begitu kesal dengan seorang pemain yang mengintip dari balik lemari, karena tanpa dia sadari pembunuh akan hadir dari belakangnya. Atau ketika pemain menjadi sudut pandang pembunuh dari balik-balik benda-benda disekitarnya seperti tanaman atau jendela. Atau ketika kamera mengenda-endap dari belakang pemain tanpa dia sadari juga untuk mewakili sudut pandang pembunuh.
Seen: Jeeper Creepers, Vacancy, I Spit on Your Grave





Ini yang juga cukup menyebalkan, ketika pembunuh telah berhasil dibunuh, biasanya justru mereka seperti diberi tubuh yang kuat atau nyawa lebih dari satu. Meskipun biasanya mereka kembali bisa dilumpuhkan, hal ini digunakan untuk kejutan semata dan biasanya tidak mengubah ending film.
Seen: Scream, Scream 2










Selain teknis sinematografi yang telah kita bahas diatas, Musik juga menjadi salah satu poin utama dalam film horor/thriller. Musik memang sengaja dibuat untuk menganggu penonton. Pastikan anda mengingat ketika musik menghilang siapkan diri anda untuk segera kaget dengan kejutan adegan dan musik yang menghentak.
Seen: The Ring, The Haunting, Death Bell, Insidious








Jika saat menonton anda begitu ingin ke toilet pastikan keaadaan di film sedang siang hari. Film semacam ini selalu memanfaatkan malam untuk memulai teror pembunuh untuk pada karakternya.
Seen: From Dusk till Down, When a Stranger Call












Para sutradara film Horor/thriller selalu memanfaatkan ending untuk memberikan teaser bahwa film tersebut belumlah berakhir. Kemungkinan untuk dibuat sekuel selalu menjadi penutup hampir semua film sejenis ini. Tentu anda mengingat bagaimana mayat si Pembunuh hilang, atau kaki dan jari mereka pelan-pelan bergerak, atau mata mereka kembali terbuka, dsb.
Seen: Urband Legend, Scream, Texas Chainshaw Massacre, Insidious






dari berbagai sumber

7 komentar:

  1. Wah nice post kk!
    Sejauh ini sy gapernah nnton film horror/slasher tanpa klise umum seperti diatas lol!

    BalasHapus
  2. Hmm. rata-rata film horror yang saya tonton biasanya karakternya bodo-bodo. gak banget dengan kondisi sekarang. :P

    BalasHapus
  3. Emang film" slasher punya banyak banget hal klise tapi keklisean itu yg bikin genre ini banyak penggemar karena gak perlu mikir dan cukup menikmati kesadisannya (termasuk saya) :D

    BalasHapus
  4. @daniel : hahahahaahah berarti film2 "seen" d list gue itu ga ada satupun yg lo tonton dong yahh...

    @taruma: kan IQ mereka di bawah 50.. hahahahaaha

    @movfreak: yups, setuju.. pembuatnya sangat tahu dan paham bahwa penikmat film2 seperti ini adalah org2 yang males mikir..

    BalasHapus
  5. Daniel Putra22 Juni 2011 19.41

    no, maksud sy, jarang nemuin film horror/slasher yg bebas dari hal klise.. kalo film2 di list kk sih banyak bgt yg udah ditonton hehe

    BalasHapus
  6. Artikel ini the best lah. Clichenya emang bikin tipe film ini byk penggemarnya.

    BalasHapus
  7. Hehehehhe Mike.... terima kasihhh banyak.. :)

    BalasHapus