Rabu, 20 April 2011

The Elite Squad (Brasil.2007)

Director:
Jose Padilha
Screenplay:
Andre Batista
Rodrigo Pimentel
John Kaylin
Braulio Mantovani
Jose Padilha
Cast :
Wagner Moura – Roberto Nascimento
Andre Ramiro – Andre Matias
Caio Junqueira – Neto
Fernanda Machado – Maria
Fabio Lago - Baiano
Milhem Cortaz – Fabio
Paulo Vilela - Edu
Maria Ribeiro – Rosane
Fernanda de Freitas – Roberta

Film ini meraih Golden Berlin Bear pada Berlin International Film Festival 2007. Menyingkirkan Happy Go Lucky, Lake Tahoe dan There Will be Blood yang cukup populer. The Elite Squad membayar kekalahan The Year My Parents Went on Vacation yang tahun sebelumnya juga menjadi Official Selection untuk festival yang sama. Realita yang terasa sangat nyata mungkin menjadi kesepakatan para juri Berlin Golden Lion memilihnya menjadi yang terbaik. Sutradaranya, Jose Padilha telah dikenal oleh publik Brasil dengan dokumenter Bus 174 (2001) yang sangat fenomenal karena diangkat dari kejadian nyata penyanderaan di dalam bis 174 pada 12 Juni 2000. The Elite Squad adalah feature film perdananya. Bekerja sama dengan banyak film-maker yang pernah menghasilkan City of God (2002) menjadikan The Elite Squad pada beberapa bagian memiliki nafas hampir sama dengan salah satu film terbaik yang pernah dibuat itu (versi IMDB peringkat 18 dari 250 film terbaik sepanjang masa).

BOPE adalah satuan pasukan khusus elite polisi Brasil yang didirikan untuk menangani kasus-kasus tertentu dan berat. Masalah perdagangan narkotika dan zat adiktif lainnya yang semakin merajalela di Rio de Janeiro serta masalah perdagangan senjata ilegal yang ternyata melibatkan pihak kepolisian Brasil menjadi fokus utama tugas pasukan ini. Selain juga menjadi pasukan keamanan khusus untuk para petinggi luar yang berkunjung ke Brasil, termasuk Paus. Tahun 1997, Paus di rencanakan melakukan kunjungan untuk yang ke 3 kalinya ke Brazil. 3 bulan sebelum kunjungan itu, Kapten Beto (Wagner Maura) harus menyiagakan pasukannya untuk mengamankan daerah-daerah tertentu yang akan menjadi lokasi kunjungan Paus.

Melalui narasi dari Beto, penonton digiring mengikuti dua plot tumpang tindih saling berhubungan. Plot pertama adalah mengikuti kisah hidup Beto menyusuri bagian-bagian gelap Rio de Janeiro bersama pasukan elitenya membasmi dan mengamankan kota dari ‘sampah-sampah’ masyarakat para dealer-dealer narkoba. Pahitnya adalah beberapa kali Beto harus menemukan banyak pelajar dan mahasiswa yang terlibat dengan bisnis kotor ini. Plot kedua adalah tentang Neto (Caio Junqueria) dan Andre (Andre Ramiro) pejabat polisi yang baru saja diangkat menjadi staf pimpinan tetapi merasakan adanya ketidaktulusan dan kebobrobkan mental dari banyak petugas polisi di sekitar mereka yang justru menjadikan jabatan mereka untuk mementingkan diri sendiri dengan menjadi ‘polisi kotor’. Tidak hanya menjadi dekingan untuk kelancaran peredaran narkoba, para polisi kotor ini juga menjadi pemasok senjata-senjata ilegal bagi para dealer-dealer pengedar narkoba.

Film ini secara personal mengikuti suara hati Beto. Dilema demi dilema mulai mengetuk nuraninya. Komitmennya pada pekerjaan membuat hubungan dengan Rosane (Maria Ribeiro), istrinya yang sedang hamil tidak berjalan baik. Ketika seorang ibu muda menemuinya dan meminta bertanggung jawaban Beto atas kematian anak laki-laki satunya yang masih di bawah umur karena Beto memanfaatkan sang anak untuk menjadi saksi, rasa bersalah semakin menguasainya. Beto memutuskan untuk mencari penggantinya. Disinilah kedua plot ini kemudian menjadi satu kesatuan. Ketertarikan Andre dan Neto pada pasukan khusus ini membuka kesempatan bagi Beto untuk segera menemukan pengantinya.

Seperti dalam City of God, film ini berusaha jujur mengangkat realita menjadikannya terlihat begitu nyata dan memang sedang terjadi hingga saat ini. Jika dalam City of God penonton disuguhkan bagaimana siklus peredaran narkoba dari sudut pandang pelaku bisnisnya, dalam film ini justru dari sudut pandang sebaliknya. Bagaimana keseriusan pemerintah Brasil mencoba untuk mencegah semakin merajalelanya bisnis yang semakin menghancurkan generasi di masa depan. Membentuk pasukan khusus elite yang sangat berkomitmen untuk menghentikan siklus narkoba tentu adalah langkah serius, justru menjadi ironi saat keseriusan itu dipecundangi dengan ulah para petugas polisi itu sendiri menjadi pihak yang membiarkan bisnis itu berjalan aman, menjadi pihak yang bertanggung jawab memberikan ‘keamanan’ untuk keberlangsungan bisnis itu dan bahkan membekali para pelaku bisnis dengan memperjualbelikan senjata yang dipasok justru untuk keamanan. Betapa menyedihkannya?

Film ini menjadi kelanjutan City of God. Sebagaimana kita ketahui pada akhir film itu, Polisi adalah pihak yang mempecundangi dealer itu sendiri. Pihak yang justru memanfaatkan situasi dengan mental yang sangat bobrok mendapatkan keuntungan secara finansial, memperkaya diri sendiri. Melalui The Elite Squad, Jose Padilha seperti menjadi kelanjutan tangan pemerintah Brasil, memperlihatkan bahwa masih banyak petugas kepolisian dan keamanan negara yang memiliki komitmen kuat dan bertanggung jawab besar untuk menyelamatkan generasi muda dari pengaruh tidak baik dan tidak berguna dari peredaran obat-obat terlarang.


Beto, Andre dan Neto menjadi sosok yang begitu berkomitmen dalam menjalankan tugasnya. Bahkan pada beberapa bagian terasa begitu berlebihan, tanpa ampun dan penuh dendam. Hal ini bukan tanpa alasan. Pembekalan pada saat pembentukan mental pasukan elite ini melatih mereka semua tanpa belas kasihan, tanpa ampun dan ditempa sedemikian rupa untuk menutupi rasa kasihan mereka. Seperti pada adegan salah satu dari mereka dibiarkan memegang bom yang siap meledak sementara harus mendengarkan petuah-petuah yang sangat membosankan. Pribadi yang dianggap lemah, tidak berkomitmen dan tidak mampu menunjukan mental baja diberikan pilihan, apakah akan terus mengikuti pembekalan atau kembali bertugas pada kesatuan menjadi polisi biasa.

Bagaimana buruknya sebuah lembaga kepolisian? Detail terlihat dalam film ini. bagaimana buruknya mental banyak petugas yang mestinya menjadi pelindung rakyatnya. Begitu gamblang dan bobrok terkisah gambaran dari kenyataan yang sebenarnya terjadi saat ini. Kenyataan yang memang menjadi momok bagi Brasil, bagi banyak negara di dunia dan tentu bagi Indonesia sendiri. Sering kali bukan kita mendengar kisah keterlibatan oknum polisi dengan berbagai tindak kriminal. Dan seperti sudah mendarah daging dari generasi ke generasi, tidak akan hilang dan tidak akan pernah bisa hilang.
 
Naskah film ini berhasil memberikan kisah-kisah transisi berbagai keribadian manusia. Menelanjangi detail kebobrokan lembaga kepolisian yang bahkan terasa tanpa ampun. Melugaskan kepada penonton bagaimana detail peredaran obat-obatan terlarang dengan begitu mudahnya sampai ditangan pengguna. Semuanya ditampilkan oleh naskah film ini dengan sempurna, tanpa terasa berlebihan dan dipaksakan. Naskah film ini mendapatkan nominasi naskah asli terbaik Cinema Brasil Grand Prize 2008, penghargaan film Brasil yang disetarakan dengan Acacemy Award.

Akting maksimal Wagner Moura sebagai Beto begitu menyakinkan. Salah satu adegan yang cukup memorable adalah ketika dia berkali-kali menampar wajah salah satu pengguna narkoba. Atas perannya dalam film ini, Moura diberikan penghargaan aktor teerbaik dari Cinema Brasil Grand Prize 2008. Berbicara mengenai tekhis film ini memberikan semua yang terbaik, sinematografi handheld yang bermaksud memberikan suguhan realita untuk penonton, editing dan sound yang digarap baik serta tentu musik penggiring yang berhasil menambah ketegangan film ini. Cinema Brasil Grand Prize 2008 juga memberika penghargaan untuk Sutradara terbaik bagi Jose Padilha, aktor pendukung terbaik untuk Milhem Cortaz, serta untuk sinematografi, editing, sound dan penata rias terbaik.

Yang cukup unik adalah The Elite Squad mendapatkan penghargaan Best Foreign Film Spanish Language dari Argentinean Film Critics Association Awards 2009, padahal tidak ada satupun dialog dalam film ini yang menggunakan bahasa Spanish, melainkan Portuguese.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar