Senin, 25 April 2011

Le Grand Voyage (France.2004)

Director:
Ismael Farreoukhi
Cast:
Nicolas Cazale – Reda
Mohamed Majd – Reda’s Father
Jacky Nercessian – Mustapha
Ghina Ognianova – La Ville Femme
Kamel Belghazi – Khalid
Atik Mohamed – Ahmad
Malika Mesrar El Hadaoui – La Mere
Francois Baroni – Le Douanier Italien

Le Grand Voyage atau dalam bahasa Inggris The Grand Journey adalah film pembuka penyelenggaraan Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2005. Film ini menjadi salah satu yang paling sukses meraih banyak penonton selama penyelenggaraan Jiffest. Bagaimana tidak? Cerita mengenai seorang ayah yang ingin naik haji tentu begitu dekat dengan budaya bangsa ini yang mayoritas muslim dan puluhan ribu warganya melakukan ibadah rukun islam ke 5 itu setiap tahunnya menuju Mekah, Saudi Arabia.

Reda (Nicolas Cazale) adalah seorang pemuda perancis pada umumnya. Terjebak pada kehidupan dan pola pikir liberal semakin menjauhkan Reda dari cikal bakal dan kultur aslinya. Reda terlahir dari ayah (Mohamed Majd) keturunan Maroko yang adalah seorang penganut islam taat. Ayahnya merasakan kegagalannya dalam mendidik Reda menjadi pribadi muslim yang taat. Hubungan Reda dan ayahnyapun terlihat hambar dan tanpa rasa yang baik. Tidak ada kedekatan bagaimana mestinya seorang anak laki-laki menjadi kebanggaan ayahnya. Hal ini terlihat ketika suatu hari ayahnya memutuskan naik haji dengan mengendarai mobil dan meminta Reda untuk mengantarkannya. Ayahnya bermaksud untuk memperbaiki hubungan dengan Reda, tetapi justru Reda berpikir bahwa apa yang direncanakan ayahnya tidak mungkin dan berlebihan. Penolakan yang dilakukannya tidak berbuah kegagalan rencana sang ayah. Reda bahkan hanya diberikan waktu 4 hari untuk bersiap-siap dan bahkan ayahnya telah mempersiapkan visa bagi Reda untuk keberangkatan mereka. Reda akhirnya tetap harus mengantarkan ayahnya naik Haji ke Mekah dengan mengendarai mobil.


Perjalanan mereka tidak berjalan mulus. Selain pertentangan diantara mereka, kejadian-kejadian unik dan menarik kerap kali mereka temukan, seperti misalnya bertemu dengan seorang wanita penumpang misterius, masalah dokumen perjalanan karena mereka melintasi banyak negara, bertemu dengan seorang penolong yang justru belakang mencuri uang mereka bahkan tersesat dan harus menghabiskan malam pada daerah bersalju minus 0 derjat. Jarak sekitar 5000 km yang mereka tempuh memberi banyak pengalaman berarti bagi mereka berdua. Perjalanan inilah kemudian yang membangun kembali hubungan Reda dengan Ayahnya. Perjalanan yang memberikan Reda arti hidup tak terlupakan sepanjang sisa hidupnya ke depan. Sebuah pengalaman yang akan merubah Reda untuk selamanya. Pertentangan demi pertengangan dengan pola pikir yang berbeda antara Reda yang berkultur barat dan Ayahnya yang religius menjadi kekuatan utama film ini. Pertemuan dua individu dalam dua budaya berbeda.

Dialog-dialog Reda dan Ayahnya berhasil dibangun dengan demikian kontrasnya sehingga membuat penonton tertawa sekaligus takjub. Sebuah dialog yang cukup berkesan mendalam adalah saat Reda mempertanyakan kenapa ayahnya lebih memilih naik mobil dari pada naik pesawat. Ayahnya berkata “When the waters of the ocean rise to the heavens, they lose their bitterness to become pure again...the ocean waters evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate become freah. That’s why its better to go on your pilgrimage on foot thab on horseback, better on horse back than by car, better by car than by boat, better by boat than by plane”. Dialog ini kira-kira bermakna bahwa melakukan ibadah akan mendapatkan pahala lebih bermakna dengan caranya yang paling sederhana.

Film ini syuting dengan melakukan perjalanan yang sama dengan cerita filmnya sendiri. Melintasi Perancis selatan, melalui Italia, Slovenia, Bosnia, Yugoslavia, Bulgaria, Turki, Syria, Yordania, dan berakhir di Mekah, Saudi Arabia. Syuting juga harus mengalami situasi yang sulit karena mengingat keadaan Bosnia yang tidak kondusif. Melintasi banyak negara membuat film ini memiliki sinematografi yang sangat indah dan megah. Gambar-gambar terekam dengan menakjubkan dan terlihat begitu nyata. Musik pengiring film yang menyegarkan berhasil menambah poin terbaik film ini. Mekah sebagai situs paling utama bagi umat muslim diperlihatkan dengan begitu agung.


Salah satu adegan yang sangat menyentuh dan takjub adalah ketika sang Ayah menyusul Reda pada sebuah bukit batu yang tinggi dan meminta Reda bantuan untuk yang terakhir kalinya. Sebuah film tentang perjalanan hati dan pikiran dua manusia dan mencoba untuk melihat pada lubuk hati paling dalam untuk menemukan apa yang mestinya dan sebenarnya dicari dalam hidup. Film yang jujur mengangkat latar belakang agama tanpa terbebani isu agama itu sendiri. Sangat inspiratif dan luar biasa.

Aktor muda pendatang baru Nicolas Cazale yang berperan sebagai Reda berhasil bermain baik, memperlihatkan seorang pemuda yang kehilangan identitasnya. Cazale berhasil mengimbangi akting cemerlang aktor senior Perancis keturunan Maroko Mohamed Majd yang bermain sebagai ayahnya. Kedua aktor ini berhasi menyajikan kekakuan hubungan ayah anak. Cazale menerima penghargaan sebagai aktor terbaik dari NewPort International Film Festival 2005 sedang Majd menerima gelar yang sama dari Mar del Plata Film Festival 2005 selain juga untuk film terbaik pada ajang penghargaan yang sama. Le Grand Voyave juga menerima penghargaan Luigi de Laurentis Awards pada Venice Film Festival 2004 serta mendapatkan nominasi film berbahasa asing terbaik pada BAFTA 2005.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar