Senin, 04 April 2011

The Black Balloon (Australia.2008)


Director : Elissa Down
Cast : Rhys Wakefield, Toni Collette, Luke Ford, Erik Thompson & Gemma Ward

Mental terbelakang karena jaringan otak tidak berkembang dengan sempurna atau yang lebih dikenal dengan autistic menjadi isu utama dalam film ini. Penderita autistic memiliki dunianya sendiri, tanpa bisa mengontrol semua tindakan yang mereka lakukan. Baik dan buruk tidak begitu bisa mereka bedakan, karena perkembangan jaringan otaknya yang lambat atau bahkan berhenti. Sebagian penderita penyakit ini tidak mampu membedakan mana yang baik untuk dilakukan, mana yang tidak. Ini juga tergantung pada tingkat perkembangan otak mereka. Pada beberapa penderita autistic ini daya pikir cerna mereka berhenti pada usia balita, beberapa ada yang mencapai usia 7 tahun. namun tidak semua penderita autistic memiliki IQ rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan tinggi

Seperti dalam film ini, Charlie (Luke Ford) penderita autistic yang perkembangan otaknya hanya sampai pada usia balita, padahal secara fisik dia terlihat seperti remaja berusia 18th. Tentu dengan tubuh layaknya orang dewasa namun otak hanya memiliki kapasitas berpikir tidak lebih dari anak usia 5 tahun, Charlie begitu merepotkan keluarganya. Tidak saja anggota keluarga dibuat kucar-kacir olehnya, termasuk orang-orang sekitar mereka. Inilah kemudian yang menjadi dilema berat untuk keluarganya. Bagaimana menghadapi sikap sinis, olok-olok, merendahkan dan bahkan menghina.

Thomas (Rhys Wakefield) harus membesarkan hati dengan penyakit saudaranya. Tidak mudah bagi Thomas untuk lapang dada menghadapi ini. Dengan usia yang terpaut tidak jauh dari Charlie, otomatis secara fisik mereka sama besarnya. Tetapi dengan keadaan Charlie, Thomas diminta melihat nuraninya. Atas nama cinta pada saudara, atas nama hubungan darah, Ibu (Toni Collete) yang dalam kondisi hamil tua dan ayah (Erik Thompson) memintanya berdamai dengan keegoisan demi Charlie. 

Penderita autistik memiliki prilaku stimulasi diri seperti berputar-putar, mengepak-ngepakkan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit, mengeryitkan bagian hidung seperti sedang mengendus, dan sebagainya. Gejala ini ditampilkan detail dalam film . Diperlihatkan juga Charlie begitu senang mengerakkan tangan sambil memukul-mukulkan tongkat kayunya ke lantai.

Ketika Thomas memulai berhubungan dengan Jackie (Gemma Ward), dia berusaha menutupi kenyataan itu. Jackie memang kaget ketika pertama datang mengantar topi Charlie yang tertinggal saat Charlie kabur dan masuk sembarangan ke rumahnya. Jackie melihat Charlie yang mengacak-acak kotorannya sendiri. Tidak mudah bagi Thomas untuk membuka ‘aib’ ini pada Jackie. Perlahan Jackie mulai bisa merasakan kegelisahan jiwa muda Thomas yang terpenjara dengan kondisi suadaranya itu.

Film ini mempertanyakan sejauh mana seorang manusia yang ‘sehat’ bisa berpikir dan bertindak sehat menghadapi seorang yang jauh dari kata sehat dan bahkan tidak bisa berpikir. Tentu ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Memilih untuk mementingkan diri sendiri dan menjadi pribadi yang picik dan kerdil. Atau memilih untuk bijak karena membawa diri menjadi pribadi atau manusia yang lebih baik tentu dengan memaklumi dan menerima dengan lapang dada seseorang yang bahkan tidak bisa memakai pakaian sendiri.

Pilihan kedua yang akhirnya diyakini oleh Thomas. Mencoba berdamai dengan keegoisannya. Mencoba memahami dan memaklumi semua tindakan tanpa pikir Charlie. Menelusuri lubuk nurani yang paling dalam untuk membangun logika yang adil. Adil baginya, bagi Charlie dan keluarganya.

Film ini menjadi film anak-anak terbaik pada Asia Pacific Screen Awards 2008. Dari Australian Film Institute 2008, film ini meraih 6 penghargaan dari 11 nominasi yang diperolehnya, untuk film, sutradara, naskah asli, pemeran pendukung pria dan wanita terbaik. Serta meraih Crystal Bell dari Berlin International Film Festival 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar