Rabu, 09 Maret 2011

Langitku Rumahku (Indonesia.1989)




Sutradara: Slamet Rahardjo
Skenario: Slamet Rahardjo, Eros Djarot
Pemain: Banyu Biru, Soenaryo, Pietrajaya Burnama, Suparmi, Yatie Pesek, Andri Sentanu, Untung Slamet

Slamet Raharjo menulis, memproduseri dan menyutradarai film ini. Untuk naskah, aktor senior ini menulisnya bersama Eros Djarot serta memilih dan mempercayai anak dari Eros Djarot, Banyu Biru untuk menjadi pemeran utama dalam film yang dikirim resmi oleh Indonesia berlaga pada ajang Academy Award tahun 1991 (menjadi film Indonesia ketiga yang resmi dikirimkan setelah Naga Bonar dan Tjoet Njak Dien, tahun 1988 dan 1990).

Film ini mengambil premis benturan pemahaman berbeda tentang kehidupan antara dua anak kecil yang memiliki latar belakang ekonomi berbeda. Perbedaan tersebut justru membekali terbentuknya persahabatan diantara mereka. Sosok anak-anak dalam film ini ditampilkan lugu, jujur, sangat mudah akrab dengan siapapun. Ide sederhana ini diolah oleh Slamet Rahardjo dan Eros Djarot menjadi sebuah kisah petualangan mengasyikkan, menyentuh, mengaharukan dan membuat kita sebagai penonton tertawa sekaligus menyadari sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini, yaitu sebuah persahabatan abadi yang sulit untuk ditemui, terutama pada zaman ‘individualisme’ seperti sekarang ini.

Andri (Banyu Biru) adalah seorang anak yang cerdas, pintar, mengemaskan, namun terkadang juga mengesalkan, terutama mungkin bagi kakaknya (Andri Sentanu). Ayah mereka seorang pengusaha yang cukup sukses, diperlihatkan dengan dia mampu memiliki 3 orang pembantu dan 1 orang supir, dan tidak begitu sering berada di rumah, sehingga Andri dan kakaknya lebih banyak berhubungan dengan para pembantu dan supir tersebut. Semua keperluan mereka, tentu terutama Andri yang masih kecil disiapkan oleh pada pembantu.

Sementara itu pada sudut lain Jakarta, di sebuah lokasi pemukiman para pemulung adalah Gembol (Soenaryo), seorang anak seusia Andri, yang merasa bahwa dirinya tidak pernah bisa beruntung karena harus meninggalkan sekolahnya di  desa, ikut memulung bersama orang tuanya dan hidup melarat di Jakarta. Meski hidup susah, Gembol tetap bersemangat untuk belajar. Beberapa kali dia mendatangi sekolah Andri dan mengikuti pelajaran dari luar kelas. Tetapi suatu waktu nasip naas menimpanya, karena ketahuan mengintip kelas dan dituduh sebagai maling, Gembol ditangkap dan diadili, untungnya pihak sekolah Andri melepaskan setelah Gembol mengaku sebagai pemulung, mengumpulkan kertas, koran dan majalah bekas untuk kembali dijual. Pihak sekolah kemudian membantu Gembol dengan mengumpulkan kertas dan koran bekas di sekolah untuk kemudian dibawa oleh Gembol, inilah yang menjadi awal pertemuan Gembol dengan Andri.

Andri tertarik melihat kehidupan Gembol, bahkan Andri berjanji akan memberikan Gembol, koran dan majalah bekas dari rumahnya. Gembol sangat senang sampai memberikan sebuah nama kecil/nama panggilan untuk Andri, Bung Kecil. Andri sangat menyukai nama panggilan itu dan bahkan meminta semua orang di rumah untuk memanggilnya dengan nama itu.

Sejak pertemuan ini hubungan Andri dan Gembol semakin dekat. Andri yang terbiasa dengan rutinitas membosankan, menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya yaitu kebebasan yang dimiliki oleh Gembol. Sebaliknya Gembol begitu ingin menjadi orang kaya dan bisa hidup enak, hal inilah kemudian yang semakin membuat akrab hubungan mereka. Sampai suatu ketika lokasi pemukiman Gembol mengalami penggusuran dan dia tidak bisa menemukan kedua orang tuanya karena menurut Mbah Uyeng (Untung Slamet) salah satu pengemis penghuni pemukiman itu, orang tuanya dibawa oleh petugas. Gembol bersedih, tidak tahu harus berbuat apa, Andri berusaha menawarkan Gembol untuk sementara tinggal dirumahnya, tetapi Gembol memutuskan untuk pulang ke desanya di Madiun. Inilah kemudian yang mengawali petualangan seru mereka berdua.

Beberapa adegan menarik berhasil membuat penonton tertawa, terutama adegan-adegan Andri bersama Mbok Balong yang menjadi ‘scene stealer’ untuk film ini. Dengan sangat wajar interaksi Andri dan Mbok Balong menjadi scene yang selalu dinanti. Seperti pada adegan Mbok Balong berbicara dengan foto almarhummah ibu Andri karena Andri susah untuk diminta mandi, Andri akhirnya dengan terpaksa mengikuti perkataan Mbok Balong. Dan masih ada Beberapa adegan lain yang memperlihatkan kedekatan unik antara Andri dan Mbok Balong.

Film dengan cerita sederhana dan menyentuh ini mengambil pola dongeng untuk anak, atau sesuatu yang memang hanya akan terjadi dalam film saja, karena memang sulit untuk menemukan hal seperti  itu terjadi di Jakarta. Adegan terasa sangat mendidik dan dibuat-buat, terutama bagi para pemain amatir yang baru pertama kali main film. Mereka mengucapkan dialognya seperti sebuah rangkaian puisi yang terlalu indah untuk diucapkan oleh anak-anak atau pengemis, karena dilakukan dengan akting kurang wajar, dan bahkan dengan bahasa tubuh berlebihan sehingga rasa dialog tersebut tidak terlalu bisa diresapi dengan baik. 

Terlepas dari hal tersebut, film ini memang dipersembahkan untuk anak-anak indonesia. Anak-anak beruntung diminta untuk melihat “ke bawah” supaya mereka bisa mengetahui bahwa banyak sekali anak-anak seusia mereka yang tidak beruntung  agar bisa lebih rasa rendah hati dan peduli pada sesama.

Pada FFI 1990 film ini hanya mendapatkan satu piala Citra untuk penata artistik terbaik  dari 8 nominasi  yang diperolehnya untuk film, sutradara, naskah, pemeran pendukung pria, pemeran pendukung wanita, cinematografi, penata suara

Rate: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar