Senin, 20 Juni 2011

Apa Saja Hal Klise Yang Selalu Ada Dalam Film Horor Thrilller dan Slasher?


11 tahun waktunya bagi Wes Craven dan Kevin Williamson tergoda untuk kembali berusaha menjual salah satu jualan mereka yang cukup laris medio 90-an lalu. Tentu harapan akan kualitas dan cerita film yang lebih baik dan fresh oleh banyak fans franchise ini. Begitu akhirnya Scream 4 rilis tidak banyak ternyata yang diberikan untuk penonton. Film ini kembali hadir dengan pakem yang sama dengan karya-karya sebelumnya atau tepatnya memiliki semua yang selalu hadir dalam horor/thriller khas remaja. Hal-hal klise inilah kemudian yang akhirnya memposisikan Scream 4 hanya sebagai usaha duo Craven dan Williamson untuk menghidupkan franchise ini tanpa ada hal baru untuk dijual. Terasa basi dan mungkin bisa terlupakan begitu saja. Terbukti dengan hasil pendapatan film yang tidak melebihi US$ 50 juta, Scream 4 hanya berhasil meraih US$ 38.042.485 untuk peredaran Amerika Utara saja.

Tentu akhirnya bukan detail Scream 4 yang akan terus kita bahas di sini. Scream 4 mengembalikan kenangan kita pada banyak sekali hal-hal typcal yang kerap kali “terjadi” dalam film-film setype. Hal-hal klise ini seperti telah menjadi pakem-pakem yang selalu hadir dalam setiap film horor semacam Scream 4 ini. Hal-hal tersebut dibuat dengan tujuan untuk memacu adrenalin penonton dalam menonton thriller/horor. Kejutan demi kejutan, siap atau tidak siap adalah sebuah hiburan tersendiri menikmati film-film seperti ini. Apa sajakah itu?

Mari kita mengenang kembali film Scream yang pertama. We Craven memberikan 3 "pakem" yang paling penting yaitu Jangan melakukan Seks, jangan Mabuk dan jangan memakai Narkoba. Nah jika dalam sebuah film anda melihat karakter-karakter sedang melakukan 3 hal ini bersiaplah dalam waktu tidak terlalu lama mereka akan segera dibantai.
Seen: Franchise Scream






Pernahkah anda mendengar sebuah mengenai IQ manusia dalam sebuah film Horor? Jika IQ rata-rata manusia adalah 120, maka IQ manusia dalam film horor remaja adalah dibawah 50. Sudah dipastikan mereka selalu mengambil keputusan yang salah dari banyak pilihan “pintar” yang ada. Kedunguan para karakter dalam film semacam ini menjadi sesuatu yang selalu berhasil membuat penonton jengkel dan deg-deg-an. Seperti bersembunyi di dalam rumah yang jelas-jelas ada pembunuh, berteriak-teriak berlebihan karena alasan ketakutan, tidak buru-buru kabur dari tempat yang ada pembunuh meskipun telah bebas atau terlalu peduli pada teman yang sudah jelas-jelas mati dibantai pembunuh.
Seen: Valentine, House of Dead, The Clinic

Berbanding lurus dengan IQ, dialog-dialog yang hadirpun adalah hubungan antara kebodohan dan ketoledoran. Seperti misalnya “Dimana dia?” arti yang sebenarnya adalah “tadi dia ke kamar atas dan dia telah terbunuh disana” atau misalnya “Jangan kemana-mana, tunggu disini, aku akan segera kembali” arti yang sebenarnya adalah “kamu di sini aja, sebentar lagi pembunuh akan memecahkan kepalamu”
Seen: Friday the 13




Perhatikan dengan karakter yang suka iseng, mengesalkan, egois dan jahat, anda tidak perlu khawatir karena tidak berapa lama lagi mereka akan segera mati. Dan bahkan pembunuh sangat suka sekali menyiksa mereka hingga kepala pecah, mata keluar, kaki putus dan sebagainya.
Seen: Franchise Final Destination, I Know What You did Last Summer, I Spit on Your Grave






Setipe dengan poin 2 dan 3, keputusan untuk berpencar yang dilakukan oleh para pemain seperti salah satu kebodohan yang kerap kali mereka lakukan. Sudah tentu akan memudahkan bagi pada pembunuh untuk menghabisi mereka satu-persatu.
Seen: House of Wax, Texas Chainshaw Massacre, Freddy vs Jason







Dari semua kebodohan para karakter-karakter dalam sebuah film horor/thriller, perempuan-perempuan seksi selalu menjadi inceran terlebih dahulu untuk dibunuh. Mereka biasanya lari ke lantai atas, bersembunyi dalam lemari, lari ke basement yang hanya dengan penerangan 5 watt saja, atau lari ke dalam hutan yang justru akan segera membuatnya bertemu sang pembunuh. Biarkan saja perempuan-perempuan ini untuk mati, karena memang begitulah fungsi mereka difilm-film setipe ini.
Seen: Nightmare on Elm Street, Friday the 13, Prom Night, Wrong Turn


Coba anda perhatikan dalam setiap film sejenis ini, hal-hal sama yang selalu mereka lakukan adalah hanya akan membiarkan 2 sampai 3 orang untuk hidup sampai film berakhir. Tentu hal tersebut adalah untuk pemain-pemain utama yang terkenal. Jika anda melihat hanya 2/3 orang saja yang anda kenal di poster sebuat film, anda telah mendapatkan spoiler bahwa hanya 2/3 orang tersebut yang akan selamat dari teror.
Seen: Scream 3, I Still Know What You did Last Summer, Turistas




Efek mempengaruhi penonton secara teknis terutama dari segi sinematografi adalah hal yang selalu dimanfaatkan dalam banyak film-film horor/thriller. Tentu anda begitu kesal dengan seorang pemain yang mengintip dari balik lemari, karena tanpa dia sadari pembunuh akan hadir dari belakangnya. Atau ketika pemain menjadi sudut pandang pembunuh dari balik-balik benda-benda disekitarnya seperti tanaman atau jendela. Atau ketika kamera mengenda-endap dari belakang pemain tanpa dia sadari juga untuk mewakili sudut pandang pembunuh.
Seen: Jeeper Creepers, Vacancy, I Spit on Your Grave





Ini yang juga cukup menyebalkan, ketika pembunuh telah berhasil dibunuh, biasanya justru mereka seperti diberi tubuh yang kuat atau nyawa lebih dari satu. Meskipun biasanya mereka kembali bisa dilumpuhkan, hal ini digunakan untuk kejutan semata dan biasanya tidak mengubah ending film.
Seen: Scream, Scream 2










Selain teknis sinematografi yang telah kita bahas diatas, Musik juga menjadi salah satu poin utama dalam film horor/thriller. Musik memang sengaja dibuat untuk menganggu penonton. Pastikan anda mengingat ketika musik menghilang siapkan diri anda untuk segera kaget dengan kejutan adegan dan musik yang menghentak.
Seen: The Ring, The Haunting, Death Bell, Insidious








Jika saat menonton anda begitu ingin ke toilet pastikan keaadaan di film sedang siang hari. Film semacam ini selalu memanfaatkan malam untuk memulai teror pembunuh untuk pada karakternya.
Seen: From Dusk till Down, When a Stranger Call












Para sutradara film Horor/thriller selalu memanfaatkan ending untuk memberikan teaser bahwa film tersebut belumlah berakhir. Kemungkinan untuk dibuat sekuel selalu menjadi penutup hampir semua film sejenis ini. Tentu anda mengingat bagaimana mayat si Pembunuh hilang, atau kaki dan jari mereka pelan-pelan bergerak, atau mata mereka kembali terbuka, dsb.
Seen: Urband Legend, Scream, Texas Chainshaw Massacre, Insidious






dari berbagai sumber

Minggu, 19 Juni 2011

Bagaimana Sineas Amerika Latin menggambarkan hubungan Anak dan Orang Tua pada film-film Karya Mereka?


Benarkah orang tua berhak menentukan apa yang terbaik untuk anaknya? Apakah sebenarnya orang tua hanya menjadi panutan bagi anaknya untuk belajar menghadapi hidup? Apakah orang tua benar-benar “memiliki” hak terhadap anaknya? Bagi saya pribadi pertanyaan-pertanyaan semacam di atas menghasilkan beragam jawaban yang cukup menarik ketika menjadi wacana dengan orang tua sendiri dan beberapa teman diskusi. Tetapi mari kita melihat lebih dalam bagaimana penggambaran para orang tua pada kehidupan yang sebenarnya melalui refleksi karya-karya film Amerika Latin.  

Ketika akhirnya memutuskan untuk memiliki anak (menikah ataupun tidak) tentu mestinya orang tua sudah harus menentukan sikap. Tetapi tidak semua orang tua berhasil menemukan sikap-sikap “terbaik” untuk menghadapi hadirnya sang anak. Tuntutan untuk penerus keturunan, anak adalah atau selalu disebut titipan Tuhan yang harus dijaga dan dididik dengan baik, dan terasa itu seperti sebuah tugas mulia. Istilah titipan inilah kemudian yang banyak “disalah-artikan” oleh banyak orang tua dan anak. Inilah kemudian yang menjadi sumber keberagaman pendapat tentang hubungan orang tua dan anak. Bagi sebagian orang tua, anak adalah harta yang perlu dijaga, dirawat dengan baik, diberi pendidikan dan kehidupan yang layak dan diharapkan kemudian menjadi penjaga mereka dihari tua nanti. Oleh sebagian lagi yang mungkin cukup ekstrim karena adalah tipe orang tua yang tidak memiliki tanggung jawab sama sekali, bisa begitu saja meninggalkan anaknya dirawat oleh orang lain, tentu dengan berbagai kompromi yang mereka pilih (baik atau buruknya). Dan sebagian lagi dengan tindakan yang hampir sama dengan yang pertama tetapi anak dibebaskan untuk menentukan hidup dan mencari kebahagiannya sendiri saat dianggap sudah dewasa.

Ketiga tipe orang tua inilah yang coba untuk dikisahkan dalam film-film yang telah disebutkan pada judul ini. Brainstorm atau yang berjudul asli Bicho de Sete Cabecas, film Brasil produksi 2001 yang disutradarai oleh Lais Bodansky ini mengisahkan tentang bagaimana Wilson (Othon Bastos) berusaha memberikan yang terbaik untuk anak laki-laki satu-satunya Neto (Rodrigo Santoro). Neto digambarkan sebagai seorang anak muda remaja pada umumnya yang terjebak pada pola pikir bebas dan menganggap orang tua seperti musuh. Hal ini tentu tanpa alasan. Sikap Wilson yang begitu keras terhadapnya mengakibatkan Neto tidak pernah betah di rumah. Neto lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sebayanya yang tidak lebih dari sekedar hura-hura dan menjebak Neto pada dunia prostitusi. Meire (Cassia Kiss) ibu Neto tidak bisa melakukan apa-apa, dia terjebak dengan rasa sayangnya pada kedua laki-laki dalam hidupnya ini. Meire tidak mampu berbuat banyak ketika Wilson memutuskan untuk mengirim Neto pada sebuah rumah sakit ketergantungan obat. Wilson menemukan kebiasaan Neto menggunakan obat-obatan terlarang. Inilah kemudian yang menjadi titik balik dari hubungan Wilson dan Neto. Wilson merasa dia melakukan yang terbaik untuk kebaikan dan masa depan Neto. Neto merasa ayahnya adalah monster yang tidak peduli pada hidup dan penderitaannya. Saat Wilson memutuskan mengirim Neto ke rumah sakit, saat itulah dia membuka pintu untuk kehilangan anak laki-laki satu-satunya tersebut.

Ketika orang tua berpikir memberikan hal-hal yang terbaik untuk anaknya tentu sudah semestintya. Tetapi ada baiknya hal tersebut telah pemikiran panjang terlebih dahulu. Baik untuk anak, atau baik untuk diri sendiri? Disinilah mestinya orang tua mampu berpikir lebih kritis menghadapi anak. Bicara adalah hal paling bijak untuk dipilih. Memaksakan kehendak terhadap anak akan berakibat tidak baik. Banyak sekali fakta-fakta yang bisa dijadikan bukti. Ketika Wilson memaksakan kehendaknya pada Neto untuk menjalani proses kesembuhan pada rumah sakit tersebut tanpa terlebih dahulu mencari tahu kondisi kesehatan Neto yang sebenarnya menjadi langkah yang sangat keliru. Neto yang merasa dirinya tidak sakit melakukan berbagai usaha untuk melarikan diri. Semakin lama berada di tempat tersebut, kondisi mentalnya semakin tidak baik dan justru membentuknya menjadi pribadi yang tidak stabil karena perkembangan mental sangat  tertekan, apalagi kemudian treatment-treatment pengobatan yang dilakukan padanya dengan pemaksaan dan kekerasan atas dasar kesehatan. Disinilah kebencian Neto pada ayahnya semakin memuncak. Berkali-kali dia meminta pada Wilson untuk mengeluarkannya dari tempat itu, tetapi dengan berpatokan pada hasil diagnosa dokter, Neto masih dinyatakan tidak stabil, Wilson menolak keinginan Neto. Dengan begitu jelas film ini mengambarkan kesalahan keputusan yang diambil oleh Wilson terhadap anak laki-lakinya. Tidak akan ada kesembuhan dan perbaikan masa depan untuk Neto, karena mental semakin drop dan membawanya pada tingat kewarasan yang semakin rendah. Wilson yang berpikir memberikan yang terbaik untuk anaknya justru telah kehilangan Neto untuk selamanya.

Berbeda dengan Brainstorm, Quero (Brasil.2007) justru berkisah secara gamblang bagaimana anak-anak yang hidup tanpa orang tua. Film ini disutradarai oleh Carlos Cortez dan diadaptasi oleh Luis Bolognessi, Braulio Mantovani dan Cortez sendiri dari novel berjudul Quero A Damned Report karya Plinio Marcos. Quero (Maxwel Nascimento) adalah seorang remaja tanggung berusia menjelang 13 tahun. Tidak pernah mengenal siapa orang tuanya, dia hanya mendapatkan cerita yang tidak begitu jelas tentang itu. Dari bayi dia dibesarkan oleh Violeta (Angela Leal) seorang mucikari di sebuah rumah bordil. Dididik dengan keras dan tanpa kasih sayang membentuk Quero menjadi pribadi yang keras, pembangkang, cepat dewasa dan berani melakukan tindak-tindak kriminal ringan. Nasib membawanya terdampar pada sebuah lapas untuk anak-anak terlantar. Berharap mendapatkan kasih sayang dan penghidupan yang lebih baik, Quero justru harus menghadapi monster-monster baru yang memperkosanya secara fisik dan mental. Quero berhasil melarikan diri dan hidup dijalanan dengan tetap berusaha "mencari-cari" sosok ibu yang didambakan selama hidupnya. Kisah hidup Quero yang begitu pahit dan menyedihkan adalah akibat dari sikap orang tua yang tanpa pikir panjang memutuskan untuk memiliki anak tetapi kemudian tidak berani menerima tugas selanjutnya yaitu memberikan kasih sayang dan penghidupan yang layak untuk sang anak. Ibu Quero, Piedade (Maria Luisa Mendonca, yang kita kenal melalui Carandiru) adalah seorang perempuan penjaja seks. Melalui Violeta, Piadade mendapatkan banyak langganan dan tumpangan untuk hidup, sampai kemudian tanpa bisa dikontrol dia hamil tanpa tahu siapa ayah anaknya. Violeta berusaha untuk membuat Piadade mengugurkan kandungnya, tetapi dia memutuskan untuk melahirkan anak laki-lakinya yang kemudian dikenal sebagai Quero. Violeta meminta Piadade memberikan Quero pada panti asuhan supaya bisa kembali bekerja. Piadade menolak dan diusir oleh Violeta. Terjebak dengan keputusan yang dianggapnya salah, Piadade terlunta hidup dijalanan dengan Quero di dekapannya. Depresi tidak mengerti harus meneruskan hidup, Piadade mengantarkan Quero ke tangga rumah Violeta dan memutuskan mengakhiri hidupnya dengan menenggak kerosin. Inilah asal muasal nama Quero dari Kerosin.

Film ini menjadi contoh bagaimana beratnya hidup anak tanpa kasih sayang dari orang tuanya. Tidak semua orang yang dititipkan anak dengan ikhlas membesarkan anak yang bukan darah dagingnya sendiri.  Saat sebagian anak mendapatkan limpahan kasih sayang dari orang tuanya, anak-anak seperti ini harus berjuang untuk menemukan kasih sayang itu dan bahkan dijalanan. Apa yang bisa diharapkan dijalanan? Dengan segala keterbatasannya tentu anak-anak ini akan mudah bertemu dengan kekerasan, kejahatan atau mungkin bahkan kematian. Ada baiknya hal ini menjadi pemikiran dalam mengambil keputusan untuk memiliki anak. Tentu kita tidak ingin anak kita nanti berakhir perih dan sedih seperti hidup Quero yang tanpa kasih sayang orang tua.  

Bagaimana dengan tipe orang tua ketiga yang telah dipaparkan diatas? Tipe orang tua yang dengan penuh tanggung jawab membesarkan anaknya, berusaha memberikan yang terbaik dan membiarkan sang anak memilih dan menentukan hidup untuk kebahagiannya. XXY karya sutradara Lucia Puenzo dari Argentina memberikan sekelumit kisah tentang hal itu. Film ini mengambil tema kisah yang cukup sensitif. Alex (Ines Efron) terlihat seperti wanita remaja pada umumnya. Tetapi ternyata Alex sungguh istimewa, dalam usianya yang belum genap 20 tahun Alex harus menghadapi dilema tumbuh dengan dua kelamin/kelamin ganda. Dibesarkan sebagai anak perempuan, Alex justru semakin menunjukan sikap kelaki-lakiannya. Sang ibu Suli (Valeria Bertucelli) seperti sangat ingin memiliki anak perempuan tulen. Sedang ayahnya Kraken (Ricardo Darin) yang bekerja sebagai seorang Biologis lebih terlihat cuek dan santai, meskipun pada perkembangannya Kraken juga tampak dilema menghadapi anak gadis/laki-lakinya ini.

Tanpa diskusi yang panjang dengan Kraken, Suli memutuskan untuk meminta bantuan Ramiro (German Palacios) koleganya untuk datang dan memperkenalkannya pada Alex. Dengan maksud membentuk hubungan sedemikian rupa antara Alex dan Ramiro. Ramiro yang adalah seorang dokter bedah alat kelamin. Kraken tidak terlihat menantang keinginan sang istri. Hingga tanpa sengaja Kraken melihat hubungan badan antara Alex dengan Alvaro (Martin Piroyansky) anak laki-laki Ramiro yang ikut serta dengannya. Dilema buat Kraken kemudian adalah karena dia melihat Alex justru berperan sebagai laki-laki dalam hubungan badan tersebut. Kondisi ini tentu diperparah dengan hadirnya Ramiro yang secara psikologis sedang melakukan pendekatan psikologis sebelum proses operasi alat kelamin laki-laki Alex. Sampai kemudian sebuah tragedi pelecehan yang dilakukan oleh beberapa nelayan yang penasaran dengan rumour mengenai Alex, menjadi titik bagi Kraken menentukan sikap terhadap anaknya. Tidak ingin perkembangan fisik dan mental anaknya terganggu Kraken memutuskan untuk segera mengambil tindakan.
Kraken ditampilkan sebagai sosok orang tua yang bijak. Dilema berat yang dihadapinya tidak menjadi beban untuk kedekatannya dengan Alex. Kraken mencoba mendekati Alex semakin dalam dan dalam untuk lebih bisa memahami apa sebenarnya yang diinginkan anaknya. Tidak ingin mengambil keputusan terburu-buru mengikuti keinginan istrinya menentukan jalan hidup Alex sebagai perempuan, Kraken perlahan mulai memahami dunia anaknya. Kraken memutuskan untuk membiarkan Alex menentukan dan memilih jalan hidupnya sendiri, sampai dia yakin apa yang akan dipilihnya nanti. Keputusan tersebut sangat bijak karena dengan membiarkan Alex pada pilihannya tentu akan membebaskan Kraken dari rasa bersalah dikemudian hari jika dia yang menentukan Alex tumbuh sebagai perempuan atau laki-laki seperti yang diinginkan Suli.

XXY menjadi salah satu film terbaik bagaimana mestinya orang tua bersikap terhadap anak. Film yang rilis 2007 ini memberikan suguhan bijak hubungan orang tua dan anak dengan masalah yang cukup pelik dan sensitif. Masalah tersebut justru kemudian membimbing orang tua dan anak pada tahap saling memahami satu sama lain. Tidak ada paksaan bagi anak untuk menjalankan apa yang semestinya menurut orang tua adalah sesuatu yang harus dilakukan. Yang ada hanyalah fase dari sisi-sisi pemahaman pikiran masing-masing dengan pendekatan demi pendekatan untuk memberikan keputusan yang benar-benar terbaik untuk masa depan sang anak.
Kisah-kisah dari film di atas diharapkan bisa menjadi panutan. Tentu semua orang tua selalu ingin yang terbaik terhadap anaknya. Pastikan hal “terbaik” itu adalah hal yang benar-benar diinginkan oleh anak. Menjaga kasih sayang, menerima kehadiran anak dengan sukacita, memberikan pendidikan dan pemahaman akan kehidupan dan yang paling utama sekali adalah menjaga komunikasi dengan anak untuk membantu memahami satu sama lain. Dari sebuah film Brasil produksi 2003, The Middle of the World, karakter Ramao, sang ayah berkata “A Son must respect his parents, but parents dont own their children. A Mother gives life, but she doesn’t own her children”

Keputusan untuk memiliki anak tentu adalah hal yang mulia. Karena kita berani menerima tugas mulia menerima titipan Tuhan. Dan hadirnya sebuah keluarga yang baik menjadi penting bagi tumbuh kembang anak. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan individu. Sejak kecil anak mestinya tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga. Dalam hal ini peranan orang tua menjadi amat sentral dan sangat besar pengaruhnya bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara langsung dan tidak langsung. 

Minggu, 12 Juni 2011

Alice's House (Brasil.2007)

Director & Screenplay: Chico Teixeira
Cast:
Carla Ribas - Alice
Berta Zemel - Alice's Mother
Ze Carlos Machado - Alice's Husband
Vinicius Zinn - Lucas
Ricardo Villaca - Edinho
Felipe Massuia - Juninho
Renata Zhaneta - Carmen
Luciano Qurino - Nilson
Mariana Leighton - Thais

Keluarga menjadi tempat awal dimana manusia belajar segala hal untuk hidup. Saling menghargai, mempercayai, menyayangi, mengasihi dan membagi rasa cinta antara sesama anggota keluarga. Tetapi bagaimana kemudian jika hal-hal tersebut tidak ada dalam sebuah keluarga. Siapakah yang patut disalahkan? Orang tua yang mendidik anak dengan cara yang salah? atau anak yang memang sulit untuk dikendalikan? Kisah disfungsional keluarga telah begitu sering menjadi inspirasi banyak film. Yang paling kita ingat tentu American Beauty (1999) dari sutradara Sam Mendes yang memperlihatkan bagaimana ayah, ibu dan anak adalah 3 monster yang tidak berhasil menguasai diri sendiri dan hancur dengan 'kemonsterannya' itu. American Beauty menerima 5 piala Oscar tahun 2000 termasuk untuk film dan sutradara terbaik. Sutradara muda Chico Teixeira mempersembahkan sebuah American Beauty versi Brasil. Sebuah kisah disfungsional keluarga dengan latar belakang kota Sao Paulo, Brasil. 

Ini adalah kisah keseharian Alice (Carla Ribas) dan keluarganya. Alice menikahi seorang supir taksi bernama Lindomar (Ze Carlos Machado). Mereka memiliki tiga orang anak laki-laki, si sulung Lucas (Vinicius Zinn) yang mengabdikan dirinya untuk pemerintah sebagai tentara. Edinho (Ricardo Vilaca) anak tengah yang selalu menjadi masalah bagi Lucas, Juninho (Felipe Massuia) si bungsu yang sangat disayang Alice dan dekat dengan Lucas. Selain mereka berlima ada ibu Alice, Dona Jacira (Berta Zemel) yang lebih bertindak seperti pembantu di rumah Alice. Membersihkan rumah, menyuci pakaian semua anggota rumah dan juga memasak untuk mereka semua. Dona Jacira menjadi tempat bertumpuknya semua rahasia anggota keluarga Alice, karena tanpa sengaja Dona selalu melihat dan menemukan gelagat dan bukti-bukti rahasia yang disimpan rapi oleh semua anggota rumah Alice, termasuk Alice sendiri. 

Karena tidak memiliki anak perempuan, Alice dekat dengan tetangganya Thais (Mariana Leighton) yang selalu curhat pada Alice, karena sedang berhubungan dengan pria yang usianya jauh diatasnya. Untuk membantu perekonomian keluarga Alice berkerja pada sebuah salon dan memiliki pelanggan tetap yaitu Carmen (Renata Zhaneta). Hubungan Alice dengan suaminya sudah sangat hambar. Alice terlihat berusaha memperbaiki itu. Tetapi seperti tidak ada rasa lagi diantara dia dengan Lindomar. Bahkan Alice mengikuti saran Carmen untuk mencukur (maaf) rambut kemaluannya untuk memberikan kejutan pada Lindomar, ujung-ujungnya hal tersebut justru menjadi joke bagi Lindomar. 

Hubungan antara Lindomar dan Alice dengan anak-anaknya ditampilkan tidak seperti bagaimana mestinya ayah/ibu dan anak, terasa hambar. Diperlihatkan bahwa anak laki-laki begitu sulit untuk dekat dengan ibunya. Hanya Juninho, si bungsu yang masih mendapatkan perhatian lebih dari Alice. Meskipun sering kali Lucas memintanya untuk berhenti merokok, Alice diperlihatkan tidak begitu peduli pada permintaan anak sulungnya itu. Hubungan diantara ketiga anak-anak ini tidaklah sehat. Dengan usia yang sudah menginjak dewasa mereka bertiga masih harus terpaksa tidur satu kamar. Edinho menjadi sosok yang selalu menjadi masalah buat Juninho dan Lucas. Lucas memberikan perhatian lebih pada Juninho yang lama kelamaan tidak lagi terlihat dari seorang kakak pada adiknya, tetapi lebih dari itu. 

Perlahan masalah demi masalah semakin menumpuk menimpa setiap anggota keluarga. Lindomar ternyata menjalin hubungan spesial dengan Thais. Alice kembali bertemu dengan kekasih masa lalunya yaitu Nilson (Luciano Qurino) yang ternyata adalah suami dari Carmen, diam-diam mereka menjalin hubungan gelap. Lucas mengambil pekerjaan sambilan sebagai pria panggilan, melayani pria-pria hidung belang. Edinho sibuk dengan kenakalan ala anak remaja pada umumnya seperti narkoba dan mengutil. Sang nenek, Dona harus menerima kenyataan sedang mengalami gejala kebutaan. Si bungsu Juninho menjadi satu-satunya tokoh central yang tidak mendapatkan masalah berat, kecuali mengkhawatirkan semua hal efek dari masalah anggota keluarganya yang lain. Hubungan Lindomar, Alice dan Dona ditampilkan dengan tumpukan masalah dari masa lalu mereka. Bagaimana sebenarnya Alice menyalahkan Dona atas pernikahan tidak bahagianya dengan Lindomar. Bagaimana Lindomar berusaha menyingkirkan Dona dari rumahnya sendiri, karena ternyata kemudian penonton mengetahui Lindomar tidak memiliki hak atas rumah itu. Bagaimana Lindomar kerap kali meminta Alice untuk menyakinkan ibunya untuk tinggal di panti Jompo. 

Klimaks film ini adalah adegan perkelahian antara Lucas, Edindo dan Juninho saat makan, berakhir dengan amukan Alice yang mengacak-acak ruang makan dengan membabibuta. Ini menjadi puncak kemarahan Alice akan hidupnya. Beban berat yang dipikulnya selama ini seperti membakar amarahnya menghasilkan tenaga luar biasa menghancurkan segala hal yang ada di depannya saat itu. Alice terjebak pada kepedihan, kemarahan tak berujung tanpa leluasa meninggalkan semuanya dengan mudah. Tidak heran kemudian amarahnya begitu besar dan tanpa kontrol. Adegan ini terasa sangat menyedihkan dan pahit. 

Film ini mengalir mengikuti kisah hidup semua karakternya, kamera seperti hanya sebuah media yang menjembatani kisah ini dengan penonton, karena terasa begitu dekat dengan keseharian, nyata tanpa banyak embel-embel dramatisasi. Semua terlihat apa adanya, jujur dan mengesankan. Dengan eksekusi yang baik, film perdana karya Chico Teixeira ini memikat penonton, menikmati dan mempertanyakan hidup mereka sendiri setelah film ini berakhir. Karena sampai film ini berakhir tidak ada masalah yang benar-benar diselesaikan. Masalah tidak juga mengambang, beberapa mengalami penyelesaian tetapi justru menimbulkan permasalahan baru. Naskah film ini mencoba untuk menilik dalam pada kehidupan manusia. Hidup terus berjalan, masalah datang dan pergi, keputusan baik dan buruk yang diambil mengandung resiko. Resiko adalah kenyataan yang musti dihadapi dengan kompromi. Baik dan buruknya tetap harus dijalani, ya karena itu tadi, bahwa hidup terus berjalan. 

Karakter Dona Jacira menjadi satu-satunya karakter yang paling mudah mendapatkan simpati penonton. Dona yang hampir seperti pembantu di rumah tersebut harus mendapatkan perlakuan semena-mena dari Menantunya yang berusaha 'memindahkannya' ke panti jompo. Dari cucu-cucunya yang benar-benar tanpa santun memerintahkan Dona Jacira melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan nenek pada cucunya, seperti ketika Lucas meminta untuk melayaninya makan, Edinho yang mencuri uang dari dompetnya. Dona Jacira terlihat begitu berbesar hati menerima semua perlakuan tanpa perlawanan dan sanggahan. Bahkan ketika dia menemukan bukti-bukti perselingkuhan Lindomar, dia hanya diam dan bertindak seperti tidak terjadi apa-apa. Ataupun ketika dia melihat transaksi Lucas dengan seorang pria. Berta Zemel yang merupakan salah satu aktris senior Brasil memerankan Dona Jacira yang nelangsa dengan sangat baik. 

Alice yang menjadi protagonis dalam film ini semakin menuju akhir film diperlihatkan menjadi semakin mementingkan diri sendiri. Masalah yang begitu bertumpuk di rumahnya menjadi alasan bagi Alice untuk sering meninggalkan rumah, bercengkrama dengan kekasih gelapnya. Mencoba untuk mencari ketenangan diluar rumah dengan cinta semu yang didambakannya dari Nilson. Keputusan untuk meninggalkan rumah dan pergi mencari Nilson menjadi keputusan terburuk Alice yang semakin menjauhkannya dari keluarganya dan penonton film ini. Alice menjadi karakter yang semakin mudah dibenci menjelang film berakhir. Aktris dan produser Carla Ribas memberikan aura Alice yang awalnya dikasihani menjadi Alice yang mementingkan diri sendiri dengan sangat sempurna.

Untuk perannya sebagai Alice, Carla Ribas menerima penghargaan best actress dari banyak festival film internasional antara lain dari Guadalajara Mexican Film Festival, Miami Film Festival, Rio de Janeiro International Film Festival, Sao Paulo Association of Art Critics Awards dan Sao Paulo International Film Festival.

Chico Teixeira yang baru pertama kali menyutradarai film juga menerima beberapa penghargaan atas kesempurnaan arahannya untuk film ini. Chico diberikan penghargaan C.I.C.A.E Awards dari San Sebastian Internatonal Film Festival, best first work dari Havana Film Festival, FIPRESCI Awards dari Guadalajara Mexican Film Festival, Grand Prix Youth Jury Award dari Fribourg International Film Festival dan Plaque Award untuk International Film dari Chicago International Film Festival.

Minggu, 05 Juni 2011

Mutum (Brasil.2007)


Director: Sandra Kogut
Screenplay : Sandra Kogut & Ana Luiza Martins
Novel : J. Guimaraes Rosa (Campo Geral)
Cast :
Thiago da Silva Mariz – Thiago
Joao Miguel – Father
Izadora Fernandes – Mother
Wallison Felipe Barroso – Felipe
Romulo Braga – Tio

J. Guimaraes Rosa adalah salah satu dari sekian banyak penulis asal Brasil yang novelnya banyak diadaptasi menjadi karya visual film dan televisi. Novel Campo Geral adalah novel terakhirnya diadaptasi menjadi film oleh Sandra Kogut yang memilih mengunakan judul Mutum. Jika City of God (2002), Quero (2007) dan Pixote (1981) adalah kisah berlatar psikologi anak-anak Brasil yang hidup di kota besar. Maka Mutum memfokuskan cerita pada kisah yang tidak jauh berbeda tetapi mengambil latar belakang pedesaan pedalaman Brasil, tepatnya Minas Gerais. Tema yang diangkat selain sama dengan ketiga film di atas juga berfokus pada hubungan ayah dengan anak laki-lakinya, hampir sama dengan Behind the Sun (2002).

Kisah dibuka dengan kedatangan Thiago (Thiago da Silva Mariz) usia 9 tahun, seorang anak sensitif, terlihat begitu tenang yang tinggal bersama keluarganya di sebuah pedesaan terisolasi di Minas Gerais (Brazil Tenggara). Hidup keseharian Thiago dan saudara-saudaranya hanya dengan kebahagiaan yang sederhana. Menertawakan burung beo nya, memandikan anjingnya yang bernama Rebecca dan bermain dengan saudara-saudaranya. Sebagai anak laki-laki pertama di rumahnya Thiago telah merasa bertanggung jawab untuk melindungi saudara-saudarinya dan bahkan ibunya (Izadora Fernandes). Ayahnya (Joao Miguel) adalah seorang pekerja ladang yang giat tetapi begitu keras terhadap Thiago dan keluarganya. Bahkan dengan usia yang baru 9 tahun ayahnya telah menuntut Thiago untuk bekerja membantunya di ladang, meskipun dia terlihat begitu rapuh dan ringkih, Thiago memaksakan diri untuk membuktikan dia mampu melakukan pekerjaan seorang pria. Serangkaian kejadian hubungan antara ayah dan ibunya yang tidak begitu dipahaminya menjadikan Thiago pribadi yang suka merenung dan selalu merasa terancam oleh sifat temperamental ayahnya. Begitu sulit bagi Thiago untuk bisa paham dan mengerti pemikiran orang dewasa di sekitarnya, bahkan kedekatannya dengan sang paman (Romulo Braga) tidak memberikan jawaban karena disisi lain dia merasakan sang paman adalah perusak hubungan ayah dan ibunya. Sampai kemudian mendadak Felipe (Wallison Felipe Barroso) adik laki-lakinya jatuh sakit dengan kondisi yang semakin parah dan kesedihan semakin mengisi ruang kehidupan keluarga kecil terisolasi ini.

Mutum adalah debut feature film Sandra Kogut yang lebih terkenal sebagai sutradara film-film dokumenter. Tidak salah memang jika film ini terasa begitu ‘dokumenter’ pada hampir semua bagian. Beberapa adegan yang cukup memberikan kesan mendalam adalah dialog-dialog menarik tentang kehidupan dari sudut pandang Thiago dan Felipe yang kerap kali terjadi menjelang malam mereka tidur. Adegan lain yang cukup menyesakkan adalah ketika Thiago harus menerima kenyataan Rebecca, anjing kesayangannya diambil dan dihilangkan begitu saja oleh Ayahnya tanpa bisa meminta penjelasan. 

Meskipun penulis belum pernah membaca novel dari film ini, tetap dapat diperhatikan bahwa pilar-pilar utama Novel J. Guimaraes Rosa yang berjudul Campo Geral diterjemahkan dengan sangat detail oleh Sandra Kogut, karena film ini tereksekusi dengan baik. Kogut melakukan beberapa perubahan mendasar, tanpa merusak keutuhan tema, cerita dan premis novelnya sendiri. Seperti misalnya menganti nama-nama karakternya menyesuaikan dengan pemain yang telah dipilihnya. Karakter utama kisah ini yang bernama Miguilim diganti menjadi Thiago, yang diambil dari nama asli pemainnya. Hal ini bermaksud untuk membantu pembangunan karakter terhadap Thiago sendiri, dengan menggunakan nama aslinya tentu Thiago dengan lebih mudah untuk diarahkan. Hal tersebut juga terjadi untuk beberapa karakter lainnya. Selain itu karena hampir semua pemain yang terlibat dalam film ini bukanlah aktor profesional, sehingga keputusan untuk menggunakan nama asli mereka sebagai nama karakter membantu untuk menciptakan karakter yang memang tidak jauh berbeda dengan kehidupan asli anak-anak yang berasal dari daerah lokasi pembuatan film. Hanya Joao Miguel dan Romulo Braga yang tercatat sebagai aktor profesional.

Skenario adaptasi film ini menggunakan dialog seminimal mungkin. Tidak banyak percakapan yang hadir. Filosofis tentang kehidupan, kesedihan dan kematian dihadirkan dengan terjemahan visual dan kekuatan ekspresi untuk membentuk atmosfer sepi dan sunyi. Gambar dan suara yang begitu jelas menjadi seperti sebuah karya impresionis yang berhasil membuat kita merasakan debu, panas, mencium aroma hujan, dan merasakan langsung semua yang terjadi dalam film. Meskipun pada beberapa bagian terasa begitu lambat. Plot-plot cerita yang dihadirkan memaksa penonton untuk menyimak film ini seperti sebuah dokumenter keseharian kisah kehidupan Thiago. Sebuah dokumenter dengan dramatisasi yang telah disesuaikan. Satu hal lagi yang semakin menciptakan kesan sepi buat film adalah tidak adanya musik penggiring yang biasanya membantu memberikan emosi pada penonton. Sinematografi yang dihadirkan Mauro Pinheiro juga terlihat begitu tenang, sunyi dengan gambar-gambar landscape pedesaan Brasil memotret perasaan, kehidupan dan kesedihan yang terekam apa adanya.

Film ini menghadirkan bentuk lain dari kehidupan anak-anak Brasil yang kurang beruntung tanpa bisa banyak menuntut dan harus kompromi menerima kenyataan dihadapannya. Tanpa bisa banyak meminta hal-hal yang diinginkan, tanpa bisa menerima kasih sayang yang seutuhnya bahkan dengan keluarga disisinya. Sebuah ‘happy ending’ memang dihadirkan untuk hidup Thiago, tetapi apakah hidupnya akan menjadi lebih ‘happy’ setelah melalui masa kanak-kanak yang berat.

Film ini menerima Deutsches Kinderhilfswerk - Special Mention dari Berlin International Film Festival 2008. Menerima Dioraphte Award dari Rotterdam International Film Festival 2008. Film terbaik dari Rio de Janeiro International Film Festival 2008 dan banyak penghargaan dari beberapa awards film di Brasil. 


Kamis, 02 Juni 2011

Pixote (Brazil.1981)

Director & Screenplay: Hector Babenco
Based on Book: Jose Louzeiro
Cast:
Fernando Ramos da Silva – Pixote
Jorge Juliao – Lilica
Gilberto Moura – Ditto
Edilson Lino – Chico
Zenildo Oliveira – Fumaca
Marilia Pera – Sueli
Elke Maravilha – Debora
Tony Tornado – Cristal
Jordel Filho - Sapato

Hector Babenco terkenal dengan Carandiru (2003), Foolish Heart (1996), Ironweed (1987), Kiss of Spiderwoman (1985). Tetapi sebelum terkenal dengan film-film itu, dia pernah menghasilkan sebuah karya masterpiece untuk perfilman Brasil, yaitu Pixote (1981). Pixote menjadi wakil ribuan anak jalanan Brasil (dan bahkan mungkin dunia) yang menjadi korban dari segala keterpurukan  kehidupan masyarakat Brasil. Korban dari orang tua yang tanpa tanggung jawab penuh memutuskan memiliki anak. Korban dari kemiskinan yang menguasai hampir semua taraf hidup masyarakat kelas bawah. Korban dari ketidakpedulian Pemerintah memberikan kesejahteraan untuk penduduknya. Korban dari rangkuman segala ketidakberdayaan dan ketidakpedulian semua pihak pada anak-anak yang lahir tanpa orang tua yang jelas, tanpa taraf hidup yang baik dan tanpa pendidikan yang memadai. Bahkan instansi yang disediakan untuk mengembalikan anak-anak jalanan pada masyarakat dengan memberikan bekal pendidikan justru menjadi tempat penyiksaan dan perangkap yang hanya menguntungkan para sipir dan polisi kotor.

Pixote dibuka dengan sebuah dokumenter pendek tentang bagaimana kondisi  kehidupan masyarakat miskin di Sao Paulo, yang kemudian berakhir dengan profile Fernando Ramoas da Silva yang memerankan Pixote. Fernando adalah anak asli kawasan kumuh Sao Paulo. Pixote kemudian membawa penontonnya pada sebuah lembaga permasyarakatan khusus anak-anak dibawah 18 tahun yang memang sengaja didirikan untuk membentuk pribadi-pribadi anak-anak jalanan dengan bekal pendidikan. Melalui sebuah operasi, Pixote tertangkap dan digiring untuk menjadi penghuni lapas khusus ini. Bersama Pixote tertangkap juga Lilica (Jorge Juliao) seorang pemuda berusia 17 thn yang merasa terjebak dalam tubuh lelaki, ada juga Fumaca (Zenildo Oliveira), Dito (Gilberto Moura) dan Chico (Edilson Nino) yang kemudian menjadi karakter-karakter central dalam kisah hidup Pixote selanjutnya.

Tetapi bukan ‘perbaikan’ yang mereka terima dalam lapas ini. Sapato (Jordel Filho) yang menjadi kepala para sipir Lapas begitu semena-mena, bertindak kasar dan keras membentuk anak-anak tersebut menjadi pribadi-pribadi yang penuh kebencian. Mereka dituduh melakukan kesalahan-kesalahan dan tindak kriminal yang tidak pernah mereka lakukan. Bahkan entah untuk alasan yang tidak begitu jelas beberapa anak termasuk Pixote dipaksa untuk menjadi tersangka sebuah kasus kejahatan dan beberapa diantara mereka bahkan ditembak mati tanpa alasan. Termasuk yang dialami Fumaca yang cukup dekat dengan Pixote. Fumaca ditemukan di sebuah tempat pembuangan sampah dari keadaan sangat menyedihkan dengan luka disekujur tubuhnya. Untuk menutupi tindak kejahatan yang dilakukan oleh pada Polisi kotor ini, pihak pengurus Lapas membuat cerita bohong tentang perkelahian diantara para penghuni lapas dan mengorbankan salah satu penghuni lapas sebagai tersangka yang kemudian berakhir dengan kematiannya.
Atas dasar kemarahan yang memuncak Lilica mengerahkan semua anak-anak untuk melakukan pembakaran terhadap fasilitas Lapas tersebut. Hal ini memberikan kesempatan mereka untuk bisa kabur dari lapas tersebut. Bersama Lilica, Pixote, Chico dan Dito memulai hidup baru mereka dijalanan Sao Paulo dan bercita-cita untuk bisa segera ke Copacabana, Rio de Janeiro. Hidup dikota besar tidaklah mudah bagi mereka. Untuk menyambung hidup mereka berkelompok menjambret para pejalan kaki. Sampai kemudian mereka bertemu dengan Cristal (Tony Tornado) yang mempercayai mereka untuk menjadi penyalur kokaiin dari Sao Paulo ke Rio de Janeiro. Petualangan mereka menjual obat bius berakhir dengan kisah menarik dengan Sueli (Marilia Pera) seorang pelacur tua di Rio de Janeiro, yang kemudian justru mengubah dan menghancurkan persahabatan mereka untuk selamanya.

Babenco dengan gamblang mempersembahkan sebuah kisah dokudrama yang jujur dan apa adanya. Tanpa perlu dramatisasi yang berlebihan dengan realita nyata dihadirkan mendekati keadaan yang sedang dihadapi oleh Brasil pada saat itu dan bahkan hingga saat ini. Kejujuran yang dihadirkan film ini menguliti Pemerintah Brasil saat rilis tahun 1981, karena tanpa basa basi sebuah lembaga permasyarakatan untuk anak-anak terlantar dan bermasalah justru semakin memberi masalah berat bagi anak-anak itu sendiri. Sistem dan program yang diharapkan berjalan dengan baik justru sebaliknya. Sumberdaya manusia yang dipercaya untuk mengelola tempat ‘perbaikan’ tersebut justru menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan mereka untuk kepentingan sendiri. Bahkan hal ini menjadi endemik karena hingga sekarang permasalahan ini masih menjadi momok di Brasil (bisa dilihat film Quero (2007) yang juga berkisah hampir sama dengan film ini).

Detail paling menyedihkan adalah bahwa film ini telah dibuat hampir dua puluh lima tahun yang lalu. Film ini menjadi semacam catatan sejarah/dokumen dunia untuk kemiskinan dan kebejatan dan pahitnya lagi kondisi yang sama masih menjadi masalah yang sama sampai sekarang, mungkin hanya berubah sedikit saja. Satu hal yang cukup menarik dari film ini adalah bagaimana wajah Pixote seperti mengalami perubahan menjadi semakin “tua” dan “tua” menuju ending film. Entah bermaksud untuk memberikan pengertian bahwa Pixote dipaksa dewasa karena tinggal dijalanan menghadapi beratnya hidup.

Banyak sekali adegan brutal dan menyentuh yang dihadirkan Pixote. Bahkan terkadang terasa begitu miris dan pahit. Seperti saat Lilica dan Pixote menyanyikan sebuah lagu sendu tentang cita-cita sambil memandang kearah Copacabana. Atau ketika Pixote yang begitu mendambakan seorang ibu dibiarkan oleh Sueli menyedot putingnya. Tidak ada tendensi seksual, yang ada hanya seorang bocah yang haus akan perhatian dan rindu akan kasih sayang seorang ibu. Sungguh menyedihkan!

Yang menjadikan film ini semakin terasa sangat nyata adalah bagian akhir film yang dibuat tanpa ada embel-embel sad ending atau happy ending. Film dibiarkan berjalan menuju akhirnya sendiri mengikuti kemana kisah hidup Pixote akan membawanya. Tidak ada yang diselesaikan dalam film ini karena hidup terus berjalan. Pixote harus terus menemui puing demi puing jalan hidupnya tanpa bisa banyak kompromi. Bagian kisah film ini hanya menjadi sekelumit kisah hidup Pixote yang direkam dan Pixote terus berjalan menapaki jalan mencari kisah-kisah hidup selanjutnya.

Delapan  tahun setelah film ini rilis, pemeran Pixote, Fernando Ramos da Silva ditemukan tewas. Menjadi sebuah pembuktian bahwa kerasnya hidup yang dijalani oleh Fernando yang memang adalah anak jalanan asli Sao Paulo. Kisah “Pixote” berakhir pahit dengan kematiannya. Sebuah film dari sutradara Jose Joffily dipersembahkan utk kematian Pixote produksi 1997 dengan judul Who Killed Pixote.
Pixote dinominasikan film berbahasa asing terbaik Golden Globe 1982. Menerima penghargaan film terbaik dari Boston Society of Film Critics Awards, Los Angeles Film Critics Association Awards dan New York Film Critics Circle Awards.