Jumat, 06 Mei 2011

Control (UK.2007)


Director:
Antoin Corbjn
Screenplay :
Deborah Curtis (Novel), 
Matt Greenhalgh (Screenplay)
Cast:
Sam Riley – Ian Curtis
Samantha Morton – Deborah Curtis
Alexandra Maria Lara – Annik Honore
Toby Kebbel – Rob Gretton
Joe Anderson – Peter Hook
James Anthony Pearson – Bernard Summer
Harry Treadaway – Stephen Morris

Banyak sekali film-film yang merupakan hasil adaptasi kisah-kisah hidup banyak selebtiris dan tokoh ternama dunia. Beberapa bahkan dibuat saat sang selebritis atau tokoh tersebut masih hidup. Lihat saja bagaimana kisah hidup Kurt Cobain baik menjadi inspirasi banyak film-maker, bahkan tahun 2010 lalu muncul lagi sebuah dokumenter terlengkap dari hidup Cobain, When You’r Strange. Lihat pula Stephen Frears yang mengambarkan secara fiktif bagaimana Ratu Elizabeth II menerima kematian mantan menantunya, Lady Di dalam The Queen (2006). Atau cerdasnya Benneth Miller menvisualisasikan bagaimana Truman Capote berhasil menyelesaikan In Cold Blood juga dengan cara yang juga ‘cold blood dalam Capote (2005).


Dunia musik memberikan banyak catatan sejarah panjang bumi ini. Hasil-hasil karya musik menjadi salah satu karya terbaik anak manusia yang diperuntukkan untuk manusia itu sendiri. Musisi cerdas menjadi panutan dan digemari ribuan bahkan jutaan orang karena berhasil membawa perubahan besar dalam dunia musik itu sendiri atau bahkan mempengaruhi banyak hal disekitarnya. Selain Kurt Cobain, salah satu yang mungkin masih akan terus diingat adalah Ian Curtis. Pentolan dan vokalis band Joy Division yang sangat populer akhir 1970an. Ian ditemukan mengantung dirinya di rumahnya sendiri pada usia 23 tahun. Control mencoba mengilas balik kisah hidup Ian sepanjang kariernya bersama Joy Division sampai akhirnya meninggal mengenaskan.

Ian Curtis (Sam Riley) berasal dari kota kecil Macclesfield, Chesire, Inggris. Ian adalah pribadi yang tertutup, suka menyendiri, sering menghabiskan waktu di kamarnya sambil mendengarkan musik-musiknya David Bowie, menulis puisi dan menenggelamkan impian-impiannya bersama kesuraman pikirannya. Kelihaian Ian dalam menulis puisi, lirik lagu dan kecintaan pada musik membawanya bertemu dengan Bernard (James Anthony Pearson) dan Peter Hook (Joe Anderson) yang menawarkan padanya untuk menjadi vokalis utama dan penulis lagu-lagu untuk band mereka yang bernama Warsaw. Kecocokan diantara mereka berlangsung lama hingga beberapa tahun kemudian mereka sepakat menganti nama Warsaw dengan Jov Division.

Sebuah keputusan terbesar dalam hidupnya adalah menikahi Deborah Curtis, kekasihnya yang baru berusia 16 thn, dan saat itu Ian baru berusia 19 thn. Terlalu sibuk dengan bandnya dan tidak bisa menentukan fokus utama hidupnya membuat hubungan pernikahannya dengan Deborah terombang-ambing tidak jelas. Apalagi kesuksesan Joy Division semakin melambungkan namanya yang membuat Ian semakin tidak bisa mengontrol dirinya. Pertemuannya dengan Annik (Alexandra Maria Lara) seorang wanita Belgia semakin menjauhkannya dari Deborah.

Ditangan manajer Rob Gretton (Toby Kebbel) Joy Division menunjukkan kemajuan yang pesat dan mengembirakan. Bertolak belakang dengan kehidupan pribadi Ian. Selain isu perselingkuhan yang merusak hidupnya, kondisi kesehatan juga menjadi penyebab Ian terjebak pada tujuan hidup yang tak tentu arah. Kejayaan, popularitas yang berlebihan, ketidak seimbangan mental dalam menghadapi semuanya mengantar Ian pada sebuah keputusan untuk mengakhiri hidupnya. Entah bentuk dari rasa bersalahnya pada Deborah, atau ketidakpuasannya pada Joy Division, atau kondisi emosional kejiwaannya yang tidak menentu, tidak begitu jelas ditampilkan apa sebenarnya alasan utama Ian akhirnya memutuskan mengantung diri di dapur rumahnya pada 18 mei 1980.

Film ini diangkat dari sebuah novel yang ditulis sendiri oleh istri Ian, Deborah Curtis yang berjudul Touching from a Distance. Deborah yang dinikahi Ian pada usia 16 tahun harus berbesar hati merelakan perasaan marah, benci dan terbuang untuk menuliskan kenangan termanisnya tentang mantan suaminya. Deborah menuliskan tanpa ada rasa benci dan penyesalan pada novel tersebut, benar-benar menjadi sebuah novel perjalanan hidup salah seorang musisi muda terhebat yang pernah hidup dengan cinta yang begitu besar dari istrinya.
Tidak jauh berbeda dengan novelnya, Corbijn juga berhasil memaparkan adaptasinya menjadi sebuah biopic musisi yang tanpa ada embel-embel dramatisasi yang berlebihan, menjadi sebuah kisah menyentuh tanpa perlu adanya tempelan kesedihan karena pada dasarnya kisah hidup Ian Curtis sudah sangat mengugah hati. Detail teknis diperlihatkan dengan baik karena film ini berhasil membangun suasana tahun 1970an seperti misalnya penggunaan sinematografi hitam putih. Naskah adaptasi yang ditulis oleh Matt Greenhalgh berhasil menuangkan lingkupan kisah sendu hidup Ian dengan sentuhan musik-musik Joy Division yang ditampilkan juga dengan lengkap dan asli.


Yang menjadi poin terbaik film ini adalah aktor Sam Riley yang memerankan Ian. Sam memiliki paras yang begitu mirip dengan Ian, berhasil membawakan perannya dengan baik. Penonton berhasil dibuat yakin bahwa Ian Curtis seperti hidup kembali dengan gestur, bahasa tubuh dan caranya berbicara Ian Curtis diadaptasinya dengan sempurna. Tidak salah kemudian kalau Sam mendapatkan banyak sekali kritikan positif dan beberapa penghargaan sebagai pendatang baru terbaik. Samantha Morton yang aslinya telah berusia 30an berhasil menyakinkan penonton menjadi Deborah yang baru berusian 16 thn. Atas usahanya ini Morton mendapatkan nominasi BAFTA 2008 untuk aktris pendukung terbaik.

Sebagai karya perdana dari Corbijn, film ini berhasil memaparkan kisah sederhana yang kompleks dan menyentuh dari salah satu musisi terbaik dunia. Sebuah kisah biopic tanpa dramatisasi dari Ian Curtis dengan identitas musik Joy Division yang kuat. 

Paradise Now (Palestina.2005)

Director: Hany Abu Assad
Cast: Ali Suliman, Kais Nashef, Lubna Azabal, Hiam Abbas, Amer Hiehel, Mohammad Bustami

Isu bom belakangan ini di Negara kita menjadi polemik yang menimbulkan berbagai macam spekulasi. Tentu yang sangat menjadi pertanyaan semua pihak adalah apa sebenarnya motif dibalik pembomanan beberapa tempat tersebut. Isu agama menjadi salah satu kontroversi yang menjadi pertentangan berbagai pihak. Bagaimana tidak ketika bom kemudian disangkut pautkan dengan sebuah ajaran yang bernama JIHAD. Bagaimana JIHAD diajarkan dalam Islam dan tujuan seperti apa yang sebenarnya ingin diraih seseorang dalam menjalankan JIHAD itu sendiri. Apakah semudah itu saat semua orang memutuskan untuk berjihad dan bahkan justru merugikan orang-orang yang tidak berdosa dan bahkan satu agama dengannya? Spekulasi atas dasar sikap fanatik yang berlebihan sehingga membuat sebagian orang kebabalasan menerima sebuah ajaran? Atau yang memang sengaja dimafaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menciptakan ketidaknyamanan demi kepentingan politik? Entahlah, karena tidak pernah jelas kemudian motif tersebut dibuka ke publik.

Ada baiknya kita mencoba untuk melihat sebuah kisah “JIHAD” yang dikemas oleh sutradara Hany Abu Assad dalam film Paradise Now. Film ini berhasil menjadi yang terbaik untuk film berbahasa asing terbaik Golden Globe 2006 dan nominasi Oscar untuk kategori yang sama. Kemunculan film tidak tanpa kontroversi. Amerika Serikat yang selama ini dianggap pro-Israel mendapatkan protes karena menerima Paradise Now untuk berlaga pada ajang Oscar. Pihak pro-Israel mempertanyakan pengakuan Amerika Serikat atas kedaulatan Palestina. Sebagaimana kita ketahui Oscar menerima satu film setiap tahunnya dari puluhan negara untuk film berbahasa asing terbaik. Dengan menerima wakil Palestina, berarti Amerika mengakui kedaulatan Palestina. Untuk meredam protes tersebut pihak penyelenggara Oscar akhirnya memilih untuk menyebut Paradise Now adalah wakit dari  daerah “teritori” Palestina. 

Keberuntungan akan kontroversi tersebut tentu menjadikan Paradise Now jadi cukup istimewa. Memang tidak bisa dipungkiri, film ini memang mengambil plot ‘kotroversi’ tersebut yaitu persiteruan Israel-Palestina. Namun Hanny Abu Assad tidak ingin terjebak pada kebencian untuk Israel atau Palestina dalam film ini. Karena kemudian isu tersebut hanya sekedar latar belakang saja, banyak hal-hal komplek lebih mendalam yang dia coba sampaikan dalam film ini seperti isu-isu humanis dan hak azasi manusia yang kemudian menjadi lebih penting dari persiteruan tidak berakhir itu sendiri.


Said (Kais Nashef) dan Khaled (Ali Suliman) adalah dua sahabat warga Palestina yang tinggal di Nablus. Sebagai pemuda tanpa pendidikan dan latar belakang skill yang memadai mereka hanya terjebak pada pekerjaan montir dengan gaji yang sangat kecil. Sampai suatu hari seorang bernama Jamal mengubah hidup mereka, untuk selamanya. Jamal memberi tahukan mereka Said bahwa dia terpilih menjadi pembawa bom ke Tel Aviv, Israel. Bom tersebut adalah bom bunuh diri.

Dalam waktu tidak sampai 48 jam kedua sahabat ini harus mempersiapkan diri untuk sebuah ‘pekerjaan’ yang bahkan mereka sendiri tidak siap untuk melaksanakannya. Sebuah tugas yang akan mengubah segalanya. Sebuah pengorbanan atas nama ajaran Agama dan rasa nasionalisme yang mereka junjung tinggi untuk negaranya. Dilema demi dilema menjadi benturan kepercayaan dan ketakutan. Kebingungan menjadi masalah selanjutnya dalam hidup Said dan Khaled.

Hanny Abu Assad menawarkan masalah benturan pemahaman agama yang pelik dengan jawaban yang tidak mudah. Ingin memberikan gambaran mengenai kegiatan bom bunuh diri dilihat dari sudut pandang yang berlawanan, dari sudut pandang pelakunya. Dengan bermaksud untuk membangun rasa simpati antara penonton dengan si pelaku bom bunuh diri. Dengan cerdas film ini mengupas alasan-alasan Said dan Khaled memutuskan melakukan itu. Mencoba menilik ke dalam relung hati dan pikiran mereka untuk mencari apa tujuan sebenarnya. Dan bahkan kemudian mementahkan alasan-alasan tersebut dengan benturan pada apakah hal tersebut bener-benar ingin mereka lalukan.

Membawa ajaran Agama tertentu menjadi isunya tentu terlihat agak begitu riskan. Namun dari sudut pandang sebuah karya film, tidak ada aspek yang sebenarnya ingin digunakan untuk dipertentangkan. Sebuah film yang menghadirkan rasa empato dan membuat kita mengerti bahwa tidak ada situasi yang bisa dipahami sepenuhnya. Tidak ada pihak yang ingin dipojokkan. Membuktuikan bahwa tidak ada pihak manapun yang dimenangkan dalam kejahatan moral tersebut. Semua itu tersaji dalam gambar-gambar yang minimalis.

Sebuah kesimpulan akhir menjadi penyelesain bagi film ini, tentu maksudnya adalah pemikiran tentang motif apakah sebenarnya yang menyebabkan seseorang bersedia melakukan hal-hal yang terlihat diluar akal sehat. Termasuk dengan merelakan hidupnya, merelakan nyawanya. Apakah benar JIHAD itu sendiri? Atau kemiskinan, ketidakberdayaan. Bagaimana pembuktiaannya bahwa memutusakan untuk menghilangkan nyawa sendiri dan nyawa orang lain dilihat sebagai sebuah tujuan akhir yang jadi tidak masuk akal. Benarkah kemudian akan diraih “Paradise Now”?

Senin, 25 April 2011

Breath (Korea.2008)


Director :
Kim Ki Duk
Cast :
Chen Chang – Jang Jin
Park Ji Ah – Yeon
Ha Jeong Woo – Yeon’s Husband     

Kim Ki Duk dikenal sebagai salah satu sutradara asal Korea Selatan yang memiliki sejumlah karya mengagumkan. Sebut saja The Isle (2000), Bad Guy (2001), Spring Summer Fall Winter and Spring (2003, 3 Iron (2004) dan Time (2007). Film-film ini telah melanglang buana pada banyak festival-festival film internasional dan mendapatkan apresiasi baik. Kim Ki Duk selalu menuangkan ciri khas unik yang membuat filmnya menjadi terasa begitu istimewa. Keberhasilannya ini membawa nama Kim Ki Duk selalu disandingkan dengan sutradara kawakan asia lainnya seperti Wong Kar Wai, Hou Hsio Hsien dan Zhang Yi Mou. Dalam Breath yang merupakan feature film ke 14nya ini Kim memberikan kembali sebuah kisah instalasi pertemuan dua karakter manusia yang berkutat dengan kesedihan dan kesendirian yang mendalam.

Yeon (Park Ji Ah) adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Fokusnya untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk suaminya (Ha Jeong Woo) dan anak semata wayangnya. Saat suaminya muncul dengan pengakuan perselingkuhan yang dilakukannya dan berjanji akan berubah menjadi lebih baik, Yeon justru menemukan keputusasaan dalam hidupnya. Hubungan dengan suaminya menjadi hambar dan semakin mengarah pada kebosanan dan keterpurukan. Sampai suatu hari Yeon menonton sebuah siaran televisi mengenai seorang narapidana yang bernama Jang Jin (Chen Chang). Jang melakukan percobaan bunuh diri untuk yang kesekian kalinya. Yeon justru berempati pada Jang karena dia juga pernah berencana melakukan bunuh diri. Yeon seperti merasakan kegalauan Jang. Yeon akhirnya memutuskan untuk menemui Jang di penjara.
Jang sedang menanti hari eksekusinya. Pria terlihat tidak lagi memiliki semangat hidup. Hidupnya seperti terseok-seok pada emosi yang tidak pernah dia ungkapkan. Kondisi itupun harus diperparah dengan tekanan secara seksual dari teman satu selnya. Kedatangan Yeon mengunjunginya memberikan hiburan bagi Jang. Yeon semakin sering berkunjung. Pada pertemuan demi pertemuan tersebut Yeon berkeluh kesah tentang segala yang dirisaukan. Jang lebih banyak diam menjadi pendengar yang baik. Pada setiap kunjungannya Yeon juga mendesain interior ruang kunjung penjara mengunakan macam-macam atribut dengan menyesuaikan musim saat itu. Merasa semakin mendapatkan penghibur yang selama ini tidak pernah diterimanya, Jang mulai selalu menantikan kedatangan Yeon.

Melalui pertemuan demi pertemuan juga kisah hidup Jang mulai terbuka, bagaimana dia bisa menjadi narapridana dengan hukuman mati, apa yang menyebabkan dia berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri. Yeon sendiri seperti merasakan sesuatu yang lebih berarti mengisi lembar baru hidupnya.

Ada beberapa hal dalam film ini yang dibiarkan tanpa ada penjelasan dan eksplorasi lebih. Bahkan terasa sekali Kim Ki Duk membiarkan nalar tidak bekerja seutuhnya untuk film ini. Dialog yang sangat minim justru menjadi kekuatan utama film ini karena berhasil menerjemahkan interaksi, ekpspresi dan gerakan pada bahasa yang lebih universal. Inilah kemasan terbaik film ini yang disajikan tanpa perlu dipahami, terserah penonton bagaimana mereka memberikan arti dan pemahaman untuk film ini.

Kim Ki Duk memikilih aktor asal China, Chen Chang yang terkenal dengan Crouching Tiger Hidden Dragon, The Go Master dan Eros untuk memerankan Jang. Keterbatasan bahasa justru menjadi keunikan film ini, karena tidak ada satupun dialog yang diucapkan Jang, hanya mengandalkan kekuatan ekspresi dan bahasa tubuhnya. Hal ini telah pernah dilakukan oleh Kim Ki Duk pada film sebelumnya yaitu 3 Iron. Pemilihan pemain berbeda bahasa kembali dilakukan pada filmnya karyanya setelah film ini yang berjudul Sad Dream, Kim Ki Duk memilih Joe Odagiri, aktor asal Jepang.

Film yang menjadi official selection Cannes Film Festival 2008 mengemas Cinta menjadi lambang kekuatan dalam kisahnya. Cinta diperlihatkan bisa datang kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja. Bahwa cinta adalah rasa paling utama untuk bisa memberikan komunikasi terbaik bahkan bagi dua orang yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Cinta dan kegalauan mecoba mencari nafas-nafas yang tepat. Nafas untuk menentukan jalan terbaik untuk hidup ini.




Film Indonesia pada berbagai Festival Film Internasional

Film-film bergenre Horor dengan sentuhan adegan-adegan vulgar masih menghiasi gedung-gedung bioskop kita sampai menjelang pertengahan 2011 ini. Sangat menyedihkan memang melihat deretan film dipajang di bioskop grup 21 dengan judul-judul yang semakin hari seperti melecehkan intelektualitas bangsa ini. Apa yang anda pikirkan saat mendengar judul Kuntilanak Kesurupan atau Pocong Ngesot? Sudah terlalu mengada-ada dan tidak masuk akal lagi bukan? Apakah mereka kehabisan ide atau memang sengaja melakukan itu, entahlah. Tetapi untungnya kita masih memiliki banyak pembuat film yang peduli dengan kemajuan industri ini secara positif. Kita punya Mira Lesmana, Riri Riza, Nia Dinata, Joko Anwar, dan masih banyak lagi, yang terus berusaha mencari, membuat dan memberikan film-film karya terbaik mereka. 

FFI yang mestinya menjadi barometer kualitas (berharap mengkatrol kuantitas film) justru selalu berakhir dengan kontroversi yang tak kunjung henti. Bahkan keakuratan penilaianpun diragukan karena banyak campur tangan pihak-pihak yang memilik kepentingan tertentu. Hanya tiga kali sejak diselenggarakan kembali, FFI mendapatkan apresiasi pembuat film lokal yaitu antara 2004 hingga 2006. Penghujung 2006 penetapan Ekskul sebagai film terbaik justru menimbulkan masalah pelik. Bagaimana tidak? Ekskul terbukti melakukan pelanggaran hak cipta untuk penata musiknya. Kelompok sineas muda Indonesia merasa dikhianati ini akhirnya mengembalikan piala Citra yang telah mereka raih. Para pembuat film yang tergabung dalam MFI (Masyarakat Film Indonesia) ini juga bersepatat untuk tidak lagi mendaftarkan film-film mereka ke FFI. Uniknya film-film tersebut justru sukses mendapatkan berbagai penghargaan dari festival-festival film internasional. Sebut saja dwilogi Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi karya Riri Riza. 

Kemenangan Uncle Boonme Who Can Recall His Past Lives (2010) karya pada Cannes 2010 sebagai film terbaik mestinya menjadi penyemangat buat film-maker kita untuk terus berkarya. Bagaimana tidak? Thailand yang secara budaya tidak terlalu jauh berbeda dengan kita berhasil mengukuhkan salah satu film dan sutradaranya pada sejarah film-film terbaik dunia. Tidak hanya Thailand, Philiphina yang industri filmnya tidak begitu menonjol justru telah terlebih dahulu mendapatkan perhatian Cannes dengan film Kinatay (2007) dan Serbis (2008) karya Briliante Mendoza. Cannes menjadi sorotan dan kebanggaan karena telah menjadi salah satu festival film paling tua dan solid di dunia. Tentu menjadi bagian Cannes merupakan kebanggaan tersendiri. Film Indonesia Daun di Atas Bantal (1998) dan Kara Anak Sebatang Pohon (2005) pernah menjadi bagian dari festival besar ini, meskipun belum untuk film yang berkompetisi atau official selection.

Belum menjadi bagian Cannes secara resmi tentu tidak mengurangi kebangggaan kita pada para pembuat film nasional. Masih banyak festival film internasional lain yang telah dengan nyata memberikan respon positif dan penghargaan pada banyak film nasional, yang memang secara resmi dikirimkan untuk berpartisipasi. 

Berikut ini saya merangkum prestasi-prestasi para pembuat film kita dari beberapa festival dan penghargaan film internasional kurang lebih10 tahun terakhir ini:

Madame X (2010) adalah debut penyutradaraan Lucky Kuswandi yang menjadi official selection pada Hongkong International Film Festival 2010 serta mendapatkan nominasi best production design untuk Eros Eflin dan best supporting actress untuk Shanty pada Asian Film Awards 2011.







Rumah Dara (2010) merupakan debut penyutradaraan Mo Brothers, film ini adalah versi panjang dari film pendek mereka sebelumnya Dara, yang menjadi bagian antologi Takut (2007). Shareefa Daanish yang memerankan Dara berhasil mendapatkan Best Actrees pada Puchon International Fantastic Film Festival (PiFan) 2009 di Korea Selatan.







Garuda di Dadaku (2009) hasil karya duet Salman Aristo dan Ifa Isfansyah yang diproduseri oleh Shanty Harmain diberikan penghargaan Best Film pada penyelenggaraan ke 6 Children and Youth Armenia International Film Festival 2010.








Sang Pemimpi (2008) yang merupakan sekuel Laskar Pelangi (2007) berhasil memboyong Audience Award dari Udine Far East Film Festival 2010 di Italia dan NETPAC Critics Jury Award dari Singapore International Film Festival 2010. Dan yang paling terbaru adalah berhasil meraih Premio Juvenile Award Fici Children Intenational Film Festival Madrid 2010.







Merantau (2009) menjadi Best Film ActionFest International Film Festival 2010? Sebuah penghargaan film aksi tahunan yang digelar di Asheville, North Carolina Amerika Serikat pada 15-18 April 2010. Merantau berhasil mengungguli kandidat lainnya seperti film silat Hong Kong yang dibintangi Donnie Yen, 14 Blades.







Jamila dan Sang Presiden (2009) karya Ratna Sarumpaet yang pernah dikirim untuk Academy Award Best Foreign Film 2009 menyabet dua penghargaan dalam Asian Film Festival Vesoul 2010 di Perancis. Dua penghargan itu yakni Prix de Public dan Prix Jury Lycen. Penghargaan lain adalah Best Original Score Asia Pacific Film Festival 2010 untuk Thoersi Argeswara.  






Perempuan Berkalung Surban (2009) karya Hanung Bramantyo menerima penghargaan Best Supporting Actress Asia Pacific Film Festival 2010 untuk aktris senior Widyawati








Pintu Terlarang (2009) karya terakhir Joko Anwar menjadi Best Film dalam Puchon International Fantastic Film Festival 2009 dan official selection Golden Kinnaree Award untuk Bangkok International Film Festival 2009. Bahkan pada tahun 2009 film ini menjadi salah satu dari 100 film terbaik dunia versi majalah “Sight and Soung” Inggris.





Tiga Doa Tiga Cinta (2008) karya perdana Nurman Hakim dinominasikan sebagai Best Children’s Feature Film pada Asia Pacific Screen Awards 2009. Meraih Grand Prize of International Jury pada Vesoul Festival of Asian Cinema 2009.







Laskar Pelangi (2007) adalah adaptasi dari novel berjudul sama oleh Riri Riza dan Mira Lesmana yang mendapatkan nominasi untuk 2 Kategori utama pada penyelenggaraan ke 3 Asian Film Awards yang digelar di Hongkong, yaitu Best Editing untuk Dono Waluyo dan Best Film. Untuk nominasi film terbaik Laskar Pelangi bersanding dengan Ponyo (Jepang), The Good the Bad the Weird (Korea Selatan), Tokyo Sonata (Jepang), Red Cliff (Hongkong) dan Forever Entralled (China). Laskar Pelangi juga mendapatkan Signis Award dalam Hongkong International Film Awards 2009. Penghargaan The Golden Butterfly Award untuk kategori film terbaik di International Festival of Films for Children and Young Adults, di Hamedan, Iran. Awal tahun 2010 lalu film ini kembali mendapatkan penghargaan, kali ini untuk Cut Mini sebagai Best Actress pada Brussels International Independent Film Festival. Dan yang paling terbaru adalah menjadi Best Film pada Asia Pacific Film Festival 2010.

The Blind Pig Who Wants to Fly (2008) adalah feature film perdana karya Edwin. Film yang di bintangi oleh Ladya Cheryl ini juga menjadi Official Selection dalam Pusan International Film Festival 2008, menjadi official selection Tiger Award Competition pada 2009 Rotterdam Film Festival dan mendapat penghargaan untuk Fipresci Prize, pada festival yang sama. Penghargaan Firepsci Prize kembali diraih film ini dari Singapore International Film Festival 2009, selain itu. Serta meraih Silver Montgolfiere dan Young Audience Award dari Nantes Three Continent Festival 2009.



Fiksi (2008) yang merupakan film feature perdananya Mouly Surya, memenangkan penghargaan Best Director dari Jakarta International Film Festival 2008 untuk Indonesia Feature Film Competition. Selain itu Fiksi juga diputar dibeberapa festival film international lainnya seperti di Pusan International Film Festival, NewYork Asian Film Festival.







The Photograph (2007) dibesut oleh sutradara wanita, Nan T. Achnas yang dibintangi oleh aktor senior Singapore Lim Khay Thong dan Shanty ini menyabet dua penghargaan pada penyelenggaraan ke 43 Karlovy Vary International Film Festival yang diselenggarakan tanggal 4-12 July 2008 di Karlovy Vary, Republik Ceko. The Photograph menyabet Special Jury Prize yang merupakan pemenang kedua dan penghargaan Ecumenical Jury Award di festival film paling bergengsi di Republik Ceko. Film The Photograph tersebut merupakan satu-satunya film dari Asia yang mendapat dua penghargaan sekaligus. 



Tiga Hari untuk Selamanya (2007) dari sutradara Riri Riza menerima Best Director dari Brussels International Independent Film Festival 2008.









Opera Jawa (2006) dari Sutradara Garin Nugroho memenangkan Best Original Score untuk Rahayu Supanggah pada penyelengaraan perdana Asian Film Awards 2007. Opera Jawa juga dinominasikan untuk Best Film yang bersaing dengan The Host (Korea), Love and Honor (Jepang), Exiled (Hongkong), Still Life (China) dan Curse of the Golden Flower (China). Nominasi Best Film dari Asia Pacific Screen Awards 2007. Menang Silver Screen Award Singapore International film Festival 2007. Serta juga menerima penghargaan Best Actress untuk Artika Sari Devi pada Brussels International Independent Film Festival 2008.



Denias Senandung di Atas Awan (2006) karya Jhon de Rantau berhasil menjadi yang terbaik untuk kategori Best Children’s Feature Film Asia Pacific Screen Awards 2007 serta meraih Best Film pada Indonesia Feature Film Competition Jakarta International Film Festival 2006.







Berbagi Suami (2006) yang didaftarkan untuk Academy Awards Best Foreign Film 2007, mendapat penghargaan Golden Orchid Award sebagai film terbaik pada  Hawaii International Film Festival 2006, mengalahkan film-film dari 47 negara yang berkompetisi. Sementara di Belgia pada Brussel International Independent Film Festival 2007, Nia Dinata dipredikatkan sebagai Best Director (Prix de la meilleure Réalisation).







Gie (2005) yang diangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran karya sutradara Riri Riza, mendapatkan Best Asian Feature Film pada Singapore International Film Festival 2006 dan Special Jury Award dari Asia Pacific Film Festival 2006

Janji Joni (2005) karya perdana Joko Anwar mendapatkan penghargaan Best Editing pada Asia Pacific Film Festival 2005









Banyu Biru (2005) dari sutradara Teddy Soeriaatmadja menerima Most Promosing New Actress untuk Dian Sastrowardoyo Asia Pacific Film Festival 2005.








Ungu Violet (2005) debut penyutradaraan Rako Prijanto menerima Best Supporting Actress untuk aktris senior, Rima Melati dan nominasi Best Actress untuk Dian Sastrowardoyo








Kara Anak Sebatang Pohon (2005) karya Edwin menjadi film pendek Indonesia pertama yang secara resmi diputar pada Cannes Film Festival 2005 untuk Director’s Fortnight








Rindu Kami Padamu (2004) karya Garin Nugroho meraih penghargaan Best Film Cinefan – Festival of Asian and Arab Cinema 2005.









Impian Kemarau (2004) karya sutradara Ravi Bharwani meraih penghargaan Asian New Talent Award pada Shanghai International Film Festival 2004. Film ini juga mendapatkan nominasi Best Film pada Pusan International Film Festival, Bangkok International Film Festival dan Vladuvostok International Film Festival. Selain itu juga menjadi Official Selection pada Rotterdam International Film Festival, Barcellona Asian Film Festival, Split International Festival of New Film, Zanzibar International Film Festival dan Cork International Film Festival.

Biola tak Berdawai (2003) yang merupakan debut Sekar Ayu Asmara menerima penghargaan Best Actress pada Asia Pacific Film Festival 2003. Tahun 2004 film ini dipilih untuk mewakili Indonesia untuk Academy Awards Best Foreign Film.







Ca Bau Kan (2002) adalah adaptasi dari novel berjudul sama karya Remy Silado yang juga merupakan debut penyutradaraan Nia Dinata. Nia meraih penghargaan Best New Director pada Asia Pacific Film Festival 2002. Film ini juga menerima penghargaan Best Art Direction untuk ? pada festival yang sama. 




Eliana-Eliana (2002) karya Riri Riza mendapatkan penghargaan Best New Director pada Singapore International Film Festival 2002, serta penghargaan Dragon & Tiger Awards pada Vancouver International Film Festival 2002. Jajang C. Noer yang berperan sebagai ibu dari Eliana menerima penghargaan Best Actress pada Cinemaya Festival of Asian Cinema 2002 di New Delhi, India. Sedangkan untuk duet akting cemerlang Rachel Maryam dan Jajang C. Noer juga menerima penghargaan Best Actress pada Daeuville International Film Festival 2003.



 

Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002) karya sutradara Garin Nugroho yang dibintangi aktris Lulu Tobing menerima penghargaan Netpac Award Berlin International Film Festival 2003


Pasir Berbisik (2001) yang merupakan karya kedua Nan T. Achnas setelah Kuldesak (199) menerima Most Promosing Director, Best Cinematography untuk Yadi Sugandi dan Best Sound untuk Phil Judd dan Hartanto dari Asia Pacific Film Festival 2001. Film ini juga menerima Netpac Award Special Mention pada Brisbane International Film Festival 2002, Fipresci Award pada Oslo Films from the South Festival 2002 dan Asian Trade Winds Special Jury pada Seattle International Film Festival 2002. Aktris Dian Sastrowardoyo yang berperan sebagai menerima penghargaan Best Actress pada Deauville Asian Film Festival 2002, di Perancis dan Singapore International Film Festival 2002, selain juga nominasi untuk Best Asian Feature pada festival yang sama. Film ini menjadi Official Selection pada Rotterdam Film Festival 2002.  

Puisi Tak Terkuburkan (2000) karya sutradara Garin Nugroho mendapatkan penghargaan Silver Leopard Locarno International Film Award 2000 dan Nominasi Silver Screen Award pada Singapore International Film Festival

Le Grand Voyage (France.2004)

Director:
Ismael Farreoukhi
Cast:
Nicolas Cazale – Reda
Mohamed Majd – Reda’s Father
Jacky Nercessian – Mustapha
Ghina Ognianova – La Ville Femme
Kamel Belghazi – Khalid
Atik Mohamed – Ahmad
Malika Mesrar El Hadaoui – La Mere
Francois Baroni – Le Douanier Italien

Le Grand Voyage atau dalam bahasa Inggris The Grand Journey adalah film pembuka penyelenggaraan Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2005. Film ini menjadi salah satu yang paling sukses meraih banyak penonton selama penyelenggaraan Jiffest. Bagaimana tidak? Cerita mengenai seorang ayah yang ingin naik haji tentu begitu dekat dengan budaya bangsa ini yang mayoritas muslim dan puluhan ribu warganya melakukan ibadah rukun islam ke 5 itu setiap tahunnya menuju Mekah, Saudi Arabia.

Reda (Nicolas Cazale) adalah seorang pemuda perancis pada umumnya. Terjebak pada kehidupan dan pola pikir liberal semakin menjauhkan Reda dari cikal bakal dan kultur aslinya. Reda terlahir dari ayah (Mohamed Majd) keturunan Maroko yang adalah seorang penganut islam taat. Ayahnya merasakan kegagalannya dalam mendidik Reda menjadi pribadi muslim yang taat. Hubungan Reda dan ayahnyapun terlihat hambar dan tanpa rasa yang baik. Tidak ada kedekatan bagaimana mestinya seorang anak laki-laki menjadi kebanggaan ayahnya. Hal ini terlihat ketika suatu hari ayahnya memutuskan naik haji dengan mengendarai mobil dan meminta Reda untuk mengantarkannya. Ayahnya bermaksud untuk memperbaiki hubungan dengan Reda, tetapi justru Reda berpikir bahwa apa yang direncanakan ayahnya tidak mungkin dan berlebihan. Penolakan yang dilakukannya tidak berbuah kegagalan rencana sang ayah. Reda bahkan hanya diberikan waktu 4 hari untuk bersiap-siap dan bahkan ayahnya telah mempersiapkan visa bagi Reda untuk keberangkatan mereka. Reda akhirnya tetap harus mengantarkan ayahnya naik Haji ke Mekah dengan mengendarai mobil.


Perjalanan mereka tidak berjalan mulus. Selain pertentangan diantara mereka, kejadian-kejadian unik dan menarik kerap kali mereka temukan, seperti misalnya bertemu dengan seorang wanita penumpang misterius, masalah dokumen perjalanan karena mereka melintasi banyak negara, bertemu dengan seorang penolong yang justru belakang mencuri uang mereka bahkan tersesat dan harus menghabiskan malam pada daerah bersalju minus 0 derjat. Jarak sekitar 5000 km yang mereka tempuh memberi banyak pengalaman berarti bagi mereka berdua. Perjalanan inilah kemudian yang membangun kembali hubungan Reda dengan Ayahnya. Perjalanan yang memberikan Reda arti hidup tak terlupakan sepanjang sisa hidupnya ke depan. Sebuah pengalaman yang akan merubah Reda untuk selamanya. Pertentangan demi pertengangan dengan pola pikir yang berbeda antara Reda yang berkultur barat dan Ayahnya yang religius menjadi kekuatan utama film ini. Pertemuan dua individu dalam dua budaya berbeda.

Dialog-dialog Reda dan Ayahnya berhasil dibangun dengan demikian kontrasnya sehingga membuat penonton tertawa sekaligus takjub. Sebuah dialog yang cukup berkesan mendalam adalah saat Reda mempertanyakan kenapa ayahnya lebih memilih naik mobil dari pada naik pesawat. Ayahnya berkata “When the waters of the ocean rise to the heavens, they lose their bitterness to become pure again...the ocean waters evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate become freah. That’s why its better to go on your pilgrimage on foot thab on horseback, better on horse back than by car, better by car than by boat, better by boat than by plane”. Dialog ini kira-kira bermakna bahwa melakukan ibadah akan mendapatkan pahala lebih bermakna dengan caranya yang paling sederhana.

Film ini syuting dengan melakukan perjalanan yang sama dengan cerita filmnya sendiri. Melintasi Perancis selatan, melalui Italia, Slovenia, Bosnia, Yugoslavia, Bulgaria, Turki, Syria, Yordania, dan berakhir di Mekah, Saudi Arabia. Syuting juga harus mengalami situasi yang sulit karena mengingat keadaan Bosnia yang tidak kondusif. Melintasi banyak negara membuat film ini memiliki sinematografi yang sangat indah dan megah. Gambar-gambar terekam dengan menakjubkan dan terlihat begitu nyata. Musik pengiring film yang menyegarkan berhasil menambah poin terbaik film ini. Mekah sebagai situs paling utama bagi umat muslim diperlihatkan dengan begitu agung.


Salah satu adegan yang sangat menyentuh dan takjub adalah ketika sang Ayah menyusul Reda pada sebuah bukit batu yang tinggi dan meminta Reda bantuan untuk yang terakhir kalinya. Sebuah film tentang perjalanan hati dan pikiran dua manusia dan mencoba untuk melihat pada lubuk hati paling dalam untuk menemukan apa yang mestinya dan sebenarnya dicari dalam hidup. Film yang jujur mengangkat latar belakang agama tanpa terbebani isu agama itu sendiri. Sangat inspiratif dan luar biasa.

Aktor muda pendatang baru Nicolas Cazale yang berperan sebagai Reda berhasil bermain baik, memperlihatkan seorang pemuda yang kehilangan identitasnya. Cazale berhasil mengimbangi akting cemerlang aktor senior Perancis keturunan Maroko Mohamed Majd yang bermain sebagai ayahnya. Kedua aktor ini berhasi menyajikan kekakuan hubungan ayah anak. Cazale menerima penghargaan sebagai aktor terbaik dari NewPort International Film Festival 2005 sedang Majd menerima gelar yang sama dari Mar del Plata Film Festival 2005 selain juga untuk film terbaik pada ajang penghargaan yang sama. Le Grand Voyave juga menerima penghargaan Luigi de Laurentis Awards pada Venice Film Festival 2004 serta mendapatkan nominasi film berbahasa asing terbaik pada BAFTA 2005.