Rabu, 20 April 2011

The Elite Squad (Brasil.2007)

Director:
Jose Padilha
Screenplay:
Andre Batista
Rodrigo Pimentel
John Kaylin
Braulio Mantovani
Jose Padilha
Cast :
Wagner Moura – Roberto Nascimento
Andre Ramiro – Andre Matias
Caio Junqueira – Neto
Fernanda Machado – Maria
Fabio Lago - Baiano
Milhem Cortaz – Fabio
Paulo Vilela - Edu
Maria Ribeiro – Rosane
Fernanda de Freitas – Roberta

Film ini meraih Golden Berlin Bear pada Berlin International Film Festival 2007. Menyingkirkan Happy Go Lucky, Lake Tahoe dan There Will be Blood yang cukup populer. The Elite Squad membayar kekalahan The Year My Parents Went on Vacation yang tahun sebelumnya juga menjadi Official Selection untuk festival yang sama. Realita yang terasa sangat nyata mungkin menjadi kesepakatan para juri Berlin Golden Lion memilihnya menjadi yang terbaik. Sutradaranya, Jose Padilha telah dikenal oleh publik Brasil dengan dokumenter Bus 174 (2001) yang sangat fenomenal karena diangkat dari kejadian nyata penyanderaan di dalam bis 174 pada 12 Juni 2000. The Elite Squad adalah feature film perdananya. Bekerja sama dengan banyak film-maker yang pernah menghasilkan City of God (2002) menjadikan The Elite Squad pada beberapa bagian memiliki nafas hampir sama dengan salah satu film terbaik yang pernah dibuat itu (versi IMDB peringkat 18 dari 250 film terbaik sepanjang masa).

BOPE adalah satuan pasukan khusus elite polisi Brasil yang didirikan untuk menangani kasus-kasus tertentu dan berat. Masalah perdagangan narkotika dan zat adiktif lainnya yang semakin merajalela di Rio de Janeiro serta masalah perdagangan senjata ilegal yang ternyata melibatkan pihak kepolisian Brasil menjadi fokus utama tugas pasukan ini. Selain juga menjadi pasukan keamanan khusus untuk para petinggi luar yang berkunjung ke Brasil, termasuk Paus. Tahun 1997, Paus di rencanakan melakukan kunjungan untuk yang ke 3 kalinya ke Brazil. 3 bulan sebelum kunjungan itu, Kapten Beto (Wagner Maura) harus menyiagakan pasukannya untuk mengamankan daerah-daerah tertentu yang akan menjadi lokasi kunjungan Paus.

Melalui narasi dari Beto, penonton digiring mengikuti dua plot tumpang tindih saling berhubungan. Plot pertama adalah mengikuti kisah hidup Beto menyusuri bagian-bagian gelap Rio de Janeiro bersama pasukan elitenya membasmi dan mengamankan kota dari ‘sampah-sampah’ masyarakat para dealer-dealer narkoba. Pahitnya adalah beberapa kali Beto harus menemukan banyak pelajar dan mahasiswa yang terlibat dengan bisnis kotor ini. Plot kedua adalah tentang Neto (Caio Junqueria) dan Andre (Andre Ramiro) pejabat polisi yang baru saja diangkat menjadi staf pimpinan tetapi merasakan adanya ketidaktulusan dan kebobrobkan mental dari banyak petugas polisi di sekitar mereka yang justru menjadikan jabatan mereka untuk mementingkan diri sendiri dengan menjadi ‘polisi kotor’. Tidak hanya menjadi dekingan untuk kelancaran peredaran narkoba, para polisi kotor ini juga menjadi pemasok senjata-senjata ilegal bagi para dealer-dealer pengedar narkoba.

Film ini secara personal mengikuti suara hati Beto. Dilema demi dilema mulai mengetuk nuraninya. Komitmennya pada pekerjaan membuat hubungan dengan Rosane (Maria Ribeiro), istrinya yang sedang hamil tidak berjalan baik. Ketika seorang ibu muda menemuinya dan meminta bertanggung jawaban Beto atas kematian anak laki-laki satunya yang masih di bawah umur karena Beto memanfaatkan sang anak untuk menjadi saksi, rasa bersalah semakin menguasainya. Beto memutuskan untuk mencari penggantinya. Disinilah kedua plot ini kemudian menjadi satu kesatuan. Ketertarikan Andre dan Neto pada pasukan khusus ini membuka kesempatan bagi Beto untuk segera menemukan pengantinya.

Seperti dalam City of God, film ini berusaha jujur mengangkat realita menjadikannya terlihat begitu nyata dan memang sedang terjadi hingga saat ini. Jika dalam City of God penonton disuguhkan bagaimana siklus peredaran narkoba dari sudut pandang pelaku bisnisnya, dalam film ini justru dari sudut pandang sebaliknya. Bagaimana keseriusan pemerintah Brasil mencoba untuk mencegah semakin merajalelanya bisnis yang semakin menghancurkan generasi di masa depan. Membentuk pasukan khusus elite yang sangat berkomitmen untuk menghentikan siklus narkoba tentu adalah langkah serius, justru menjadi ironi saat keseriusan itu dipecundangi dengan ulah para petugas polisi itu sendiri menjadi pihak yang membiarkan bisnis itu berjalan aman, menjadi pihak yang bertanggung jawab memberikan ‘keamanan’ untuk keberlangsungan bisnis itu dan bahkan membekali para pelaku bisnis dengan memperjualbelikan senjata yang dipasok justru untuk keamanan. Betapa menyedihkannya?

Film ini menjadi kelanjutan City of God. Sebagaimana kita ketahui pada akhir film itu, Polisi adalah pihak yang mempecundangi dealer itu sendiri. Pihak yang justru memanfaatkan situasi dengan mental yang sangat bobrok mendapatkan keuntungan secara finansial, memperkaya diri sendiri. Melalui The Elite Squad, Jose Padilha seperti menjadi kelanjutan tangan pemerintah Brasil, memperlihatkan bahwa masih banyak petugas kepolisian dan keamanan negara yang memiliki komitmen kuat dan bertanggung jawab besar untuk menyelamatkan generasi muda dari pengaruh tidak baik dan tidak berguna dari peredaran obat-obat terlarang.


Beto, Andre dan Neto menjadi sosok yang begitu berkomitmen dalam menjalankan tugasnya. Bahkan pada beberapa bagian terasa begitu berlebihan, tanpa ampun dan penuh dendam. Hal ini bukan tanpa alasan. Pembekalan pada saat pembentukan mental pasukan elite ini melatih mereka semua tanpa belas kasihan, tanpa ampun dan ditempa sedemikian rupa untuk menutupi rasa kasihan mereka. Seperti pada adegan salah satu dari mereka dibiarkan memegang bom yang siap meledak sementara harus mendengarkan petuah-petuah yang sangat membosankan. Pribadi yang dianggap lemah, tidak berkomitmen dan tidak mampu menunjukan mental baja diberikan pilihan, apakah akan terus mengikuti pembekalan atau kembali bertugas pada kesatuan menjadi polisi biasa.

Bagaimana buruknya sebuah lembaga kepolisian? Detail terlihat dalam film ini. bagaimana buruknya mental banyak petugas yang mestinya menjadi pelindung rakyatnya. Begitu gamblang dan bobrok terkisah gambaran dari kenyataan yang sebenarnya terjadi saat ini. Kenyataan yang memang menjadi momok bagi Brasil, bagi banyak negara di dunia dan tentu bagi Indonesia sendiri. Sering kali bukan kita mendengar kisah keterlibatan oknum polisi dengan berbagai tindak kriminal. Dan seperti sudah mendarah daging dari generasi ke generasi, tidak akan hilang dan tidak akan pernah bisa hilang.
 
Naskah film ini berhasil memberikan kisah-kisah transisi berbagai keribadian manusia. Menelanjangi detail kebobrokan lembaga kepolisian yang bahkan terasa tanpa ampun. Melugaskan kepada penonton bagaimana detail peredaran obat-obatan terlarang dengan begitu mudahnya sampai ditangan pengguna. Semuanya ditampilkan oleh naskah film ini dengan sempurna, tanpa terasa berlebihan dan dipaksakan. Naskah film ini mendapatkan nominasi naskah asli terbaik Cinema Brasil Grand Prize 2008, penghargaan film Brasil yang disetarakan dengan Acacemy Award.

Akting maksimal Wagner Moura sebagai Beto begitu menyakinkan. Salah satu adegan yang cukup memorable adalah ketika dia berkali-kali menampar wajah salah satu pengguna narkoba. Atas perannya dalam film ini, Moura diberikan penghargaan aktor teerbaik dari Cinema Brasil Grand Prize 2008. Berbicara mengenai tekhis film ini memberikan semua yang terbaik, sinematografi handheld yang bermaksud memberikan suguhan realita untuk penonton, editing dan sound yang digarap baik serta tentu musik penggiring yang berhasil menambah ketegangan film ini. Cinema Brasil Grand Prize 2008 juga memberika penghargaan untuk Sutradara terbaik bagi Jose Padilha, aktor pendukung terbaik untuk Milhem Cortaz, serta untuk sinematografi, editing, sound dan penata rias terbaik.

Yang cukup unik adalah The Elite Squad mendapatkan penghargaan Best Foreign Film Spanish Language dari Argentinean Film Critics Association Awards 2009, padahal tidak ada satupun dialog dalam film ini yang menggunakan bahasa Spanish, melainkan Portuguese.

Selasa, 19 April 2011

Sympathy for Mr. Vengeance (Korea.2002)



Director :
Park Chan Wook
Cast :
Shin Ha Gyoon - Ryu
Bae Doo Na – Yeong Mi
Song Kang Hoo – Dong Jin
Ryu Seung Beom – Crazy boy at River
Lee Dae Yeon - Choe
Lim Ji Eun – Ryu’s Sister
Han Bo Bae – Yu Sun

Film ini menjadi pembukan trilogy revenge karya Park Chan Wook. Menjadi salah satu film yang cukup kontroversi saat rilis tahun 2002 di Korea. Tema balas dendam yang dianggap berlebihan, benturan nurani manusia dengan paham-paham kapitalis serta isu mafia perdagangan illegal organ tubuh manusia.

Ryu (Shin Ha Gyoon) adalah seorang penderita bisu tuli yang bekerja sebagai buruh pabrik perusahaan Ilshin Electronics. Ryu harus segera membiayai operasi transplantasi ginjal kakaknya (Lim Ji Eun). Tentu uang jutaaan won harus dia kumpulkan untuk itu. Tidak mudah bagi seorang penderita bisu tuli menghadapi ini. Dia berniat mendonornya ginjalnya tetapi golongan darah mereka berbeda. Ryu harus mengumpulkan uang untuk biaya operasi dan mencari donor ginjal dengan golongan darah yang sesuai. 

Ryu juga harus ikhlas menerima kenyataan menjadi bagian dari PHK tempatnya bekerja karena sedang dalam pengurangan karyawan. Depresi karena harus segera mengumpulkan duit, Ryu tergoda dengan sebuah organisasi ilegal penjualan organ tubuh manusia. Dia dijanjikan akan mendapat 10 juta won untuk menjual ginjalnya. Namun ginjal hilang, uang 10 juta tidak diterima karena setelah operasi Ryu ditinggalkan begitu saja dalam keadaan telanjang.  

Kekasih Ryu, Cha Yeong Mi (Bae Doo Na) yang anarkis menyarankan untuk menculik Yu Sun (Han Bo Bae) anak dari Dong Jin (Song Kang Ho) pemilik Ilshin Electronics, orang yang sangat berperan dalam PHK yang menimpa Ryu. Tanpa berpikir panjang Ryu menyetujui ide Yeong Mi. Dengan mudah mereka akhirnya berhasil membawa Yu Sun. Tinggal satu langkah lagi rencana Ryu mendapatkan uang banyak. Dengan bantuan Yeong Mi, Ryu berhasil mendapatkan sejumlah uang dari Dong Jin.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, begitulah selanjutnya kisah hidup Ryu, kebahagiaan yang telah di depan mata tiba-tiba lenyap begitu saja. Dia harus menerima kenyataan sang kakak meninggal dunia bunuh diri karena mengetahui Ryu menjadi korban PHK dan tidak ingin memberatkannya. Tidak sampai disitu saja, saat sedang menguburkan mayat di  kakaknya di tepi sungai, sebuah tragedi menimpa Yu Sun. Yun Sun tenggelam. Tragedi inilah yang menjadi awal bagian ketiga dari kisah film ini.

Dong Jin yang ditampilkan dengan karakter yang keras, memiliki jiwa sosial rendah serta tidak peduli dengan penderitaan bawahannya. Menemukan fakta anaknya tenggelam, Dong Jin membalaskan sakit hatinya. Dia bahkan ‘menipu’ petugas kepolisian yang membantunya mencari tahu tentang keterlibatan Ryu. Dong Jin telah memiliki rencananya sendiri untuk membalaskan dendam pada Ryu.

Film ini memberikan pengambaran mengenai karma. Percaya atau tidak karma selalu menjadi momok bagi banyak hidup orang. Kedua karakter yang saling baku hantam membalaskan dendam dalam film ini menerima karma atas perbuatannya sendiri. Tidak tanggung-tanggung, karma dihadirkan bertubi-tubi dan bertumpuk. Akibat penculikan terhadap Yun Sun, Ryu harus kehilangan kakak dan kekasihnya secara bersamaa. Dong Jin yang dengan semena-mena memberhentikan banyak karyawannya harus kehilangan anak perempuan satu-satunya dan meregang nyawanya sendiri karena bertindak tanpa berpikir panjang. Mungkin untuk beberapa orang yang tidak mempercayai karma hal ini akan dianggap sebagai jalan hidup yang sudah digariskan untuk terjadi. Meskipun terlihat terlalu berkebetulan dan berlebihan.

Hubungan sebab akibat dalam film ini terlihat begitu dibaurkan dengan inti film yang berfokus pada balas dendam. Begitu mudah dan cepat bagi kepolisian untuk segera mengetahui keterlibatan Ryu tanpa adanya detail penyelidikan. Pertemuan antara Dong Jin, Yeong Min dan Ryu juga terasa seperti dipaksa untuk dimudahkan karena fokus balas dendam ingin segera ditampilkan dan dieksploitasi. Bagian-bagian detail ini sedikit menganggu film secara keseluruhan.

Adegan-adegan kekerasan menjelang akhir film terasa begitu menyiksa mata penonton, salah satunya adalah adegan pemotongan ujung belakang kaki yang cukup berhasil membuat menutupkan mata karena terasa begitu ngilu karena diperlihatkan dengan nyata.

Simpati seperti apakah sebenarnya yang ingin diambil oleh film ini dari penonton. Karena rentetan kekerasan yang berlebihan justru menjadi ironi sendiri untuk film ini. Kedua karakter yang berjuang untuk bertahan hidup dengan saling membalaskan dendam berusaha mengambil hati penonton dengan simpatinya yang justru telah terlalu lelah dengan kekerasan demi kekerasan yang menjadi polemik film ini menuju akhir ceritanya. Tidak ada lagi simpati bagi Dong Jin dan Ryu. Atau justru penonton tidak lagi bisa menentukan untuk siapa simpati akan mereka berikan. 

Song Kang Ho, Shin Ha Gyoo dan Bae Do Na bermain sangat maksimal. Akting cemerlang mereka berhasil menjadi salah satu poin terbaik untuk film ini. Terutama Kang Ho yang sukses menampilkan Dong Jin yang tampak tenang tetapi menyimpan amarah dan dendam yang begitu besar.

Salah satu scene stealer dalam film ini adalah orang gila cacat yang kerap kali hadir pada setiap adegan di Sungai. Ryoo Seung Beom berhasil membawakan peran ini dengan sangat baik.
Selain naskah dan akting yang baik, film-film bertemakan balas dendam tentu harus memiliki segi teknis kuat, untuk membantu membuat rasa film semakin thrill. Kamera berhasil memberikan gambar-gambar nyata dengan bantuan set yang saling mendukung. Editing membuat sinkronisasi adegan ke adegan terasa nyata serta musik pengiring dibuat unik, dengan bunyi-bunyian khas yang berhasil mengiris mata dan hati penonton untuk merasakan pahitnya film ini. 

Pusan Film Festival 2002 memberikan penghargaan film dan sutradara terbaik untuk Park Chan Wook. Sedangkan Korean Film Awards (MBC) 2002 memberikan penghargaan untuk cinematography dan editing terbaik. 


Rabu, 13 April 2011

Dunia Mereka (Indonesia.2006)


Director :
Lasya F. Susatyo
Screenplay :
Monty Tiwa
Cast :
Adinia Wirasti – Filly
Christian Sugiono – Ivan
Oka Antara – Rio
Ray Sahetapy – Ayah Filly
Ira Wibowo – Ibu Filly
Kaharuddin Syah – Ayah Ivan
Anda Bunga – Ikhsan
Cathy Sharon – Niki
Donny Sunjaya – Andi
James F – Barbuk

Bagaimana mestinya sebuah film tentang musik dibuat? Aspek-aspek apa saja yang harus kuat untuk membangun “kemusikkan” sebuah film musik? Tentu adalah identitas musik itu sendiri yang harus kental menguasai jalan cerita film. Kemudian muncul pertanyaan lagi. Identitas musik untuk film itu seperti apa? Inilah yang coba untuk dieksplorasi oleh Monty Tiwa dan Lasya F. Susatyo dalam Dunia Mereka.

Naskah Dunia Mereka ditulis oleh Monty Tiwa dari novel remaja karyanya sendiri. Tidak seperti novel remaja pada umumnya, Novel ini begitu kuat dan kental bercerita mengenai ‘passion’ penulisnya pada musik blues. Mengadaptasi sebuah novel untuk dijadikan film selalu menjadi dilema oleh banyak filmaker. Tentu banyak bagian-bagian yang harus dihilangkan atau disesuaikan untuk kepentingan gambar dan durasi film. Apalagi kemudian sebuah identitas (dalam hal ini musik blues) dari novel ini yang tentu juga tetap harus menjadi rasa untuk filmnya. Beruntung kemudian Monty Tiwa menulis sendiri naskah dari novel untuk filmnya. Sehingga rasa novel untuk filmnya diharapkan tidak hilang, karena ditulis dengan tangan yang sama.

Filly (Adinia Wirasti) menyukai musik blues, musik adalah satu-satunya cara yang diketahui Filly untuk menekan rasa kehilangan yang dirasakannya ketika sang ibu meninggal akibat kecelakaan pesawat. Apalagi kemudian dia mengetahui secara tidak langsung dia memiliki andil terhadap kematian sang ibu. Rasa penyesalan dan ketakutan begitu dalam menguasainya. Sebuah audisi band mempertemukannya dengan Ivan (Christian Sugiono). Ivan sedang mencari gitaris baru untuk band yang dibentuk dengan 2 sahabatnya, Andy (Donny Sunjaya) dan Barbuk (James F.)

Ivan adalah anak salah satu konglomerat Indonesia. Dia memberanikan diri untuk membangkang dari keinginan Ayahnya (Kaharuddin Syah) dengan memprioritaskan hidupnya untuk musik dari pada meneruskan usaha ayahnya. Dia berjanji dalam setahun jika Bandnya belum juga dapat kesempatan rekaman, dia akan mengikuti keiginan sang Ayah. Kehadiran Filly dalam band yang akhirnya diberi nama Capung Biru itu memantapkan cita-cita Ivan untuk rekaman.

Kematian ibu Filly (Ira Wibowo) meninggalkan duka mendalam dan rasa bersalah pada Ayahnya (Ray Sahetapy) karena terlalu sibuk dengan musik. Hal inilah yang membuat ayahnya menghalangi kecintaan Filly pada musik. Filly menjalani semuanya tanpa sepengetahuan ayahnya. Kehadiran Rio (Oka Antara) sang pacar yang terlalu posesif juga menjadikan rintangan bagi Filly untuk mendedikasikan dirinya pada musik, bahkan menurut Rio musik Filly dan Bandnya kampungan.

Kecintaaan Filly pada blues membuat Ivan kagum padanya. Dia yakin kehadiran Filly akan membawa suatu pembaruan untuk bandnya. Diam-diam Ivan menyimpan perasaan khusus buat Filly. Kedekatan Filly dengan Ivan membuat Rio cemburu dan sikap posesifnya semakin menjadi-jadi. Salah satunya adalah mengatur jadwal Filly termasuk memaksanya bertemu dengan Endang (Ayu Diah Pasha), tante Rio yang seorang psikolog. Rio melihat mental Filly masih trauma dengan kematian ibunya. Kesempatan untuk rekaman akhirnya memang datang tetapi inilah kemudian yang menjadi awal keseriusan mereka untuk tetap satu band dipertanyakan.

Dilema para musisi-musisi muda idealis dibumbui kisah cinta segitiga dengan latar belakang masalah keluarga, sentuhan musik yang kuat menjadi gabungan menarik dalam film ini.  Rasa musik dalam film ini ditampilkan dengan pas. Musik untuk film ini dikerjakan oleh Aksan Sjuman. Aksan membuat instrumen-instrumen musik blues dengan gitar untuk mengiringi film dan untuk musik band Capung Biru sendiri. Sebagai komoditi utama bagi film ini, Aksan berhasil memberi nyawa musik blues yang sangat kental. Musik dalam film membentuk karakter-karakternya dengan baik, terutama untuk Filly.

Karakter Filly ditampilkan dengan skill musik sangat baik. Untuk setiap adegan-adegan Filly bermain dengan gitarnya selalu berhasil menyakinkan penonton bahwa karakter Filly memiliki kemampuan musik bagus. Salah satunya adegan di toko musik milik Iksan (Anda Bunga) tempat Filly kerja partime, membantu salah satu costumer memilih gitar untuk dibeli Usaha Adinis Wirasti untuk menghidupkan Filly pantas diacungi jempol.

Menjadikan musik sebagai bagian utama dari film ini menjadikan film ini sebagai salah satu film bertema musik terbaik yang pernah dibuat di Indonesia. Keterkaitan musik dengan jalan cerita film. Pemain-pemain hampir semua bermain pas, dengan akting-akting terbaik mereka. Tidak ada yang berlebihan dan tidak ada karakter yang disia-siakan, semua tampil sesuai porsinya. Naskah yang diadaptasi dengan baik dan sinematografi yang dibuat agak gelap dengan bermaksud memperlihatkan kehidupan underground musisi-musisi idelis, menambah poin-poin terbaik untuk film ini.

Saat rilis tahun 2007 film flop di Box Office Indonesia, bahkan tidak sampai seminggu bertahan di Bioskop. Sangat disayangkan sekali film yang memiliki semua hal yang dikategorikan untuk film bagus tidak dilirik oleh penonton kita.

Selasa, 12 April 2011

Oldboy (Korea.2003)



Director :
Park Chan Wook
Screenplay :
Cast :
Choi Min Sik – Oh Dae Soo
Yoo Ji Tae – Joo Hwan
Kang Hye Jeong – Mido

Bersama Ghost World (2001), Road to Perdition (2002), American Splendor (2003), A History of Violence (2005) dan Persepolis (2007), film ini menjadi film drama adaptasi komik terbaik yang pernah dibuat. Film ini dianggap memiliki hasil yang lebih optimal dan baik dari komik-komik aslinya. Selain itu mendapatkan kritikan positif, film-film ini juga meraih banyak penghargaan dari festival dan penghargaan film Internasional. Termasuk Oldboy sendiri. Prestasi terbaik untuk film ini adalah  untuk Park Chan Wook yang berhasil meraih penghargaan Grand Jury Prize Festival Film Cannes 2004.

Film ini menjadi bagian kedua dari trilogy revenge film yang dibuat oleh Park Chan Wook. Sympathy for Mr.Vengeance menjadi bagian pertama dan Sympathy for Lady Vengeance (2005) menjadi penutup trilogy ini.

Apa istimewanya Oldboy? Tidak banyak yang mengetahui Komik Oldboy sebelum akhirnya diadaptasi oleh Chan Wook. Oldboy adalah manga Jepang, diterbitkan oleh Futubasha tahun 1996 dengan creator Nobouki Minegishi dan Tsuchiya Garon. Dari sebuah manga tidak populer, Wook mengarahkannya menjadi sebuah film yang tak terlupakan sepanjang masa. Paling tidak itu menurut imdb.com yang memposisikan film ini pada peringkat 100 dari 250 film terbaik sepanjang masa. Jalan cerita film ini berhasil membingungkan penonton sepanjang selama 120 menit. Penonton ditempatkan sama dengan Oh Dae Soo, karakter utama dalam film ini. Mencari tahu, berpikir, menunggu dan ikut terbawa bersama Oh Dae Soomenemukan fakta-fakta yang kemudian akan membuatnya menyesali semua perbuatan dan dosa-dosa masa lalunya. Apakah benar Dae Soo berdosa? Sebuah kisah balas dendam sadis dan pahit akibat dendam yang dipendam begitu dalam.

Plot tumpang tindih, editing yang dikerjakan cemerlang, alur bolak balik yang memikat, ilustrasi musik karya Jo Yeung Wook yang mengiris hati dan tentu twist demi twist yang disiapkan dengan rapi dan tidak terduga menjadi poin-poin istimewa film ini. Semua difilmkan dengan sangat baik. 

Pertanyaan kemudian muncul. Apakah sampai begitu sakitnya menyimpan dendam bertahun-tahun dan berencana dengan begitu rapi untuk membalaskanya. Apakah bisa diterima akal sehat atau bagaimana kita sebagai penonton bisa memahami pikiran kedua karakter utama yang saling dendam ini. Dalam film ini  penonton diminta untuk mengeyahkan akal sehat. Penonton diminta (dipaksa) memahami bahwa saat kemarahan begitu menguasai manusia dan tertahan bertahun-tahun mungkin akan terlihat sah-sah saja.

Oh Dae Soo (Choi Min Sik) harus menerima kenyataan hidup terpenjara selama 15 tahun tanpa sebab yang jelas, terpisah dari istri dan anak semata wayangnya. Melalui siaran televisi yang disediakan di ‘penjara’ itu dia mengetahui dirinya menjadi narapidana pembunuhan istrinya. Selama 15 tahun dia mencoba untuk berpikir siapa yang tega membuat hidupnya “berhenti”. Membuatnya kehilangan rasa. Membuatnya menjadi seorang monster mengerikan berwujud manusia yang bertekad akan membalas semuanya.

Tetapi semua seperti telah terencana untuknya. Saat kebebasan telah di depan mata, Dae Soo tidak dengan mudah menemukan apa yang selama 15 tahun direncanakan. Karena ternyata kebebasan yang dia terima adalah “penjara” kedua baginya. Hidupnya masih seperti dalam pengawasan. Dendam dan amarah seperti mengawasi kemanapun kakinya melangkah. Kebebasan baginya untuk mencari tahu adalah sebuah rencana baru yang akan segera mempertemukannya dengan sang pemilik hidupnya selama 15 tahun. Karena masa 15 tahun tersebut akan digenapkan dengan kisah selanjutnya yang akan menjadi penjara jiwa bagi Dae Soo sepanjang hidupnya.


Bahkah pertemuannya dengan Mido (Kang Hye Jeong) menjadi bagian rencana kedua hidupnya. Mido menjadi kekasihnya. Mido membantunya mencari tahu siapa dalang yang menjadikannya Monster. Sampai kemudian dia dipertemukan dengan Joo Hwan (Yo Ji Tae), yang mengaku bertanggung jawab terhadap kemalangan hidupnya. Joo Hwan meminta Dae Soo mencari tahu siapa dia dan penyebabnya memenjarakan Dae Soo selama 15 tahun. Joo Hwan bahkan bangga dengan dirinya sendiri berhasil membentuk Dae soo menjadi sosok mengerikan, penuh dendam dan amarah.

Misteri yang menyelimuti hidup Dae Soo selama 15 tahun akhirnya mulai terkuak. Satu persatu jawaban hadir tidak tanggung-tanggung dengan twist yang disembunyikan dengan rapi oleh film ini. Untuk Dae Soo dan penonton. Sebuah masa lalu yang pahit bagi Joo Hwan membuatnya menyimpan dendam bertumpuk-tumpuk selama belasan tahun dan merencana sebuah pembalasan yang begitu rapi. Bukan sebuah pembalasan biasa yang disiapkan. Tetapi sebuah rencana balas dendam jangka panjang yang akan disesali oleh Dae Soo sepanjang sisa hidupnya. Sebuah kenyaataan pahit, sangat pahit bahkan telah dan sedang disiapkan Joo Hwan untuk Dae Soo. Sama seperti Dae Soo telah membuat hidupnya hampa selama bertahun-tahun.

Choi Min Sik yang berperan sebagai Dae Soo memperlihatkan dengan begitu menyakinkan seorang pria biasa yang berubah menjadi monster yang mengerikan. Aktingnya berhasil membuat kita sebagai penonton ikut merasakan bagaimana pahit dan perihnya hidup dengan ketidakpastian dan penuh amarah dan dendam. Atas usahanya ini Min Sik menerima banyak penghargaan aktor terbaik, salah satunya dari Asia Pacific Film Festival 2004 

Rahasia hati, kekuatan dendam dan amarah serta misteri jiwa dan pikiran manusia menjadi polemik utama dalam film ini. Tidak dengan mudah bagi tiap manusia menerima kenyataan pahit yang dihadapkan padanya. Akal sehat dan jiwa yang bersih tentu menjadi satu-satunya jalan terbaik menyelami isi-isi hati dan pikiran untuk mencari sebuah iklas untuk dipilih. Tetapi justru bukan hal itulah sebaliknya yang ditampilkan dalam film ini. Sisi gelap pikiran dan hati manusia yang tidak bisa dengan mudah untuk dimengerti dan dipahami oleh siapapun. Membuat orang lain ikut merasakan perihnya kesedihan yang dibiarkan menguasai diri selama bertahun-tahun bukanlah sebuah penyelesaian yang bijak bahkan menyesatkan diri pada pilihan hidup yang salah seperti bunuh diri.

Selain di Cannes, film ini juga meraih penghargaan dari European Film Awards, British Independent Film Awards, Austin Film Critics Association Awards, Chicago Film Critics Association Awards, Hong Kong Film Awards, Stockholm Film Festival, Bangkok International Film Festival dan Asia Pacific Film Awards.


Bravo! Our Love (Korea.2008)



Dir : Oh Jeom Gyun

Cast : Kim Hae Soek, Kim Yeong Min, Kim Hye Na, Boong Ki Joo

Mungkin tidak semua orang akan menyukai film drama romance yang unik ini, selain karena film ini drama keluarga tanpa bintang-bintang populer Korea, ceritanya juga sangat tidak biasa. JIka biasanya kita selalu melihat perselingkuhan yang dilakukan oleh para suami-suami hidung belang, film ini justru dengan tidak sungkan-sungkan bercerita mengenai istri berselingkuh terang-terangan dihadapan suaminya dan sang suami tidak bisa melakukan apa-apa. Menarik bukan? Unik dan sungguh pintar mengambil sudut pandang berbeda ini. Jika pada My Wife Got Married (rilis tahun 2008 juga) memperlihatkan poliandri pada kalangan pekerja kelas mengengah atas Korea, pada film ini justru pada kalangan biasa.

Ide yang berbeda ini diangkat oleh Oh Jeom Gyun sebagai sutradara dan Park Yun sebagai penulis skenario, menjadi sebuah tontonan yang simple, menarik dan sangat sederhana. Sisi komedi yang ditampilkan tidak berlebihan dan berhasil menyindir kebiasaan para suami-suami nakal yang biasanya semakin tua semakin tidak tahu diri.

Bong Soon
(Bong Ki Jo) dan istrinya (Kim Hae Sook) mengelola sebuah tempat hiburan karaoke, hubungan mereka sudah sangat hambar, tidak ada lagi rasa diantara mereka, bahkan mereka udah bertahun-tahun tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Mereka mempunyai seorang anak perempuan yang pembangkang Yoon Boong (Kim Hye Na). Yoon diam-diam menjalin hubungan dengan Goo Sang (Kim Yeong Min) seorang pria muda pengelola laundry yang menyewa kamar kos di rumah mereka. Serapi-rapinya rahasia itu disimpan tentu bakal ketahuan juga, sampai suatu hari hubungan mereka tercium juga dan mereka dipaksa untuk menikah, Goo Sang bersedia bertanggung jawab, tetapi anehnya Yoon Bong malah kabur dari rumah.

Cerita berkembang unik saat
Sang Istri yang kasihan pada Goo Sang, dari hanya sekedar memperhatikan sewajarnya hingga berlanjut pada perhatian spesial dan pelan-pelan benih cinta bisa muncul untuk Goo Yong dan uniknya pria muda ini membalas cintanya. Sang Istri seperti merasa hidupnya kembali berwarna. Hidupnya tidak sama lagi. Hidupnya sangat berwarna. Hidupnya terasa begitu indah. Cinta yang selama ini diharapkan dari suami justru datang dari mantan kekasih anak gadisnya yang berjarak usia puluhan tahun.

Sangat asyik mengikuti alur film ini hingga selesai karena sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Beberapa kali kita akan tersenyum dengan pengambaran adegan-adegan lucu yang jauh dari kesan slapstik. Seperti adegan saat
Sang Istri memberikan makanan pada Goo Yong, dan ketahuan oleh Sang Suami, dalam pikirannya sang suami berani membalaskan rasa sakit hatinya dengan menghakimi mereka, tetapi pada kenyataannya dia hanya melihat sambil meratapi nasip tanpa berani bertindak. Naskah film ini menjadi  bagian yang terbaik dari keseluruhan aspek film. Karena dialog-dialog yang dihasilkan jujur dan apa adanya. Untuk usahanya itu Park Yun, penulis naskah film ini mendapat pengharhargaan penulis skenario terbaik dari Grand Bell Film Awards 2008 dan Paeksang Film Awards 2009.

Kim Hae Soek yang berperan sebagai Sang Istri
menampilkan akting yang luar biasa. Lewat film ini dia dinominasikan untuk aktris terbaik dari Grand Bell Film Awards 2008, Blue Dragon Film Awards 2008, Paeksang Film Awards 2009.

Sebelum dalam film ini kita mengenal Kim Hae Soek dalam film My Bother (2004) sebagai ibunya Won Bin, dalam film Open City (2008) sebagai senior Son Ye Jin dan juga dalam film My Girl and I (2005) bersama Song Hye Gyo dan Cha Tae Hyun.

Senin, 11 April 2011

South of the Border (Korea.2006)


Dir : Ahn Pan Seok
Cast : Jo Yi-Jin, Cha Seung-Won, Shim Hye-Jin, Jang So-Yeon

Sebelum film Crossing (2008) memberikan kita gambaran mengenai peliknya situasi politik Korea Selatan dan Utara
yang diwakilkan pada sosok ayah dan anak yang saling mencari, telah ada sebuah film dengan premis cerita hampir serupa. Film berjudul South of the Border ini rilis 2006. Meskipun mengambil tema yang sama yaitu cinta, film yang memiliki judul lain Over the Border ini, memilih untuk mengambil tema cinta lebih populer yaitu cinta antara sepasang kekasih. Kisah ini seperti sebuah adaptasi bebas dari drama teater Romeo Juliet. Kita semua tahu kisah cinta Romeo Juliet terhalang sikap kebencian keluarga mereka, untuk film ini karakter keluarga tersebut diwakilkan pada hubungan bilateral Korea Selatan dan Utara yang tidak baik. 

Bedanya dengan Crossing, film ini tidak begitu berani mengambarkan Korea Utara dengan kekejaman kehidupan sosialis pada masyarakatnya, karena latar belakang warga Korea Utara yang diadaptasi juga adalah kelas menengah ke atas. Film ini lebih mengorbankan kisah cinta dah dengan latar belakang kedua negara sebagai hubungan sebab akibat. Atau asumsinya pilihan adalah Cinta atau Negara.

Kim Sun Ho (Cha Seung Won) adalah seorang pemain terompet pada sebuah
perkumpulan orkestra di Pyong Yang, berasal dari keluarga lumayan cukup terpandang. Sun Ho sedang menjalin hubungan asmara dengan Yon Hwa (Yo Ji Yin). Sun Ho begitu mencintai Yon Hwa dan berencana menjadikan Yon Hwa pasangan hidupnya nanti. Sampai kemudian keluarga Sun Ho menerima surat dari kakeknya di Seoul, yang mereka kira selama ini telah meninggal. Melalui surat tersebut kakek meminta mereka sekeluarga untuk pindah ke Selatan. Dengan jabatan yang dimilki oleh kakek mereka mendapatkan kemudahan untuk bisa segera pindah ke Selatan.

Sun Ho sangat dilema menghadapi semuanya, ibarat simalakama baginya. Tentu dia ingin sekali berkumpul dengan kakeknya dan hidup lebih baik di Selatan, tapi di
lain pihak dia tidak tega untuk meninggalkan wanita yang begitu dicintainya. Tentu jika Sun Ho telah menikahi Yon Hwa itu akan mudah, tetapi status mereka masih sepasang kekasih. Yon Hwa dengan besar hati berusaha untuk menanangkan Sun Hoo, dia berjanji akan segera menyusulnya. Sun Ho menyakinkan Yon Hwa akan membantu kekasihnya untuk menyebrang dengan bantuan kakeknya. Tetapi semua tidak berjalan seperti yang mereka inginkan. Yon Hwa pun tak kunjung datang, berbagai usaha dilakukan Sun ho untuk bisa kembali bersatu dengan kekasihnya. Bantuan kakeknya ternyata tidak begitu bisa diandalkan, dengan usahanya sendiri Sun Ho bahkan sampai kena tipu. Hingga suatu hari, kakak perempuannya memberinya kabar bahwa Yon Hwa telah menikah di Utara. Sun Ho kehilangan harapannya, semua yang selama ini dilakukan terasa sia-sia, pengorbanan yang tak berguna, merasa tidak dihargai, depresi, hidup berlalu hampa dan kosong dengan pengkhiantan Yon Hwa akan cintanya. Tetapi bagaimanapun hidup terus berjalan dan dia harus menjalaninya. Selanjutnya Ho harus besar hati menjalani hidup tanpa rasa, tanpa cinta, tanpa cita-cita.

Film ini menambah list film-film Korea yang akan mem
buat penontonnya berlinang air mata. Sebuah kisah cinta abadi yang sulit untuk bisa dimengerti dengan akal sehat, karena kadang cinta bisa membuat orang melakukan tindakan-tindakan diluar akal sehat. Film ini dengan berani membuktikan cinta abadi itu ada, bahwa kesetiaan itu ada dan cinta adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih kebahagian dalam hidup ini. Namun sebesar apapun cinta yang kita miliki pada seseorang tentu tidak bisa kita paksakan. Hanya orang berhati besarlah mampu melepaskan orang yang dicintainya dan membiarkan bahagia dengan orang lain Mungkin memang terlalu berlebihan dan hanya akan terjadi difilm-film, justru inilah yang coba dilihatkan dalam film ini, tidak ada yang dibuat-buat dan berlebihan. Hanya mencoba untuk jujur melihatkan sisi cinta yang pada kenyatannya begitu sulit ditemui saat ini. Banyak sekali nilai-nilai penting tentang kehidupan yang disisipkan dalam film ini.

Atas aktingnya dalam film ini Jo Yi Jin yang berperan sebagai Yon Hwa meraih penghargaan sebagai Best Breakthrough Actress dari Grand Bell Film Awards 200
7 dan nominasi untuk kategori sama dari Blue Dragon Film Awards 2006.
Untuk usaha menghidupkan suasana Korea Utara dan Selatan pada awal abad millennium film ini berhasil mendapatkan nominasi art direction dan costume design dari Grand Bell Film Awards 2007. Serta memenangkan satu penghargaan lain untuk Shim Hye Jin sebagai aktris pendukung terbaik.