Tampilkan postingan dengan label Wagner Moura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wagner Moura. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 April 2011

The Elite Squad II (Brasil.2010)

Director :
Jose Padilha
Screenplay:
Braulio Mantovani
Jose Padilha
Cast :
Wagner Moura – Beto
Maria Ribeiro – Rosane
Andre Ramiro – Andre
Milhem Cortaz – Fabio
Irandhir Santos – Fraga
Andre Mattos - Fortunato
Seu Jorge – Beurada
Taina Muller – Clara
Pedro Van-Held – Rafael

Empat tahun bagi Jose Padilha untuk menyiapkan sekuel film blockbuster Brasil 2007, The Elite Squad. Tidak hanya sukses di negaranya sendiri. Film ini juga sukses pada peredaran Internasional, mendapatkan banyak penghargaan dari festival dan penghargaan film bergengsi tingkat dunia. Dengan alasan-alasan ini mungkin Padilha tergoda untuk mengulang sukses dengan merilis film lanjutannya pada akhir 2010 lalu. Saat rilis 8 Oktober 2010 lalu film ini berhasil mendulang pendapatan sebesar BRL 13,900,000 dari 661 layar bioskop, menjadikannya sebagai salah satu film terlaris di Brasil sepanjang 2010.

Film mengambil jalan cerita 15 tahun setelah film pertama. Beto (Wagner Moura) telah menjadi pejabat BOPE dan masih berjuang melawan peredaran obat-obatan terlarang. Tetapi perjuangan Beto tidak lagi sama, tidak lagi hanya menghadapi dealer-dealer biasa. Kali ini perang Beto dan BOPE adalah menghadapi sindikat besar kepolisian, militer dan penjabat-pejabat negara, para politikus busuk yang justru memanfaatkan bisnis-bisnis tersebut dengan melegalkan segala macam cara untuk membuka peluang semakin kuat menduduki lembaga politik tertinggi Brazil.

Seperti dalam film pertama, kali ini kembali penonton dipandu dengan narasi dari Beto. Beto memperkenalkan Diogo Fraga (Irandhir Santos) yang sedang mepresentasikan bagaimana kondisi masyarakat Brasil tahun 2010 dan hubungan garis lurusnya dengan tindak kriminal dan penjara. Jika populasi Brasil tahun 2010 adalah 50 juta jiwa, maka pada tahun 2081 menjadi 570 juta jiwa. Jika populasi penghuni penjara Brasil pada tahun 2010 8 juta jiwa, makan pada tahun 2081 menjadi 510 juta jiwa. Jadi 90% penduduk Brasil pada tahun 2081 akan menjadi penghuni penjara. Hasil perkiraan statistik yang dipresentasikan Fraga ini bukan tanpa alasan. Kriminalitas yang setiap tahun meningkat dan tindakan penanggulangan dari Pemerintah yang tidak memperlihatkan keseriusan. Pemerintah begitu sibuk dengan urusan pribadinya, mereka sibuk memikirkan bagaimana bisa mempertahankan jabatan, bagaimana bisa mendapatkan posisi yang semakin aman di Pemerintahan. Sementara itu pihak yang berkewajiban menjadi pemberantas kejahatan  yaitu polisi justru malah menjadi pelakunya sendiri. 

Hubungan Beto dengan istrinya, Rosane (Maria Ribeiro) semakin tidak harmonis, mereka bercerai. Rosane ternyata memiliki hubungan khusus dengan Diogo Fraga. Anak Beto, Rafael (Pedro Van-Held) yang dalam film pertama dikisahkan baru lahir telah tumbuh menjadi seorang anak muda 15 tahun yang pendiam, terlihat begitu merindukan sosok ayah yang sebenarnya dari Beto. Keterlibatan Beto dan Fraga pada permasalahan pejabat dan politikus kotor dalam melegalkan bisnis senjata dan obat-obatan terlarang akhirnya justru menarik secara tidak langsung keterlibatan Rafael. Inilah kemudian yang berkembang menjadi sangat personal bagi Beto.


Ironi inilah yang kembali coba digali oleh Padilha. Pejabat pemerintah yang semestinya memberikan dukungan justru menduduki menara-menara tertinggi sistem kebobrokan  itu sendiri. Saat para pejabat petinggi terlibat tentu benturan-benturan birokrasi yang bertele-tele pada sistem pemerintahan menjadi rintangan besar. Premis film ini tidak jauh berbeda dari film pertama. Hanya kali ini masalah lebih difokuskan pada keterlibatan pada pejabat pemerintahan demi melancarkan bisnis kotor itu. Selain itu film ini melibatkan jurnalis. Polisi bersih, polisi kotor, pejabat licik dan jurnalis idealis menjadi polemik yang semakin kompleks untuk permasalahan serius ini. Inilah benturan-benturan kepentingan banyak pihak dalam mengendalikan sebuah situasi yang tentunya menjadi akan semakin buruk jika semakin banyak pihak yang terlibat di dalamnya.

Namun sayangnya Padilha tampaknya tidak terlalu ingin berlama-lama memperlihatkan kebrobrokan Pemerintahnya sendiri karena kemudian permasalahan yang muncul menjadi semakin personal untuk setiap karakternya. Semakin menuju akhirnya film ini menjadi tidak lagi memiliki esensi utamanya mengenai pemberantasan obat-obat terlarang dan pemerintahan busuk tetapi menjadi sederhana dengan dendam pribadi antar karakternya. Tidak ada lagi masalah politik, peredaran narkoba, hanya tersisa aksi balas dendam menyelamatkan anggota keluarga.

Meskipun mengambil premis cerita yang lebih berat dengan melibatkan pejabat Pemerintah, tetapi justru terasa hanya menjadikan hal itu sebagai latar belakang semata. Jalinan kisah terlalu dibuat rumit sehingga pada beberapa bagian terasa sekali kesenjangan plot. Masalah-masalah yang semakin bertumpuk kemudian mengambang begitu saja karena kemudian pada bagian penyelesaian fokus agak membaur dengan masalah pribadi dan tanpa adanya penyelesaian jelas untuk premis yang justru dari awal menjadi telah dihembuskan dengan baik.


Wagner Moura, Maria Ribeiro, Andre Ramiro dan Milhem Cortaz kembali memerankan karakter mereka pada film pertama, tidak ada sesuatu yang menonjol dari penampilannya. Mereka seperti terjebak tidak mampu mengembangkan karakter-karakter tersebut karena tidak mendapatkan porsi yang cukup, atau karena memang naskah film ini yang memberikan porsi tidak maksimal untuk karakternya. Bahkan Wagner Moura gagal memberikan penampilan terbaiknya seperti pada film pertama, meskipun ada beberapa adegan yang memberikannya porsi emosional yang tinggi tetapi tidak semaksimal dalam film pertama. Justru yang memberikan penampilan prima adalah Irandhir Santos sebagai Diogo Fraga.

Terlepas dari segala kekurangan film ini (dibandingkan dengan film pertama) film ini masih menyisakan ketegangan adegan-adegan baku hantam senjata pasukan elite BOPE dengan para penggedar dan bandar narkoba. Teknis film yang dikerjakan lebih sempurna dari film pertama karena secara sinematografi, editing, efek, sound dan make-up film ini semakin detail, rapi dan tereksekusi maksimal.

Pada Cinema Brasil Grand Prize 2011, The Elite Squad II mendapatkan kehormatan dengan 16 nominasi. Menjadi film pertama dalam 10 tahun perhelatan Oscarnya Brasil ini yang memperoleh nominasi terbanyak. Uniknya naskah film ini tetap dinominasikan untuk naskah asli terbaik, padahal semua karakter dan jalan ceritanya adalah adaptasi dari film pertama. Kita tunggu saja Mei 2011 ini, apakah film ini akan kembali mencatatkan kesuksesan kualitas seperti film pertamanya tahun 2008 lalu.

The Elite Squad (Brasil.2007)

Director:
Jose Padilha
Screenplay:
Andre Batista
Rodrigo Pimentel
John Kaylin
Braulio Mantovani
Jose Padilha
Cast :
Wagner Moura – Roberto Nascimento
Andre Ramiro – Andre Matias
Caio Junqueira – Neto
Fernanda Machado – Maria
Fabio Lago - Baiano
Milhem Cortaz – Fabio
Paulo Vilela - Edu
Maria Ribeiro – Rosane
Fernanda de Freitas – Roberta

Film ini meraih Golden Berlin Bear pada Berlin International Film Festival 2007. Menyingkirkan Happy Go Lucky, Lake Tahoe dan There Will be Blood yang cukup populer. The Elite Squad membayar kekalahan The Year My Parents Went on Vacation yang tahun sebelumnya juga menjadi Official Selection untuk festival yang sama. Realita yang terasa sangat nyata mungkin menjadi kesepakatan para juri Berlin Golden Lion memilihnya menjadi yang terbaik. Sutradaranya, Jose Padilha telah dikenal oleh publik Brasil dengan dokumenter Bus 174 (2001) yang sangat fenomenal karena diangkat dari kejadian nyata penyanderaan di dalam bis 174 pada 12 Juni 2000. The Elite Squad adalah feature film perdananya. Bekerja sama dengan banyak film-maker yang pernah menghasilkan City of God (2002) menjadikan The Elite Squad pada beberapa bagian memiliki nafas hampir sama dengan salah satu film terbaik yang pernah dibuat itu (versi IMDB peringkat 18 dari 250 film terbaik sepanjang masa).

BOPE adalah satuan pasukan khusus elite polisi Brasil yang didirikan untuk menangani kasus-kasus tertentu dan berat. Masalah perdagangan narkotika dan zat adiktif lainnya yang semakin merajalela di Rio de Janeiro serta masalah perdagangan senjata ilegal yang ternyata melibatkan pihak kepolisian Brasil menjadi fokus utama tugas pasukan ini. Selain juga menjadi pasukan keamanan khusus untuk para petinggi luar yang berkunjung ke Brasil, termasuk Paus. Tahun 1997, Paus di rencanakan melakukan kunjungan untuk yang ke 3 kalinya ke Brazil. 3 bulan sebelum kunjungan itu, Kapten Beto (Wagner Maura) harus menyiagakan pasukannya untuk mengamankan daerah-daerah tertentu yang akan menjadi lokasi kunjungan Paus.

Melalui narasi dari Beto, penonton digiring mengikuti dua plot tumpang tindih saling berhubungan. Plot pertama adalah mengikuti kisah hidup Beto menyusuri bagian-bagian gelap Rio de Janeiro bersama pasukan elitenya membasmi dan mengamankan kota dari ‘sampah-sampah’ masyarakat para dealer-dealer narkoba. Pahitnya adalah beberapa kali Beto harus menemukan banyak pelajar dan mahasiswa yang terlibat dengan bisnis kotor ini. Plot kedua adalah tentang Neto (Caio Junqueria) dan Andre (Andre Ramiro) pejabat polisi yang baru saja diangkat menjadi staf pimpinan tetapi merasakan adanya ketidaktulusan dan kebobrobkan mental dari banyak petugas polisi di sekitar mereka yang justru menjadikan jabatan mereka untuk mementingkan diri sendiri dengan menjadi ‘polisi kotor’. Tidak hanya menjadi dekingan untuk kelancaran peredaran narkoba, para polisi kotor ini juga menjadi pemasok senjata-senjata ilegal bagi para dealer-dealer pengedar narkoba.

Film ini secara personal mengikuti suara hati Beto. Dilema demi dilema mulai mengetuk nuraninya. Komitmennya pada pekerjaan membuat hubungan dengan Rosane (Maria Ribeiro), istrinya yang sedang hamil tidak berjalan baik. Ketika seorang ibu muda menemuinya dan meminta bertanggung jawaban Beto atas kematian anak laki-laki satunya yang masih di bawah umur karena Beto memanfaatkan sang anak untuk menjadi saksi, rasa bersalah semakin menguasainya. Beto memutuskan untuk mencari penggantinya. Disinilah kedua plot ini kemudian menjadi satu kesatuan. Ketertarikan Andre dan Neto pada pasukan khusus ini membuka kesempatan bagi Beto untuk segera menemukan pengantinya.

Seperti dalam City of God, film ini berusaha jujur mengangkat realita menjadikannya terlihat begitu nyata dan memang sedang terjadi hingga saat ini. Jika dalam City of God penonton disuguhkan bagaimana siklus peredaran narkoba dari sudut pandang pelaku bisnisnya, dalam film ini justru dari sudut pandang sebaliknya. Bagaimana keseriusan pemerintah Brasil mencoba untuk mencegah semakin merajalelanya bisnis yang semakin menghancurkan generasi di masa depan. Membentuk pasukan khusus elite yang sangat berkomitmen untuk menghentikan siklus narkoba tentu adalah langkah serius, justru menjadi ironi saat keseriusan itu dipecundangi dengan ulah para petugas polisi itu sendiri menjadi pihak yang membiarkan bisnis itu berjalan aman, menjadi pihak yang bertanggung jawab memberikan ‘keamanan’ untuk keberlangsungan bisnis itu dan bahkan membekali para pelaku bisnis dengan memperjualbelikan senjata yang dipasok justru untuk keamanan. Betapa menyedihkannya?

Film ini menjadi kelanjutan City of God. Sebagaimana kita ketahui pada akhir film itu, Polisi adalah pihak yang mempecundangi dealer itu sendiri. Pihak yang justru memanfaatkan situasi dengan mental yang sangat bobrok mendapatkan keuntungan secara finansial, memperkaya diri sendiri. Melalui The Elite Squad, Jose Padilha seperti menjadi kelanjutan tangan pemerintah Brasil, memperlihatkan bahwa masih banyak petugas kepolisian dan keamanan negara yang memiliki komitmen kuat dan bertanggung jawab besar untuk menyelamatkan generasi muda dari pengaruh tidak baik dan tidak berguna dari peredaran obat-obat terlarang.


Beto, Andre dan Neto menjadi sosok yang begitu berkomitmen dalam menjalankan tugasnya. Bahkan pada beberapa bagian terasa begitu berlebihan, tanpa ampun dan penuh dendam. Hal ini bukan tanpa alasan. Pembekalan pada saat pembentukan mental pasukan elite ini melatih mereka semua tanpa belas kasihan, tanpa ampun dan ditempa sedemikian rupa untuk menutupi rasa kasihan mereka. Seperti pada adegan salah satu dari mereka dibiarkan memegang bom yang siap meledak sementara harus mendengarkan petuah-petuah yang sangat membosankan. Pribadi yang dianggap lemah, tidak berkomitmen dan tidak mampu menunjukan mental baja diberikan pilihan, apakah akan terus mengikuti pembekalan atau kembali bertugas pada kesatuan menjadi polisi biasa.

Bagaimana buruknya sebuah lembaga kepolisian? Detail terlihat dalam film ini. bagaimana buruknya mental banyak petugas yang mestinya menjadi pelindung rakyatnya. Begitu gamblang dan bobrok terkisah gambaran dari kenyataan yang sebenarnya terjadi saat ini. Kenyataan yang memang menjadi momok bagi Brasil, bagi banyak negara di dunia dan tentu bagi Indonesia sendiri. Sering kali bukan kita mendengar kisah keterlibatan oknum polisi dengan berbagai tindak kriminal. Dan seperti sudah mendarah daging dari generasi ke generasi, tidak akan hilang dan tidak akan pernah bisa hilang.
 
Naskah film ini berhasil memberikan kisah-kisah transisi berbagai keribadian manusia. Menelanjangi detail kebobrokan lembaga kepolisian yang bahkan terasa tanpa ampun. Melugaskan kepada penonton bagaimana detail peredaran obat-obatan terlarang dengan begitu mudahnya sampai ditangan pengguna. Semuanya ditampilkan oleh naskah film ini dengan sempurna, tanpa terasa berlebihan dan dipaksakan. Naskah film ini mendapatkan nominasi naskah asli terbaik Cinema Brasil Grand Prize 2008, penghargaan film Brasil yang disetarakan dengan Acacemy Award.

Akting maksimal Wagner Moura sebagai Beto begitu menyakinkan. Salah satu adegan yang cukup memorable adalah ketika dia berkali-kali menampar wajah salah satu pengguna narkoba. Atas perannya dalam film ini, Moura diberikan penghargaan aktor teerbaik dari Cinema Brasil Grand Prize 2008. Berbicara mengenai tekhis film ini memberikan semua yang terbaik, sinematografi handheld yang bermaksud memberikan suguhan realita untuk penonton, editing dan sound yang digarap baik serta tentu musik penggiring yang berhasil menambah ketegangan film ini. Cinema Brasil Grand Prize 2008 juga memberika penghargaan untuk Sutradara terbaik bagi Jose Padilha, aktor pendukung terbaik untuk Milhem Cortaz, serta untuk sinematografi, editing, sound dan penata rias terbaik.

Yang cukup unik adalah The Elite Squad mendapatkan penghargaan Best Foreign Film Spanish Language dari Argentinean Film Critics Association Awards 2009, padahal tidak ada satupun dialog dalam film ini yang menggunakan bahasa Spanish, melainkan Portuguese.