Tampilkan postingan dengan label Walter Salles. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Walter Salles. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Maret 2011

Behind the Sun (Brasil.2002)

Dir : Walter Salles
Cast : Rodrigo Santoro, Ravi Ramos Lacerda, Jose Dumont, Rita Assemany, Luis Carlos Vancocelos, Flavia Marco Antonio & Wagner Moura

Rodrigo Santoro mungkin menjadi satu-satunya aktor asal Brazil yang sukses merintis karier di Amerika dengan membintangi banyak film-film komersil Hollywood dan cukup sukses, sebut saja Charlie’s Angel, Love Actually, 300, serial Tv Lost, dan film terbarunya bersama Ewan McGregor dan Jim Carrey, I Love You Phillip Morris. Abril Despedacdo atau dalam rilis bahasa Inggris berjudul Behind the Sun, film produksi tahun 2001 dari sutradara Walter Salles ini adalah yang membuka peluang untuk aktor yang juga membintangi sebuah produk iklan parfum bersama Nicole Kidman. Behind the Sun mendapatkan perhatian publik dunia (Amerika) saat dinominasikan oleh perkumpulan jurnalis internasional Hollywood (HFPA) sebagai salah satu film berbahasa asing terbaik dalam Golden Globe tahun 2002.

Film ini diadaptasi bebas dari novel karya penulis asal Albania, Ismael Kadare yang berjudul April Broken, dengan mengambil setting Brazil utara tahun 1910. Bercerita tentang permusuhan yang telah terjadi bertahun-tahun diantara dua keluarga, di atas sebuah ladang tebu yang selalu tersiram panas matahari dan gersang. Permusuhan dilambangkan atas keterjebakan mereka pada kebencian yang telah terbentuk serta mendarah daging sekian lama dari sepuh keluarga dan membiarkan pembunuhan demi pembunuhan terjadi atas nama kehormatan keluarga.

Saat kakak laki-lakinya Inacio terbunuh, Tonho (Rodrigo Santoro) harus memenuhi perintah ayahnya (Jose Dumont) untuk membangun keberaniannya membalaskan dendam keluarga demi nama baik keluarganya. Setelah melewati masa berkabung yang telah ditentukan, anggota keluarga masing-masing yang bermusuhan akan berusaha untuk membunuh salah satu dari anggota keluarga musuhnya, jika kemudian gagal, maka akan menunggu masa berkabung selanjutnya untuk bisa kembali membunuh. Tonho dan adiknya Pacu (Ravi Ramos Lacerda) setiap kali harus berhadapan dengan maut dan tanpa keberanian untuk mengungkapkan keberatan pada ayah mereka, karena mereka akan dianggap menghina kehormatan keluarga.

Kehidupan miskin yang mereka hadapi sebagai petani tebu tidak bisa mempengaruhi ‘kehormatan’ yang terlalu berlebihan diagung-agungkan oleh sang Ayah. Tonho dan Pacu seperti ingin pergi jauh dari ayahnya, mereka bosan dengan aktivitas setiap hari hanya memutar alat pengompres tebu yang ditarik dengan sapi, tidak ada apa-apa disekitar mereka selain hanya kehidupan berat dan dendam yang semakin membuat hidup tidak berjalan kemana-mana. Pertemuan dengan seorang gadis yang menjual atraksi sirkus bernama Clara (Flavia Marco Antonio) cukup memberikan hiburan pada hidup mereka yang terjebak kemiskinan dan terus menerus dikejar ketakutan 


Sebuah pemikiran keliru tentang kehormatan menjadi inti film ini. Seperti tidak ada peluang untuk mencari cara lain untuk menyelesaikan masalah yang terjadi atau memang karena luka yang terlalu lama dan bertumpuk membuat hal itu menjadi sesuatu yang legal dilakukan. 

Sebuah adegan hujan besar yang sangat jarang sekali terjadi di sana menjadi sebuah metafora pada dendam demi dendam yang terjadi. Apakah hujan akan memberikan sebuah ‘penyegaran’ bagi mereka untuk bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik. Tonho berjuang dengan dilema tersebut, bagaimana dia bisa tetap menghargai keluarganya tanpa membunuh. Bagaimana dia bisa tidak terbunuh atau pergi dari keluarganya tanpa meninggalkan aib atas kehormatan keluarganya.

Inilah film yang jelas-jelas mempertanyakan bagaimana nurani manusia berkembang menghadapi segala masalahnya, membiarkan sesuatu yang dipercaya menguasainya, atau dengan egois membiarkan semua terjadi hanya demi sebuah kehormatan yang sebenarnya juga diragukan. Atau justru berusaha menunjukkan bahwa nurani, hati, dan pikiran bisa dikendalikan pada hal-hal sebenarnya baik untuk dilakukan, dan hal yang terakhir inilah yang dipilih oleh Tonho untuk diperjuangkan. 

Sebuah keindahan “sureal” dihadirkan oleh Walter Salles dengan begitu gersang, panas, perih, pahit dan berkarat adalah bentuk rasa jika kita ingin memberi arti pada Behind the Sun secara keseluruhan. Salles membaurkan warna-warna indah Brazil yang panas dan gersang dengan kegelapan dendam yang berkarat dalam hidup mereka tanpa ada peluang untuk bisa menemukan “air” dalam arti sebuah penyelesaian yang baik supaya hidup bisa lebih benar-benar indah untuk dinikmati. 

Dengan cinematografi yang begitu sempurna membiarkan penonton tersiksa dengan keindahan sekaligus kegersangan Brazil. Cerita adaptasi yang menarik, menegangkan dan rapi, akting dari para pemeran yang sempurna (terutama Jose Dumont yang berperan sebagai ayah Tonho) dan tentu saja penyutradaraan yang baik oleh Salles menjadikan film ini dinobatkan oleh banyak kritikus film internasional sebagai salah satu film terbaik Brazil yang pernah dibuat (bersanding dengan Pixote, The Given Word, The Oyster and the Wind, Who Killed Pixote, City of God, Central Station dan 4 Days in September).

Behind the Sun dinominasikan film berbahasa asing terbaik BAFTA dan Golden Globe 2002, meraih Little Golden Lion Venice Film Festival 2002, Silver Daisy Awards Brazil 2002, penghargaan sebagai sutradara terbaik untuk Salles dari Havana Film Festival 2002 dan aktor terbaik untuk Rodrigo Santoro dari Premio Qualidade Brazil 2002.

Berhasil memikat publik dunia dengan Central Station dengan 2 nominasi Oscar tahun 1999, Walter Salles kembali membuktikan kepiawaiannya dalam menggarap film. Meski kali ini tidak menembus perhelatan tertinggi Hollywood tersebut, tetapi cukup memperlihatkan Salles mampu mempertahankan kualitasnya. Dan dari beberapa kritikus film, Behind the Sun dianggap lebih sempurna dari Central Station, Oscar tidak selalu menjadi jaminan terbaik atau tidak. 

Jumat, 04 Maret 2011

Linha de Passe (Brasil.2008)


Dir: Walter Salles & Daniela Thomas

Cast : Sandra Corveloni, Joao Baldasserini, Vinicius de Oliveira, Jose Geraldo Rodrigues, Kaique Santos, Robert Audi & Denise Weinberg


Walter Salles menjadi salah satu sutradara asal negara terluas di Amerika Latin tersebut yang berhasil menaklukan Hollywood dengan karya-karyanya yang mendapatkan banyak kritikan positif dari kritikus film Amerika dan dunia. Sebut saja Foreign Land, Central Station, Midnight, Behind the Sun dan The Motorcycle Diaries yang berhasil meraih penghargaan dibanyak festival film international dan ajang penghargaan film termasuk di Amerika.

Mengangkat profile nyata hampir sebagian besar dari masyarakat Brasil, dengan potret kemiskinan, kriminal, sepakbola dan mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih. Walter Salles kembali berduet dengan Daniela Thomas untuk penyutradaraan. Ini adalah untuk yang ketiga kalinya mereka berduet dengan setelah Foreign Land (1996) dan Midnight (1999).  

Cleuza (dimainkan dengan sangat menyakinkan oleh Sandra Corveloni) seorang wanita berusia 40-an yang sedang hamil dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah pemukiman elite Sao Paulo, Brasil. Cleuza ternyata telah memiliki 4 anak laki-laki yang beranjak dewasa dan semua memiliki impian, cita-cita dan jalan hidup yang berbeda-beda. Uniknya adalah ke4 anaknya tersebut dari suami yang berbeda, dan tidak ada satupun dari anak-anaknya ini yang pernah mengenal sosok mereka. 

Denis (Joao Baldasserini) yang paling tua, mempunyai seorang anak perempuan berusia balita yang tinggal bersama ibunya dan bekerja sebagai kurir sepeda motor. Dinho (Jose Geraldo Rodriguez) berusaha hidup dengan menjadi pribadi yang taat beragama, melibatkan dirinya dalam banyak kegiatan keagamaan, aktif di gereja serta bekerja pada sebuah pom bensin. Dario (Vinicius de Oliveira) yang memiliki mimpi tinggi untuk menjadi pemain bola profesional Brasil tetapi menemui rintangan berat untuk meraih mimpinya tersebut. Dan paling bungsu Reginaldo (Kaique Santos), banyak menghabiskan waktunya di terminal-terminal bis karena berambisi mencari ayahnya yang menurut ibunya adalah seorang supir bis. 

Kehidupan Cleuza dan ke4 anaknya berjalan menapaki realita berat dengan segala keterbatasan, kekurangan dan ketidakmampuan yang tetap harus ditatap karena hidup terus berjalan, dan usaha gigih tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan. Ada masanya dimana usaha keras tetapi berakhir dengan kegagalan dan hanya jiwa yang kuat yang mampu menerima kenyataan tersebut. Sebagian mungkin akan berakhir putus asa dan justru malah lari pada hal-hal yang tidak baik seperti tindak kriminal dengan merugikan pihak yang terkadang tidak memiliki hubungan langsung dengan kegagalan yang kita terima. 

Film yang hampir tampak seperti sebuah film dokumenter ini memang dengan sengaja membiarkan semua karakternya menapaki hidup yang semakin rumit dan berat, dan tidak terasa sesuatu yang berlebihan dan dibuat-buat karena naskah film ini memang mengadaptasi kehidupan masyarakat kelas menengah kebawah Brasil. Kemiskinan banyak menuntun mereka pada tindak kriminal tinggi yang sampai saat ini masih menjadi issue negara itu sendiri untuk dicari solusinya. 

Jauh berbeda dengan film-film Salles sebelumnya, film ini seperti dipersembahkan bagi keterpurukan banyak pribadi-pribadi yang hidup miskin, terbelakang dan membuang mimpi-mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih, dan sampai film ini berakhirpun penonton dan karakter-karakter dalam film ini biarkan begitu saja untuk terus menghadapi kenyataan-kenyataan yang mungkin masih akan terus pahit (atau tidak) untuk dihadapi. Sebuah akhir yang ditransferkan pada pikiran penonton bahwa hidup ini tidak akan pernah berakhir selama nyawa masih dikandung badan, waktu akan tetap bergulir dan sebagai manusia kita harus terus menjalaninya untuk menghadapi kenyataan baik dan buruknya. 

Jika dibandingkan dengan karya-karya Salles sebelumnya, film yang semua lokasi syutingnya benar-benar syuting di kota Sao Paulo ini terasa lebih menyentuh realita yang terjadi, meskipun secara pribadi saya menilai Behind the Sun dan Central Station masih menjadi karya terbaiknya, paling tidak membuktikan bahwa sutradara yang membuat debut Hollywoodnya dengan remake film film Jepang, Dark Water ini mampu menyutradarai berbagai genre film dengan baik.

Salah satu lagi yang selalu menjadi poin lebih dari karya-karya Salles adalah detail cinematografi, music dan editing yang baik. Berbanding lurus dengan naskah film ini, cinematografi yang dihasilkan film ini berhasil mengcapture realita masyarakat Brasil dengan gambar yang indah sekaligus keras, dengan editing yang baik dan musik film karya Gustavo Santaolalla yang makin menambah rasa perih menonton film ini. 

Film ini berhasil menjadi salah satu official selection pada Festival Film Cannes 2008 dan Sandra Corveloni berhasil mendapatkan penghargaan aktris terbaik, menjadikannya sebagai aktris Brasil kedua yang pernah meraih Cannes setelah Fernanda Montenegro tahun 1986, Corveloni juga berhasil menjadi aktris terbaik dari Premio Contogi Cinema Brasil 2008 dan Havana Film Festival 2008. Pada penghargaan Cinema Brasil Grand Prize yang anggap sebagai Oscarnya Brasil, film mendapatkan 8 nominasi termasuk untuk film terbaik. 

Salles kembali mengajak kembali Vinicius de Oliveira yang pernah kita kenal sebagai si muda Joseu yang mencari ayahnya dalam karya Salles sebelumnya, Central Station (1998), dan uniknya aktor ini hanya bermain pada 3 film karya Salles sepanjang kariernya. Untuk keperluan film ini, Vinicius dilatih bermain sepakbola secara profesional selama beberapa bulan.