Tampilkan postingan dengan label Kajian Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Film. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2011

Apa Saja Hal Klise Yang Selalu Ada Dalam Film Horor Thrilller dan Slasher?


11 tahun waktunya bagi Wes Craven dan Kevin Williamson tergoda untuk kembali berusaha menjual salah satu jualan mereka yang cukup laris medio 90-an lalu. Tentu harapan akan kualitas dan cerita film yang lebih baik dan fresh oleh banyak fans franchise ini. Begitu akhirnya Scream 4 rilis tidak banyak ternyata yang diberikan untuk penonton. Film ini kembali hadir dengan pakem yang sama dengan karya-karya sebelumnya atau tepatnya memiliki semua yang selalu hadir dalam horor/thriller khas remaja. Hal-hal klise inilah kemudian yang akhirnya memposisikan Scream 4 hanya sebagai usaha duo Craven dan Williamson untuk menghidupkan franchise ini tanpa ada hal baru untuk dijual. Terasa basi dan mungkin bisa terlupakan begitu saja. Terbukti dengan hasil pendapatan film yang tidak melebihi US$ 50 juta, Scream 4 hanya berhasil meraih US$ 38.042.485 untuk peredaran Amerika Utara saja.

Tentu akhirnya bukan detail Scream 4 yang akan terus kita bahas di sini. Scream 4 mengembalikan kenangan kita pada banyak sekali hal-hal typcal yang kerap kali “terjadi” dalam film-film setype. Hal-hal klise ini seperti telah menjadi pakem-pakem yang selalu hadir dalam setiap film horor semacam Scream 4 ini. Hal-hal tersebut dibuat dengan tujuan untuk memacu adrenalin penonton dalam menonton thriller/horor. Kejutan demi kejutan, siap atau tidak siap adalah sebuah hiburan tersendiri menikmati film-film seperti ini. Apa sajakah itu?

Mari kita mengenang kembali film Scream yang pertama. We Craven memberikan 3 "pakem" yang paling penting yaitu Jangan melakukan Seks, jangan Mabuk dan jangan memakai Narkoba. Nah jika dalam sebuah film anda melihat karakter-karakter sedang melakukan 3 hal ini bersiaplah dalam waktu tidak terlalu lama mereka akan segera dibantai.
Seen: Franchise Scream






Pernahkah anda mendengar sebuah mengenai IQ manusia dalam sebuah film Horor? Jika IQ rata-rata manusia adalah 120, maka IQ manusia dalam film horor remaja adalah dibawah 50. Sudah dipastikan mereka selalu mengambil keputusan yang salah dari banyak pilihan “pintar” yang ada. Kedunguan para karakter dalam film semacam ini menjadi sesuatu yang selalu berhasil membuat penonton jengkel dan deg-deg-an. Seperti bersembunyi di dalam rumah yang jelas-jelas ada pembunuh, berteriak-teriak berlebihan karena alasan ketakutan, tidak buru-buru kabur dari tempat yang ada pembunuh meskipun telah bebas atau terlalu peduli pada teman yang sudah jelas-jelas mati dibantai pembunuh.
Seen: Valentine, House of Dead, The Clinic

Berbanding lurus dengan IQ, dialog-dialog yang hadirpun adalah hubungan antara kebodohan dan ketoledoran. Seperti misalnya “Dimana dia?” arti yang sebenarnya adalah “tadi dia ke kamar atas dan dia telah terbunuh disana” atau misalnya “Jangan kemana-mana, tunggu disini, aku akan segera kembali” arti yang sebenarnya adalah “kamu di sini aja, sebentar lagi pembunuh akan memecahkan kepalamu”
Seen: Friday the 13




Perhatikan dengan karakter yang suka iseng, mengesalkan, egois dan jahat, anda tidak perlu khawatir karena tidak berapa lama lagi mereka akan segera mati. Dan bahkan pembunuh sangat suka sekali menyiksa mereka hingga kepala pecah, mata keluar, kaki putus dan sebagainya.
Seen: Franchise Final Destination, I Know What You did Last Summer, I Spit on Your Grave






Setipe dengan poin 2 dan 3, keputusan untuk berpencar yang dilakukan oleh para pemain seperti salah satu kebodohan yang kerap kali mereka lakukan. Sudah tentu akan memudahkan bagi pada pembunuh untuk menghabisi mereka satu-persatu.
Seen: House of Wax, Texas Chainshaw Massacre, Freddy vs Jason







Dari semua kebodohan para karakter-karakter dalam sebuah film horor/thriller, perempuan-perempuan seksi selalu menjadi inceran terlebih dahulu untuk dibunuh. Mereka biasanya lari ke lantai atas, bersembunyi dalam lemari, lari ke basement yang hanya dengan penerangan 5 watt saja, atau lari ke dalam hutan yang justru akan segera membuatnya bertemu sang pembunuh. Biarkan saja perempuan-perempuan ini untuk mati, karena memang begitulah fungsi mereka difilm-film setipe ini.
Seen: Nightmare on Elm Street, Friday the 13, Prom Night, Wrong Turn


Coba anda perhatikan dalam setiap film sejenis ini, hal-hal sama yang selalu mereka lakukan adalah hanya akan membiarkan 2 sampai 3 orang untuk hidup sampai film berakhir. Tentu hal tersebut adalah untuk pemain-pemain utama yang terkenal. Jika anda melihat hanya 2/3 orang saja yang anda kenal di poster sebuat film, anda telah mendapatkan spoiler bahwa hanya 2/3 orang tersebut yang akan selamat dari teror.
Seen: Scream 3, I Still Know What You did Last Summer, Turistas




Efek mempengaruhi penonton secara teknis terutama dari segi sinematografi adalah hal yang selalu dimanfaatkan dalam banyak film-film horor/thriller. Tentu anda begitu kesal dengan seorang pemain yang mengintip dari balik lemari, karena tanpa dia sadari pembunuh akan hadir dari belakangnya. Atau ketika pemain menjadi sudut pandang pembunuh dari balik-balik benda-benda disekitarnya seperti tanaman atau jendela. Atau ketika kamera mengenda-endap dari belakang pemain tanpa dia sadari juga untuk mewakili sudut pandang pembunuh.
Seen: Jeeper Creepers, Vacancy, I Spit on Your Grave





Ini yang juga cukup menyebalkan, ketika pembunuh telah berhasil dibunuh, biasanya justru mereka seperti diberi tubuh yang kuat atau nyawa lebih dari satu. Meskipun biasanya mereka kembali bisa dilumpuhkan, hal ini digunakan untuk kejutan semata dan biasanya tidak mengubah ending film.
Seen: Scream, Scream 2










Selain teknis sinematografi yang telah kita bahas diatas, Musik juga menjadi salah satu poin utama dalam film horor/thriller. Musik memang sengaja dibuat untuk menganggu penonton. Pastikan anda mengingat ketika musik menghilang siapkan diri anda untuk segera kaget dengan kejutan adegan dan musik yang menghentak.
Seen: The Ring, The Haunting, Death Bell, Insidious








Jika saat menonton anda begitu ingin ke toilet pastikan keaadaan di film sedang siang hari. Film semacam ini selalu memanfaatkan malam untuk memulai teror pembunuh untuk pada karakternya.
Seen: From Dusk till Down, When a Stranger Call












Para sutradara film Horor/thriller selalu memanfaatkan ending untuk memberikan teaser bahwa film tersebut belumlah berakhir. Kemungkinan untuk dibuat sekuel selalu menjadi penutup hampir semua film sejenis ini. Tentu anda mengingat bagaimana mayat si Pembunuh hilang, atau kaki dan jari mereka pelan-pelan bergerak, atau mata mereka kembali terbuka, dsb.
Seen: Urband Legend, Scream, Texas Chainshaw Massacre, Insidious






dari berbagai sumber

Minggu, 19 Juni 2011

Bagaimana Sineas Amerika Latin menggambarkan hubungan Anak dan Orang Tua pada film-film Karya Mereka?


Benarkah orang tua berhak menentukan apa yang terbaik untuk anaknya? Apakah sebenarnya orang tua hanya menjadi panutan bagi anaknya untuk belajar menghadapi hidup? Apakah orang tua benar-benar “memiliki” hak terhadap anaknya? Bagi saya pribadi pertanyaan-pertanyaan semacam di atas menghasilkan beragam jawaban yang cukup menarik ketika menjadi wacana dengan orang tua sendiri dan beberapa teman diskusi. Tetapi mari kita melihat lebih dalam bagaimana penggambaran para orang tua pada kehidupan yang sebenarnya melalui refleksi karya-karya film Amerika Latin.  

Ketika akhirnya memutuskan untuk memiliki anak (menikah ataupun tidak) tentu mestinya orang tua sudah harus menentukan sikap. Tetapi tidak semua orang tua berhasil menemukan sikap-sikap “terbaik” untuk menghadapi hadirnya sang anak. Tuntutan untuk penerus keturunan, anak adalah atau selalu disebut titipan Tuhan yang harus dijaga dan dididik dengan baik, dan terasa itu seperti sebuah tugas mulia. Istilah titipan inilah kemudian yang banyak “disalah-artikan” oleh banyak orang tua dan anak. Inilah kemudian yang menjadi sumber keberagaman pendapat tentang hubungan orang tua dan anak. Bagi sebagian orang tua, anak adalah harta yang perlu dijaga, dirawat dengan baik, diberi pendidikan dan kehidupan yang layak dan diharapkan kemudian menjadi penjaga mereka dihari tua nanti. Oleh sebagian lagi yang mungkin cukup ekstrim karena adalah tipe orang tua yang tidak memiliki tanggung jawab sama sekali, bisa begitu saja meninggalkan anaknya dirawat oleh orang lain, tentu dengan berbagai kompromi yang mereka pilih (baik atau buruknya). Dan sebagian lagi dengan tindakan yang hampir sama dengan yang pertama tetapi anak dibebaskan untuk menentukan hidup dan mencari kebahagiannya sendiri saat dianggap sudah dewasa.

Ketiga tipe orang tua inilah yang coba untuk dikisahkan dalam film-film yang telah disebutkan pada judul ini. Brainstorm atau yang berjudul asli Bicho de Sete Cabecas, film Brasil produksi 2001 yang disutradarai oleh Lais Bodansky ini mengisahkan tentang bagaimana Wilson (Othon Bastos) berusaha memberikan yang terbaik untuk anak laki-laki satu-satunya Neto (Rodrigo Santoro). Neto digambarkan sebagai seorang anak muda remaja pada umumnya yang terjebak pada pola pikir bebas dan menganggap orang tua seperti musuh. Hal ini tentu tanpa alasan. Sikap Wilson yang begitu keras terhadapnya mengakibatkan Neto tidak pernah betah di rumah. Neto lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sebayanya yang tidak lebih dari sekedar hura-hura dan menjebak Neto pada dunia prostitusi. Meire (Cassia Kiss) ibu Neto tidak bisa melakukan apa-apa, dia terjebak dengan rasa sayangnya pada kedua laki-laki dalam hidupnya ini. Meire tidak mampu berbuat banyak ketika Wilson memutuskan untuk mengirim Neto pada sebuah rumah sakit ketergantungan obat. Wilson menemukan kebiasaan Neto menggunakan obat-obatan terlarang. Inilah kemudian yang menjadi titik balik dari hubungan Wilson dan Neto. Wilson merasa dia melakukan yang terbaik untuk kebaikan dan masa depan Neto. Neto merasa ayahnya adalah monster yang tidak peduli pada hidup dan penderitaannya. Saat Wilson memutuskan mengirim Neto ke rumah sakit, saat itulah dia membuka pintu untuk kehilangan anak laki-laki satu-satunya tersebut.

Ketika orang tua berpikir memberikan hal-hal yang terbaik untuk anaknya tentu sudah semestintya. Tetapi ada baiknya hal tersebut telah pemikiran panjang terlebih dahulu. Baik untuk anak, atau baik untuk diri sendiri? Disinilah mestinya orang tua mampu berpikir lebih kritis menghadapi anak. Bicara adalah hal paling bijak untuk dipilih. Memaksakan kehendak terhadap anak akan berakibat tidak baik. Banyak sekali fakta-fakta yang bisa dijadikan bukti. Ketika Wilson memaksakan kehendaknya pada Neto untuk menjalani proses kesembuhan pada rumah sakit tersebut tanpa terlebih dahulu mencari tahu kondisi kesehatan Neto yang sebenarnya menjadi langkah yang sangat keliru. Neto yang merasa dirinya tidak sakit melakukan berbagai usaha untuk melarikan diri. Semakin lama berada di tempat tersebut, kondisi mentalnya semakin tidak baik dan justru membentuknya menjadi pribadi yang tidak stabil karena perkembangan mental sangat  tertekan, apalagi kemudian treatment-treatment pengobatan yang dilakukan padanya dengan pemaksaan dan kekerasan atas dasar kesehatan. Disinilah kebencian Neto pada ayahnya semakin memuncak. Berkali-kali dia meminta pada Wilson untuk mengeluarkannya dari tempat itu, tetapi dengan berpatokan pada hasil diagnosa dokter, Neto masih dinyatakan tidak stabil, Wilson menolak keinginan Neto. Dengan begitu jelas film ini mengambarkan kesalahan keputusan yang diambil oleh Wilson terhadap anak laki-lakinya. Tidak akan ada kesembuhan dan perbaikan masa depan untuk Neto, karena mental semakin drop dan membawanya pada tingat kewarasan yang semakin rendah. Wilson yang berpikir memberikan yang terbaik untuk anaknya justru telah kehilangan Neto untuk selamanya.

Berbeda dengan Brainstorm, Quero (Brasil.2007) justru berkisah secara gamblang bagaimana anak-anak yang hidup tanpa orang tua. Film ini disutradarai oleh Carlos Cortez dan diadaptasi oleh Luis Bolognessi, Braulio Mantovani dan Cortez sendiri dari novel berjudul Quero A Damned Report karya Plinio Marcos. Quero (Maxwel Nascimento) adalah seorang remaja tanggung berusia menjelang 13 tahun. Tidak pernah mengenal siapa orang tuanya, dia hanya mendapatkan cerita yang tidak begitu jelas tentang itu. Dari bayi dia dibesarkan oleh Violeta (Angela Leal) seorang mucikari di sebuah rumah bordil. Dididik dengan keras dan tanpa kasih sayang membentuk Quero menjadi pribadi yang keras, pembangkang, cepat dewasa dan berani melakukan tindak-tindak kriminal ringan. Nasib membawanya terdampar pada sebuah lapas untuk anak-anak terlantar. Berharap mendapatkan kasih sayang dan penghidupan yang lebih baik, Quero justru harus menghadapi monster-monster baru yang memperkosanya secara fisik dan mental. Quero berhasil melarikan diri dan hidup dijalanan dengan tetap berusaha "mencari-cari" sosok ibu yang didambakan selama hidupnya. Kisah hidup Quero yang begitu pahit dan menyedihkan adalah akibat dari sikap orang tua yang tanpa pikir panjang memutuskan untuk memiliki anak tetapi kemudian tidak berani menerima tugas selanjutnya yaitu memberikan kasih sayang dan penghidupan yang layak untuk sang anak. Ibu Quero, Piedade (Maria Luisa Mendonca, yang kita kenal melalui Carandiru) adalah seorang perempuan penjaja seks. Melalui Violeta, Piadade mendapatkan banyak langganan dan tumpangan untuk hidup, sampai kemudian tanpa bisa dikontrol dia hamil tanpa tahu siapa ayah anaknya. Violeta berusaha untuk membuat Piadade mengugurkan kandungnya, tetapi dia memutuskan untuk melahirkan anak laki-lakinya yang kemudian dikenal sebagai Quero. Violeta meminta Piadade memberikan Quero pada panti asuhan supaya bisa kembali bekerja. Piadade menolak dan diusir oleh Violeta. Terjebak dengan keputusan yang dianggapnya salah, Piadade terlunta hidup dijalanan dengan Quero di dekapannya. Depresi tidak mengerti harus meneruskan hidup, Piadade mengantarkan Quero ke tangga rumah Violeta dan memutuskan mengakhiri hidupnya dengan menenggak kerosin. Inilah asal muasal nama Quero dari Kerosin.

Film ini menjadi contoh bagaimana beratnya hidup anak tanpa kasih sayang dari orang tuanya. Tidak semua orang yang dititipkan anak dengan ikhlas membesarkan anak yang bukan darah dagingnya sendiri.  Saat sebagian anak mendapatkan limpahan kasih sayang dari orang tuanya, anak-anak seperti ini harus berjuang untuk menemukan kasih sayang itu dan bahkan dijalanan. Apa yang bisa diharapkan dijalanan? Dengan segala keterbatasannya tentu anak-anak ini akan mudah bertemu dengan kekerasan, kejahatan atau mungkin bahkan kematian. Ada baiknya hal ini menjadi pemikiran dalam mengambil keputusan untuk memiliki anak. Tentu kita tidak ingin anak kita nanti berakhir perih dan sedih seperti hidup Quero yang tanpa kasih sayang orang tua.  

Bagaimana dengan tipe orang tua ketiga yang telah dipaparkan diatas? Tipe orang tua yang dengan penuh tanggung jawab membesarkan anaknya, berusaha memberikan yang terbaik dan membiarkan sang anak memilih dan menentukan hidup untuk kebahagiannya. XXY karya sutradara Lucia Puenzo dari Argentina memberikan sekelumit kisah tentang hal itu. Film ini mengambil tema kisah yang cukup sensitif. Alex (Ines Efron) terlihat seperti wanita remaja pada umumnya. Tetapi ternyata Alex sungguh istimewa, dalam usianya yang belum genap 20 tahun Alex harus menghadapi dilema tumbuh dengan dua kelamin/kelamin ganda. Dibesarkan sebagai anak perempuan, Alex justru semakin menunjukan sikap kelaki-lakiannya. Sang ibu Suli (Valeria Bertucelli) seperti sangat ingin memiliki anak perempuan tulen. Sedang ayahnya Kraken (Ricardo Darin) yang bekerja sebagai seorang Biologis lebih terlihat cuek dan santai, meskipun pada perkembangannya Kraken juga tampak dilema menghadapi anak gadis/laki-lakinya ini.

Tanpa diskusi yang panjang dengan Kraken, Suli memutuskan untuk meminta bantuan Ramiro (German Palacios) koleganya untuk datang dan memperkenalkannya pada Alex. Dengan maksud membentuk hubungan sedemikian rupa antara Alex dan Ramiro. Ramiro yang adalah seorang dokter bedah alat kelamin. Kraken tidak terlihat menantang keinginan sang istri. Hingga tanpa sengaja Kraken melihat hubungan badan antara Alex dengan Alvaro (Martin Piroyansky) anak laki-laki Ramiro yang ikut serta dengannya. Dilema buat Kraken kemudian adalah karena dia melihat Alex justru berperan sebagai laki-laki dalam hubungan badan tersebut. Kondisi ini tentu diperparah dengan hadirnya Ramiro yang secara psikologis sedang melakukan pendekatan psikologis sebelum proses operasi alat kelamin laki-laki Alex. Sampai kemudian sebuah tragedi pelecehan yang dilakukan oleh beberapa nelayan yang penasaran dengan rumour mengenai Alex, menjadi titik bagi Kraken menentukan sikap terhadap anaknya. Tidak ingin perkembangan fisik dan mental anaknya terganggu Kraken memutuskan untuk segera mengambil tindakan.
Kraken ditampilkan sebagai sosok orang tua yang bijak. Dilema berat yang dihadapinya tidak menjadi beban untuk kedekatannya dengan Alex. Kraken mencoba mendekati Alex semakin dalam dan dalam untuk lebih bisa memahami apa sebenarnya yang diinginkan anaknya. Tidak ingin mengambil keputusan terburu-buru mengikuti keinginan istrinya menentukan jalan hidup Alex sebagai perempuan, Kraken perlahan mulai memahami dunia anaknya. Kraken memutuskan untuk membiarkan Alex menentukan dan memilih jalan hidupnya sendiri, sampai dia yakin apa yang akan dipilihnya nanti. Keputusan tersebut sangat bijak karena dengan membiarkan Alex pada pilihannya tentu akan membebaskan Kraken dari rasa bersalah dikemudian hari jika dia yang menentukan Alex tumbuh sebagai perempuan atau laki-laki seperti yang diinginkan Suli.

XXY menjadi salah satu film terbaik bagaimana mestinya orang tua bersikap terhadap anak. Film yang rilis 2007 ini memberikan suguhan bijak hubungan orang tua dan anak dengan masalah yang cukup pelik dan sensitif. Masalah tersebut justru kemudian membimbing orang tua dan anak pada tahap saling memahami satu sama lain. Tidak ada paksaan bagi anak untuk menjalankan apa yang semestinya menurut orang tua adalah sesuatu yang harus dilakukan. Yang ada hanyalah fase dari sisi-sisi pemahaman pikiran masing-masing dengan pendekatan demi pendekatan untuk memberikan keputusan yang benar-benar terbaik untuk masa depan sang anak.
Kisah-kisah dari film di atas diharapkan bisa menjadi panutan. Tentu semua orang tua selalu ingin yang terbaik terhadap anaknya. Pastikan hal “terbaik” itu adalah hal yang benar-benar diinginkan oleh anak. Menjaga kasih sayang, menerima kehadiran anak dengan sukacita, memberikan pendidikan dan pemahaman akan kehidupan dan yang paling utama sekali adalah menjaga komunikasi dengan anak untuk membantu memahami satu sama lain. Dari sebuah film Brasil produksi 2003, The Middle of the World, karakter Ramao, sang ayah berkata “A Son must respect his parents, but parents dont own their children. A Mother gives life, but she doesn’t own her children”

Keputusan untuk memiliki anak tentu adalah hal yang mulia. Karena kita berani menerima tugas mulia menerima titipan Tuhan. Dan hadirnya sebuah keluarga yang baik menjadi penting bagi tumbuh kembang anak. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan individu. Sejak kecil anak mestinya tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga. Dalam hal ini peranan orang tua menjadi amat sentral dan sangat besar pengaruhnya bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara langsung dan tidak langsung. 

Kamis, 26 Mei 2011

Brazilian Cinema History

1896 Dalam waktu satu tahun percobaan pertama Lumière's Brothers di Paris pada tahun 1896, mesin sinematografi muncul di Rio de Janeiro.


1908 
Sepuluh tahun kemudian, Rio de Janeiro mendirikan 22 bioskop dan film fitur pertama Brasil, "The Stranglers" oleh Antônio Leal. Sejak saat itu industri film Brasil membuat kemajuan yang mantap. 


1930 

Pada tahun 1930, masih era film bisu di Brasil, landmark film Mario Peixoto's "Border" (Limite) dibuat. Film ini adalah karya surealistik tentang bagaimana kehidupan dan konspirasi terjadi. 

1933 
Pada 1933 Cinédia diproduksi "Voice of Carnaval" film pertama Carmen Miranda. Film ini dengan ciri khas "chanchada" yang mendominasi bioskop Brasil selama bertahun-tahun. Chanchadas adalah komedi slapstick biasanya bergaya musikal karena selalu banyak lagu-lagu dan musik-musik. 
Gangga Bruta (Gangue Rough) oleh Humberto Mauro. Sebuah karya klasik oleh sutradara perintis dari kota kecil Cataguases di Negara Bagian Minas Gerais, utara Rio de Janeiro.


Akhir tahun 1940-an 
Pada akhir 1940-an film-film Brasil telah menjadi sebuah industri. The Vera Cruz Perusahaan Film didirikan di São Paulo untuk menghasilkan film-film yang berkualitas internasional. Dengan menyewa teknisi dari luar negeri seperti dari Eropa. Alberto Cavalcanti, salah seorang pembuat film Brasil dengan reputasi internasional.


1953 
The Vera Cruz Perusahaan Film menghasilkan beberapa film penting, termasuk epik "The Robbers" (O Cangaceiro) dengan Lima Barreto yang memenangkan "Best Adventure Film dan Original Score di Cannes Film Festival tahun itu.



The Vera Cruz juga menghasilkan Amei um Bicheiro oleh Jorge Ileli adalah kisah cinta dari sebuah kehidupan sederhana di Rio. 

1954 
The Vera Cruz Perusahaan Film tertutup. 


1955 
Pada 1950-an, sebuah gerakan radikal mengubah cara pempuatan film di Brasil. Pada tahun 1955 film Rio 100 Degresss F (Rio 40 Graus) dari sutradara Nelson Pereira dos Santos digunakan teknik pembuatan film bergaya neorealisme dari Italia. Dia menggunakan orang biasa sebagai aktor film, dengan anggaran pembuatan seminimal mungkin.



1961 
Luiz Carlos Barreto dianggap sebagai ayah dari gerakan novo bioskop. Ia dilahirkan di Sobral, negara bagian Ceará pada tahun 1928 dan pindah ke Rio pada tahun 1947 sebagai fotografer dan reporter untuk O Cruzeiro, majalah terkemuka Brazil pada waktu itu. Dia menikahi istrinya, Lucy, tahun 1954. 

Luiz Carlos mulai membuat film tahun 1961 sebagai penulis naskah-co dan co-producer Assalto ao Trem Pagador (The Pay Train Robbery) yang disutradarai oleh Roberto Farias, film ini sangat sukses pada peredarannya saat itu. Film ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi tentang polisi di Rio. Bersama Nelson Pereira dos Santos, Glauber Rocha, dan Diegues Caca, Luis Carlos disebut sebagai pembuat film-film terbaik Brasil era ini. 

1962 
Pada saat ini novo cinema sedang berhadapan dengan tema yang berkaitan dengan masalah nasional yang akut, dari konflik di daerah pedesaan hingga masalah-masalah kehidupan manusia di kota-kota besar, serta film-film yang diadaptasi dari novel-novel terkenal. O Pagador de Promessas 
(The Given Word) karya sutradara dan juga aktor Anselmo Duarte. Film berhasil mendapatkan penghargaan Palm d'Or Cannes 1962, Special Jury Prize dari Cartagena Film Festival 1962, penghargaan Golden Gate Awards untuk best film dan best original score dari San Francisco International Film Festival 1962 dan menjadi film Brazil pertama yang mendapatkan nominasi oscar untuk film berbahasa asing terbaik pada Oscar 1963.



1963 
Vidas Secas (Barron Lives) oleh Nelson Pereira dos Santos dianggap oleh beberapa kritikus sebagai Brasil film terbaik yang pernah dibuat. Ini adalah kisah kemiskinan dan putus asa dengan latar belakang di timur laut Brazil yang panas dan gersang. 
"God and Devil in the Land of the Sun" (Deus eo Diabo na Terra do Sol) oleh sutradara Glauber Rocha bercerita dengan cara alegori pada fanatisme agama dan politik juga dengan latar belakang timur laut Brasil. 
"Empty Night" (Noite Vazia) film yang menggambarkan penderitaan orang-orang kesepian yang tinggal di São Paulo industri.


1966 
Todas as Mulheres dos Mundo (All Women in the World) oleh Domingos de Oliveira adalah komedi yang memamerkan bakat dan pesona Leila Diniz, yang kemudian meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat yang tragis. Untuk perannya dalam film ini Diniz menerima satu-satunya pengharghaan yang pernah diraihnya sepanjang karir filmnya yaitu special mention pada Brasilia Festival of Brasilian Cinema 1966.



Akhir tahun 1960-an 
Pada akhir tahun 1960-an, gerakan Tropicalist memegang tidak hanya bioskop, tetapi musik, teater, dan seni di Brasil. Ini menekankan kebutuhan untuk mengubah semua pengaruh asing menjadi produk nasional. Mengingat sensor pemerintah militer, bioskop Brasil harus berhati-hati sehingga mulai menggunakan bahasa-bahasa kiasan untuk banyak film. Film paling representatif dari gerakan Tropicalist adalah Macunaíma, oleh Joaquim Pedro de Andrade. Film ini adalah analisis metafora dari karakter Brasil seperti yang diungkapkan dalam kisah seorang India asli yang meninggalkan hutan Amazon dan pergi ke kota besar. 
Bersamaan dengan gerakan Tropicalists, muncul juga gerakan Marginal Cinema dari sekelompok sutradara muda Sao Paulo dan Rio de Janeiro. Di antara film-film yang diproduksi adalah "Rio Babel" (Rio Babilonia) oleh Neville d'Almeida, "He Killed Family and Go to the Movies" (Matou familia e foi ao Cimema) oleh Julio Bressane, dan "The Red Light Bandit" (O Bandido da Luz Vermelha) oleh Rogério Sganzerla. 


1970-an 
Pemerintah Brazil mendirikan EMBRAFILME pada tahun 1969, bertanggung jawab untuk membantu produksi film terutama pembiayaan dan distribusi di tahun 1970-an dan 1980-an. EMBRAFILME memberi ruang pada filmaker Brasil untuk lebih banyak menghasilkan film-film komersil dan juga untuk sutradara yang memiliki karya-karya idealis dan ambisius. 


1972 
Bruno Barreto lahir di Rio de Janeiro pada tahun 1955. Ia dibesarkan di tengah industri film Brasil melihat bagaimana ayah dan ibunya adalah dua pembuat film terkemuka, yaitu Luis Carlos dan Luci Barreto. Pada usia 11 (1966) ia membuat film 16mm. Pada usia 17 (1972) dia membuat film panjangnya yang pertama, Tati, The Girl yang diadaptasi dari tulisan karya Anibal Machado. 



1976 
Barreto kembali menghasilkan film yaitu Dona Flor and her Two Husbands (Dona Flor e seus Dois Maridos) dan berhasil sukses komersil dengan skala internasional. Berdasarkan novel oleh Jorge Amado, film berkisah tentang seorang janda yang hidup dengan cinta segitiga dengan suami kedua serta almarhum suaminya. Film ini mendapatkan nominasi film berbahasa asing terbaik Golden Globe 1979. Sonia Braga yang mengawali karirnya difilm ini mendapatkan nominasi most outstanding new comer dari BAFTA Inggris 1981.



Tahun 1980-an 
Di televisi tahun 1980-an mulai mempengaruhi dunia perfilman Brasil secara komersil. Banyak Bioskop yang bangkrut karena hiburan ditelevisi lebih menarik penonton, terutama di pedalaman. Tema politik menjadi isu yang semakin mempengaruhi cerita-cerita di film. 

1981
Pixote dari sutradara Hector Babenco menjadi salah satu yang paling dikenal dan menjadi salah satu film terbaik Brazil yang pernah dibuat. Ini adalah kisah yang mengerikan dari "penyalahgunaan" anak-anak di negara miskin. Film ini mempertanyakan tentang perlindungan anak-anak di Brazil. Film ini menerima penghargaan film terbaik dari Locarno dan Los Angeles International Film Festival 1981. Pixote juga mendapatkan nominasi film berbahasa asing terbaik Golden Globe 1982, Marilia Pera mendapatkan penghargaan Best Actress dari Boston Society Film Critics Awards dan National Society Film Critics Awards USA 1982. New York Film Critics Circle Awards memberikan film ini penghargaan film berbahasa asing terbaik. 



1981 
They're not Wear Black-Tie disutradarai oleh Leon Hirzman, dan menceritakan kisah mogok di kawasan industri Sao Paulo. 


1984 
Memories of Prison (Memorias do Cárcere), 1984, oleh Nelson Pereira dos Santos menceritakan kehidupan tahanan para politik. Film ini menerima FIPRESCI Prize Cannes Film Festival 1984 dan menerima penghargaan Poster Film terbaik dari Havana Film Festival 1984. 


1985 
Salah satu film yang paling menonjol tahun 1985 adalah The Jam Star (A Hora da Estrela), disutradarai oleh Susana Amaral. Ia bercerita tentang seorang gadis imigran dari timur laut di kota metropolis yang besar. Menerima penghargaan CICAE Award dan Silver Bear Awards Aktris Terbaik pada Marcelia Cortaxo pada Berlin International Film Festival 1985.



1986
Fernanda Torres yang merupakan anak dari aktris senior Fernanda Montenegro menjadi aktris Brazil pertama yang mendapatkan penghargaan Aktris Terbaik Festival Film Cannes 1986 untuk film karya Arnaldo Jabor, Love Me Forever or Never.


1987 
O romance da empregada yang disutradarai kembali oleh Barreto menjadi salah satu film terakhir yang diproduksi oleh EMBRAFIME, karena thn 1990 lembaga film Pemerintah ini ditutup. 


1990 
Bruno Barreto pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1990 setelah membuat delapan film di Brazil. Dia menikah dengan aktris Amy Irving. 


1995 
Saudara dari Bruno, Fabio Barreto menghasilkan "O Quatrilho" yang dibintangi oleh Gloria Pires. Film ini menjadi film Brasil kedua yang menerima nominasi Oscar untuk film berbahasa asing terbaik 1996. Film ini berkisah tentang sebuah permainan karyu dari para imigran Italia di Brazil. Film juga menerima penghargaan Best Actress, Art dan Music Score dari Havana Film Festival 1995.


1996 
Bruno Barreto membuat sebuah film berdasarkan buku oleh Fernando Gabeira yang menceritakan kisah penculikan seorang Duta Besar Amerika oleh sekelompok mahasiswa selama kediktatoran militer di Brasil pada 1968. Film ini menjadi film Brasil ketiga yang mendapatkan nominasi Oscar tahun 1997. 
Walter Salles tahun ini menghasilkan film perdananya yang berjudul Tetra Estrangeira (Foreign Land).
Carlota Joaquina dari sutradara wanita Carla Camurati menjadi film paling sukses medio 90an ini.  

1997 
A Ostra eo Vento (The Oyster and the Wind) oleh Walter Junior Lima menjadi salah film paling sukses tahun ini. Film ini menerima CinemAwenire dan nominasi Golden Lion Venice Film Festival 1997.  


1998 
Central do Brasil adalah puncak kesuksesan Cinema Brazil, karya Walter Salles ini setidaknya mengumpulkan 29 penghargaan dari seluruh dunia. Selain juga menerima nominasi oscar 1999 untuk film berbahasa asing terbaik (film Brazil keempat untuk oscar) dan Best Actress untuk Fernanda Montenegro. Fernanda menjadi pemain Brazil pertama dan satu-satunya dalam sejarah yang berhasil mendapatkan nominasi Oscar.  Film ini berkisah tentang Dora, dengan seorang wanita yang bekerja menipu sebagai penulis surat untuk para penderita buta huruf, sampai kemudian dia harus terjebak dengan Josue, anak dari salah satu kliennya.





Selanjutnya perfilman Brasil semakin memperlihatkan identitas dan cirikhas yang semakin baik dan maju. Setelah era milenium perkembangan semakin pesat dan kualitas dan kuantitas yang baik. Beberapa film yang sangat terkenal para era tahun 2000-an adalah: 


1. Me You Them (Andrucha Waddington)
2. A Dog's Will (Guel Araes)
3. Brainstorm (Laiz Bondansky)
4. To the Left of the Father (Luiz Fernanda Carvalho)
5. Behind the Sun (Walter Salles)
6. City of God (Fernando Meirelles)
7. Madame Sata (Karim Ainouz)
8. Carandiru (Hector Babenco)
9. The Man Who Copied (Jorge Furtado)
10. Mango Yellow (Claudio Assis)
11. Two Sons of Francisco (Breno Silveira)
12. House of Sand (Andrucha Waddington)
13. Cinema Aspirin and Vultures (Marcello Gomes)
14. Suely in the Sky (Karim Ainouz)
15. Zuzu Angel (Sergio Rezende)
16. Angel of the Sun (Rudy Langeman)
17. The Year My Parents Went On Vacation (Cao Hamburger)
18. Arido Movie (Lirio Ferreira)
19. The Elite Squad (Jose Padilha)
20. Mutum (Sandra Kogut)
21. Quero (Carlos Cortez)
22. Drained (Heitor Dhalia)
23. The Pope's Toilet (Cesar Charlone)
24. Estomago (Marco Jorge)
25. Linha de Passe (Walter Salles & Daniela Thomas)
26. My Name is not Johnny (Mauro Lima)
27. If Nothing Else Works Out (Jose Eduardo Belmonte)
28. Smoking Get in your Eyes (Anna Muylaert)
29. Chico Xavier (Daniel Filho)
30. The Best Thing in the World (Lais Bondansky)
31. The Elite Squad 2 (Jose Padilha)


reposting dari http://www.lusobraz.com/v_bra.htm