Sabtu, 09 Juli 2011

Buddha Collapse Out of Shame (Iran.2007)

Director: Hanna Makhmalbaf
Screenplay: Marzieh Makhmalbaf
Cast: 
Nikhbath Noruz - Baktay
Abbas Alijome - Abbas
Abdolali Hosenali - Taliban's Boy

“Buddha Collapse Out of Shame” berfokus pada kerusuhan sosial yang berlaku dalam masyarakat Afghanistan setelah berakhirnya rezim Taliban, khususnya, biasnya terhadap perempuan. Pengaruh rezim Taliban di masyarakat Afghanistan dengan kemiskinan karena infrastruktur dasar kehidupan yang sangat minim dan bagaimana perempuan menjadi warga kelas dua yang selalu ditindas. Dialog terakhir pada film ini menyiratkan bahwa perempuan Afghanistan harus mati untuk membebaskan diri dari penindasan dan ketidakadilan. Jika perempuan menggunakan lipstik, mereka dihukum dengan brutal, bahkan dirajam sampai mati, setelah diberi air minum sebelum mereka mati! Perempuan dipaksa untuk memakai burkha - untuk menutupi rambut mereka. Perempuan tidak diperbolehkan untuk menghadiri sekolah. Hal tersebut tersirat begitu jelas pada judul film ini, bahwa patung Buddha tidak hancur, namun runtuh karena malu pada kondisi Afghanistan.

"Buddha Collapsed Out of Shame" dibuka footage milisi Taliban dengan menggunakan dinamit menghancurkan patung Bamiyan Buddha abad ke 6. Penonton dibawa pada sebuah desa terpencil di Afghanistan, di mana ideologi Islam fundamentalis dan prakteknya menyusup ke setiap aspek kehidupan sehari-hari. Kamera merekam perjalanan seorang gadis kecil, bernama Baktay (Nikhbakht Noruz), yang ingin pergi ke sekolah untuk "belajar cerita lucu"

Film kemudian bergerak pada kehidupan masyarakat Afghanistan setelah berakhirnya rezim Taliban, tinggal di rumah gua di tebing gunung di lembah Bamiyan. Baktay adalah anak perempuan berusia sekitar 5 tahun yang tinggal bersama ibu dan adik bayinya. Ketika diminta ibunya untuk menjaga adiknya, Baktay yang dilarang bermain dengan Abbas (Abbas Alijome) tetangganya, justru tertarik dengan buku yang dibaca Abbas. Abbas menceritakan cerita lucu yang membuat Baktay terpesona dan ingin sekolah. Baktay kemudian mencari ibunya demi meminta uang untuk membeli buku, tetapi sia-sia karena dia tidak menemukan ibunya. Baktay kemudian berkeliling pasar menjual telor ayam untuk mendapatkan buku dan pensil. Dengan uang sepuluh dolar ia berhasil membeli hanya sebuah buku dan memutuskan untuk menggunakan lipstik ibunya sebagai alat tulis. Bersama mereka pergi sekolah tetapi guru di sekolah Abbas menyuruhnya pergi ke sekolah khusus perempuan di sisi lain sungai.

Sayangnya dalam perjalanan ke sekolah ia bertemu dengan segerombolan anak-anak bermain perang-perangan dan mengidentifikasi Baktay sebagai perempuan taliban. Tanpa kompromi mereka memutuskan melibatkan Baktay dalam permainan itu dan menyanderanya dengan beberapa anak perempuan lain di dalam Goa. Ketika Abbas datang untuk membantu Baktay, diapun harus terjebak ke dalam permainan anak-anak tersebut dan dianggap sebagai mata-mata Amerika. Demi terlepas dari permainan tersebut mereka harus berpura-pura mati. Permainan ini menjadi semacam olok-olok pada kehidupan masyarakat Afghanistan yang sebenarnya.

Sutradara Hanna Makhmalbaf belum genap berusia 20 tahun ketika mengarahkan film ini. Hanna adalah putri dari filmmaker ternama Iran, Mohsen Makhmalbaf, yang terkenal dengan Gabbeh (1996), The Silence (1998) dan Kandahar (2001). Dengan menggunakan treatment film-film dokumenter, Hanna memilih cara yang halus namun kuat untuk menggambarkan kehidupan di bawah rezim Taliban. Melalui mata Baktay,  penonton melihat bagaimana masyarakat sipil, terutama generasi muda, yang otaknya dicuci dan dimanipulasi oleh adat istiadat dan ritual tidak manusiawi. Bagaimana perempuan sebagai warga kelas dua menderita  atas kekejaman dan mati rasa oleh kebrutalan dalam hidup mereka. 

Hanna menggunakan pendekatan yang sama dengan film Life is Beautiful. Film ini dengan jelas menunjukkan keburukan manusia dewasa melalui sudut pandang mata anak-anak yang tak berdosa. Seluruh cerita terjadi di dunia mereka, dan kita hanya melihat orang dewasa dari pinggang ke bawah, seperti yang terlihat oleh anak-anak,dan Hanna berhasil memberikan refleksi dari kejahatan manusia dewasa tersebut mempengaruhi anak-anak dengan cara yang memalukan, seperti judulnya. Selain itu kesuksesan film ini terletak pada plot dan dialog terampil diantara karakter. Dialog dibuat dengan sangat sederhana dan mudah, tidak agresif, tidak pedih dan tidak dilebih-lebihkan. Namun penderitaan dan emosi setiap karakter dengan mudah terasa melalui adegan-adegan memilukan yang tanpa dramatisasi merayap mempengaruhi emosi penonton. Seperti ketika Baktay dipaksa mengikuti "permainan perang" oleh anak-anak lain dan harus berpura-pura mati dengan berbaring di tanah setelah Abbas berteriak "Mati, dan kamu akan bebas". Adegan ini terasa begitu memilukan mengingat pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa tidak ada ruang untuk individualisme, kebebasan dan integritas manusia di bawah rezim Taliban. Melalui  adegan “permainan perang” tersebut pesan moral film ini menjadi lebih mudah untuk disampaikan,

Adegan-adengan lain yang juga terasa memilukan adalah ketika Baktay dengan susah payah menjual 4 telur untuk mendapatkan buku, ketika 2 telurnya pecah karena tersenggol orang yang lewat Baktay berusaha meminta ganti rugi tetapi dia tidak mendapatkannya. Atau perhatikan juga adegan para gerombolan anak-anak yang merobek-robek dan membuat pesawat kertas dari buku yang dengan susah payah dibeli Baktay. Atau perhatikan juga adegan ketika Abbas harus terjebak ke dalam lumpur ketika berusaha membebaskan Baktay. Adegan-adegan tersebut diatas sebagian dari banyak sekali gambar-gambar memilukan tanpa dramatisasi berlebihan mengisi film ini.

Satu hal yang juga luar biasa adalah bagaimana Nikhbath dan Abbas yang memerankan Baktay dan Abbas bermain dengan sangat baik. Penonton berhasil dibuat tersentuh oleh kinerja brilian dari dua anak yang bukan aktor profesional ini. Film ini sangat pantas disejajarkan dengan film-film untuk jajaran cast yang jenius.

Film memberikan penonton gambaran bagaimana masyarakat sipil yang tidak bersalah harus menjadi korban dari kejahatan rezim yang mempengaruhi hidup mereka. Dominasi politik, kekuasaan dan perang membuat masyarakat ini membayar sesuatu yang tidak mereka minta dan harapkan. Membayar keegoisan rezim yang memerintahkan mereka untuk tunduk pada aturan-aturan yang kemudian semakin menurunkan taraf hidup mereka secara ekonomi, sosial dan budaya.  Meskipun kisah ini mengambil Afghanistan, sebuah negara yang telah menderita semua jenis konflik, namun ini adalah masalah yang terjadi di seluruh dunia. Terutama pada penyalahgunaan pemahaman rasisme, seksime dan fundamentalisme. Tidak seperti banyak film bertema anti-perang atau anti-terorisme, tidak ada darah yang ditumpahkan pada film ini, namun penonton dapat dengan mudah mendapatkan pemahaman penuh dari tingkat penyiksaan dan kekejaman di bawah rezim Taliban.

Buddha Collapse Out of Shame mendapatkan nominasi Best Film pada Asian Film Awards 2008 bersanding dengan Secret Sunshine (Korea Selatan), Lust Caution (China),  Even So I didn’t Do it (Jepang), The Sun also Rises (China) dan The Warlods (Hongkong).  Film ini juga meraih Special Jury Prize pada San Sebastian International Film Festival 2007 dan penghargaan Crystal Bell serta Peace Film Awards pada Berlin International Film Festival 2008.